23 May 2009

Keputusan: nekad(t)-tepat(d)






Merasa yakin, ternyata salah?!

Iseng, ujungnya serius?!
Ga pede, malah jadi?!
Amal, di anggap sombong?!
Baih hati, dituduh ada maunya?!
Suka anak kecil, tertuduh pedophil?!
Hemat, disangka kikir?!
Terbuka, dikesankan plin-plan?!
Keukeuh, katanya keras kepala?!
Mengaku dosa, siap di hukum, malah diampuni?!
Merasa benar, ternyata terjerat hukum?!

Pernah? Aku sedang.
Ya, kalian pasti pernah mengalaminya. Bahkan bisa jadi sering. Ya, aku juga.
Dalam kejadian apapun, dimanapun, kapanpun, ilustrasi diatas tak lepas dari yang namanya memutuskan. Sebagian orang akan ada yang menanggapi dengan positif, dan sebagiannya lagi (pasti) akan ada yang merespon negatif.

Dan biasanya keputusan ada ketika kita ‘akan mengalami’ dan bukan ‘sudah mengalami’. Artinya, keputusan selalu bersinggungan dengan hal yang sifatnya akan datang kemudian. Makanya tak heran, jika orang akan beranggapan macam-macam karena belum ada seorang pun yang pernah mengunjungi masa ‘akan’ itu. Yang ada hanyalah menilai berdasarkan dari pengalaman yang ‘sudah’. Adakah suatu ‘kesudahan’ seseorang bisa sama dengan yang lainnya? Berdasarkan ruang dan waktu, hanya sungging terkecut dan tersinis untuk orang yang berani menjawab “ada”.

Maka dari itu, hargai tiap keputusan yang siapapun ambil.
Maka dari itu, pikirkan keputusan yang akan diambil.
Maka dari itu, semoga kenekat(d)an yang terjadi bisa jadi ketepatan.
Maka dari itu, demi masa depan; putuskanlah. Karena nekat(d)-tepat(d) bisa jadi setipis shirathal mustaqim..

Wallahu ‘alam..

13 May 2009

Need-want.





Selamat (apapun) untuk kalian yang sedang dilanda keselamatan (apapun) saat ini.
Marilah kita sejenak menundukkan kepala dan menafakuri suatu hal yang (angger!) sering dianggap nothing, tapi ternyata berefek everything. Suatu hal yang terkesan biasa namun ternyata berdampak luar biasa. *hey, lo jangan dulu berkomentar,’ya itu tergantung orang yang memandangnya dong, bo..’. Tunggu dulu. Komentar kayak gitu selalu bikin suatu harus berhenti dan haram diteruskan*. Biarkanlah dulu aku membuihkan mulut dan mengeringkan kerongkongan.

Sebelum aku membahas tentang judul di atas, ijinkan aku mengutip salah satu quote keren nan dahsyat yang datang dari sms seorang teman beberapa bulan lalu yang mengomentari nothing-everything menurut versinya yang masih aku inget;
“when I become nothing, I’m connected to everything”
Quote tersebut memang bukan apa yang ingin aku bagikan disini, tapi aku hanya ingin mengilas dan mengulas tentang sesuatu yang nothing itu bisa everything *plis, med. Jangan muter-muter deh!*.

Oke, mari sini. Aku ingin membagikan sesuatu yang berhubungan dengan judul diatas. Tapi stop dulu pikiran kalian tentang bahasan yang akan menyangkut ke arah kapitalisme dan ekonomi. Tentang konsumerisme. Tentang budaya kekinian. Tentang fenomena sosial… Ini semua tentang aku dan apa yang sedang aku rasakan; tentang curhatku. Meski memang tak bisa dipungkiri segala ‘tentang’ yang ada di pikiran kalian bisa disangkutpautkan juga. *piss ?*
Tentang aku yang merasa utuh hanya dengan membaca sms ‘aku BUTUH (need) kamu’ dan bukan ‘aku INGIN (want) kamu’. Sms dengan segudang makna luhur yang (selalu) akan bikin aku merinding membacanya. *guys, bulu kudukku mulai merinding nih. Sumpah!*

Sebut aku lebai jika kalian menganggap aku sedang dalam kepurapuraan. Anggap saja aku mendramatisir jika kalian pikir aku adalah pemimpi tanpa pondasi. Tapi perlu kalian tahu, aku menuliskan ini setelah aku mengalami dan merasakannya. Dan sekarang aku hanya sedang mencoba sedikit memaknai apa yang teralami. Memaknai tentang apa itu ‘cukup’ dan ‘kurang’, apa itu ‘proporsional’ dan ‘ketimpangan’. Aku hanya berusaha menjadi pribadi yang (b)utuh. No more no less.

Sungguh, ‘ada’nya tulisan ini hanyalah sebatas ‘proses’ku untuk ‘menjadi’ sebelum aku mati. Kalau pun harus ada yang aku inginkan saat ini, aku hanya ingin butuh. Semoga kebutuhan terbaik yang akan aku terima.

Akhirul kolom;
Puji tuhan yang telah menciptakan kata dan menghadirkan makna.
Terimakasih tuhan yang telah menciptakan si pengirim sms.
Maafkan aku tuhan, si (yang merasa) serpih yang selalu bermimpi utuh. Si (yang sebenarnya) utuh yang masih sebatas serpih.


can you feel the love tonight?






There's a calm surrender to the rush of day
When the heat of a rolling wind can be turned away
An enchanted moment, and it sees me through
It's enough for this restless warrior just to be with you

And can you feel the love tonight
It is where we are
It's enough for this wide-eyed wanderer
That we got this far
And can you feel the love tonight
How it's laid to rest
It's enough to make kings and vagabonds
Believe the very best

There's a time for everyone if they only learn
That the twisting kaleidoscope moves us all in turn
There's a rhyme and reason to the wild outdoors
When the heart of this star-crossed voyager beats in time with yours


Lirik itu begitu 'tak sopan' menjitak ujung pikiranku. bertingkah seperti bocah; haha tanpa prasangka, hikshiks minim licik. Jujur, tak kumengerti juga lirik itu secara keseluruhan. Tapi, ada semacam instrumen pendukung suci yang bercampur 'sedemikian rupa' dengan dosa lumrah. Sebelumnya beradu terik antara beda juga rasa. Bersama persepsi, idealitas dan kompromi, ternyata dia muncul juga.

“Aku bukan pencemburu. Aku hanya sedikit ketakutan aja dengan sifatmu yang ‘ga enakan’ itu”. Katamu di sela gelisah terbalut hening.

“Itu bisa jadi memang sifatku. Aku tidak bisa memungkirinya. Tapi tenang aja, selain sifat, aku juga punya sikap, ko. Dan sikap itu yang akan menjadi penyeimbang dari segala kealpaan dan kekurangan sifatku”. Balasku secepat mungkin. Berusaha mencari cara dari kepolosan bicara yang salah.

“Tapi kan kecenderunganmu itu sangat kuat. Apalagi kamu pernah punya pengalaman masa lalu yang lumayan berpengaruh. Belum lagi gossip, perlakuan dan kelakuanmu”. Katamu lagi.

Aku tertawa spontan. Yang dianggapkan sebagai ketakutannya samasekali tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Bahkan terkesan absurd dan kecil kemungkinannya meskipun mengacu pada sifat dasarku itu.

“Aku memang nyeplos dan spontan. Tapi minimalnya, mohon anggap itu sebuah kejujuran meskipun bisa jadi selebihnya adalah kepolosan dan ketololanku. Maaf kalo itu semua bisa bikin perasaan kamu terganggu”.

“Ga papa. Aku hanya sedikit ketakutan aja. Kamu bisa telpon aku lagi ga?”


Lalu dalam hitungan menit. Suasana sudah mulai mencair lagi. Sesekali ada hal yang cukup nyerempet dan curam. Tapi selebihnya, dinikmati aja. Karena ku yakin, cinta bukan ‘a free lunch for God’. Bukan gratisan. Dibutuhkan cara juga usaha disana.

Elthon John mengingatkanku akan kejadian itu. Entah kamu..