06 June 2009

...is






minoritas adalah terpilih dan mayoritas adalah pemenang.

ini tentang 'is'; yang beberapa hari ini begitu melekat. membuat frustasi bercampur syukur, senyum melarut sedih.

ini tentang 'is'; ketika hari hanya didominasi siang karena malam hanya menyediakan 20% untuk disinggahi. memaksa belalak menyalak sayu. menyisakan kepulan asap dan dedak kapal api.

ini tentang 'is'; ketika perbedaan berpendapat menjadi sebuah dinamika yang harus dinikmati. minoritas menyeruduk kepermukaan dan menguapi segalanya, lalu sedikit memburamkan.

ini tentang 'is'; rasa sayang menjurus khawatir, dukungan terasa ancaman, kejujuran yang memang pahit adanya.

ini tentang 'is'; ketika niat luhur terhadang realita, sulit, berat, pesim'is'. juga kilatan optim'is' yang sulit untuk tidak dikatakan nars'is'.

ini bukan tentang 'menjadi' yang masih didepan dan 'ada' yang sudah tertinggal. ini tentang 'proses' yang ada di tengahnya sebagai satu-satunya jembatan. yang tentunya butuh untuk selalu dikuatkan seburuk apapun materialnya, bukan untuk diruntuhkan.

ini tentang keyakinan yang selalu naik-turun. tentang keimanan yang ada kalanya bertambah-berkurang. ini tentang harga yang butuh penghargaan untuk dihargai, bukan dihakimi. ‘alaisallaahu bi ahkamil haakimiin (bukankah tuhan sebagai hakim yang paling adil?)

ya, ini semua tentang ‘is’ yang tak akan pernah selesai dibicarakan dan didebatkan; optim’is’, relist’is’, pesim’is’, dinam’is’, ritm’is’, parod’is’, trag’is’, iron’is’, masokh’is’, dilemat’is’, puit’is’, man’is’, bla.. bla.. bla.. ’is’.

23 May 2009

Keputusan: nekad(t)-tepat(d)






Merasa yakin, ternyata salah?!

Iseng, ujungnya serius?!
Ga pede, malah jadi?!
Amal, di anggap sombong?!
Baih hati, dituduh ada maunya?!
Suka anak kecil, tertuduh pedophil?!
Hemat, disangka kikir?!
Terbuka, dikesankan plin-plan?!
Keukeuh, katanya keras kepala?!
Mengaku dosa, siap di hukum, malah diampuni?!
Merasa benar, ternyata terjerat hukum?!

Pernah? Aku sedang.
Ya, kalian pasti pernah mengalaminya. Bahkan bisa jadi sering. Ya, aku juga.
Dalam kejadian apapun, dimanapun, kapanpun, ilustrasi diatas tak lepas dari yang namanya memutuskan. Sebagian orang akan ada yang menanggapi dengan positif, dan sebagiannya lagi (pasti) akan ada yang merespon negatif.

Dan biasanya keputusan ada ketika kita ‘akan mengalami’ dan bukan ‘sudah mengalami’. Artinya, keputusan selalu bersinggungan dengan hal yang sifatnya akan datang kemudian. Makanya tak heran, jika orang akan beranggapan macam-macam karena belum ada seorang pun yang pernah mengunjungi masa ‘akan’ itu. Yang ada hanyalah menilai berdasarkan dari pengalaman yang ‘sudah’. Adakah suatu ‘kesudahan’ seseorang bisa sama dengan yang lainnya? Berdasarkan ruang dan waktu, hanya sungging terkecut dan tersinis untuk orang yang berani menjawab “ada”.

Maka dari itu, hargai tiap keputusan yang siapapun ambil.
Maka dari itu, pikirkan keputusan yang akan diambil.
Maka dari itu, semoga kenekat(d)an yang terjadi bisa jadi ketepatan.
Maka dari itu, demi masa depan; putuskanlah. Karena nekat(d)-tepat(d) bisa jadi setipis shirathal mustaqim..

Wallahu ‘alam..

13 May 2009

Need-want.





Selamat (apapun) untuk kalian yang sedang dilanda keselamatan (apapun) saat ini.
Marilah kita sejenak menundukkan kepala dan menafakuri suatu hal yang (angger!) sering dianggap nothing, tapi ternyata berefek everything. Suatu hal yang terkesan biasa namun ternyata berdampak luar biasa. *hey, lo jangan dulu berkomentar,’ya itu tergantung orang yang memandangnya dong, bo..’. Tunggu dulu. Komentar kayak gitu selalu bikin suatu harus berhenti dan haram diteruskan*. Biarkanlah dulu aku membuihkan mulut dan mengeringkan kerongkongan.

Sebelum aku membahas tentang judul di atas, ijinkan aku mengutip salah satu quote keren nan dahsyat yang datang dari sms seorang teman beberapa bulan lalu yang mengomentari nothing-everything menurut versinya yang masih aku inget;
“when I become nothing, I’m connected to everything”
Quote tersebut memang bukan apa yang ingin aku bagikan disini, tapi aku hanya ingin mengilas dan mengulas tentang sesuatu yang nothing itu bisa everything *plis, med. Jangan muter-muter deh!*.

Oke, mari sini. Aku ingin membagikan sesuatu yang berhubungan dengan judul diatas. Tapi stop dulu pikiran kalian tentang bahasan yang akan menyangkut ke arah kapitalisme dan ekonomi. Tentang konsumerisme. Tentang budaya kekinian. Tentang fenomena sosial… Ini semua tentang aku dan apa yang sedang aku rasakan; tentang curhatku. Meski memang tak bisa dipungkiri segala ‘tentang’ yang ada di pikiran kalian bisa disangkutpautkan juga. *piss ?*
Tentang aku yang merasa utuh hanya dengan membaca sms ‘aku BUTUH (need) kamu’ dan bukan ‘aku INGIN (want) kamu’. Sms dengan segudang makna luhur yang (selalu) akan bikin aku merinding membacanya. *guys, bulu kudukku mulai merinding nih. Sumpah!*

Sebut aku lebai jika kalian menganggap aku sedang dalam kepurapuraan. Anggap saja aku mendramatisir jika kalian pikir aku adalah pemimpi tanpa pondasi. Tapi perlu kalian tahu, aku menuliskan ini setelah aku mengalami dan merasakannya. Dan sekarang aku hanya sedang mencoba sedikit memaknai apa yang teralami. Memaknai tentang apa itu ‘cukup’ dan ‘kurang’, apa itu ‘proporsional’ dan ‘ketimpangan’. Aku hanya berusaha menjadi pribadi yang (b)utuh. No more no less.

Sungguh, ‘ada’nya tulisan ini hanyalah sebatas ‘proses’ku untuk ‘menjadi’ sebelum aku mati. Kalau pun harus ada yang aku inginkan saat ini, aku hanya ingin butuh. Semoga kebutuhan terbaik yang akan aku terima.

Akhirul kolom;
Puji tuhan yang telah menciptakan kata dan menghadirkan makna.
Terimakasih tuhan yang telah menciptakan si pengirim sms.
Maafkan aku tuhan, si (yang merasa) serpih yang selalu bermimpi utuh. Si (yang sebenarnya) utuh yang masih sebatas serpih.


can you feel the love tonight?






There's a calm surrender to the rush of day
When the heat of a rolling wind can be turned away
An enchanted moment, and it sees me through
It's enough for this restless warrior just to be with you

And can you feel the love tonight
It is where we are
It's enough for this wide-eyed wanderer
That we got this far
And can you feel the love tonight
How it's laid to rest
It's enough to make kings and vagabonds
Believe the very best

There's a time for everyone if they only learn
That the twisting kaleidoscope moves us all in turn
There's a rhyme and reason to the wild outdoors
When the heart of this star-crossed voyager beats in time with yours


Lirik itu begitu 'tak sopan' menjitak ujung pikiranku. bertingkah seperti bocah; haha tanpa prasangka, hikshiks minim licik. Jujur, tak kumengerti juga lirik itu secara keseluruhan. Tapi, ada semacam instrumen pendukung suci yang bercampur 'sedemikian rupa' dengan dosa lumrah. Sebelumnya beradu terik antara beda juga rasa. Bersama persepsi, idealitas dan kompromi, ternyata dia muncul juga.

“Aku bukan pencemburu. Aku hanya sedikit ketakutan aja dengan sifatmu yang ‘ga enakan’ itu”. Katamu di sela gelisah terbalut hening.

“Itu bisa jadi memang sifatku. Aku tidak bisa memungkirinya. Tapi tenang aja, selain sifat, aku juga punya sikap, ko. Dan sikap itu yang akan menjadi penyeimbang dari segala kealpaan dan kekurangan sifatku”. Balasku secepat mungkin. Berusaha mencari cara dari kepolosan bicara yang salah.

“Tapi kan kecenderunganmu itu sangat kuat. Apalagi kamu pernah punya pengalaman masa lalu yang lumayan berpengaruh. Belum lagi gossip, perlakuan dan kelakuanmu”. Katamu lagi.

Aku tertawa spontan. Yang dianggapkan sebagai ketakutannya samasekali tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Bahkan terkesan absurd dan kecil kemungkinannya meskipun mengacu pada sifat dasarku itu.

“Aku memang nyeplos dan spontan. Tapi minimalnya, mohon anggap itu sebuah kejujuran meskipun bisa jadi selebihnya adalah kepolosan dan ketololanku. Maaf kalo itu semua bisa bikin perasaan kamu terganggu”.

“Ga papa. Aku hanya sedikit ketakutan aja. Kamu bisa telpon aku lagi ga?”


Lalu dalam hitungan menit. Suasana sudah mulai mencair lagi. Sesekali ada hal yang cukup nyerempet dan curam. Tapi selebihnya, dinikmati aja. Karena ku yakin, cinta bukan ‘a free lunch for God’. Bukan gratisan. Dibutuhkan cara juga usaha disana.

Elthon John mengingatkanku akan kejadian itu. Entah kamu..

01 March 2009

mulailah

Apapun yang dapat dilakukan atau dimimpikan untuk melakukannya, mulailah! Keberanian mempunyai kecerdasan, kekuatan dan keajaiban didalamnya. (Goethe).

Mulailah. Karena terus menerus memelihara ketakutan adalah sebuah bencana yang terencana. Banyak belajarlah kepada anak kecil yang masih polos tentang menghilangkan rasa takut. Karena memori dan kedewasaan yang dialamilah yang menyebabkan suatu ketakutan akan yang belum pasti berdiam.

Melangkahlah. Semua orang tahu, langkah pertama adalah penentu dari seluruh langkah yang akan dihadapi. Sebagaimana bayi yang baru bisa melangkah, tak pernah ada yang langsung berjalan atau berlari. Kesiapanlah yang perlu kita tentukan kapan datangnya.

Berproseslah. Karena selama kita masih mengehembuskan nafas, maka tak akan pernah kita temui hasil. Proses dan hasil seperi barat dan timur. Sehebat apa mencari barat, selalu timur yang didapat.

Bersabarlah. Karena meski kepahitan yang didapat, akibatnya akan sangat indah dan mempesona. Metamorfosis (juga) merupakan keharusan bagi manusia demi mengalami keindahan.

Majulah. Karena segala hal yang dianggap gagal adalah cerminan semata. Dalam melaju, tak akan mungkin kita hanya melihat spion masa lalu saja. Jalan panjang masa depan lebih penting untuk kita jalani dan perhatikan.

Segeralah. Dan rasakan keajaiban yang terjadi!
Thanxlovesorry.embrace..

24 February 2009

berbagi

Kebahagiaan jika dibagi akan bertambah. Kesusahan jika dibagi akan berkurang. Berbagilah sebelum menyesal dan ketinggalan.
Ini sering terjadi dan sering aku lakukan. Efeknya sangat dahsyat dan mencengangkan! Sekali waktu anda mesti mencoba dan merasakan khasiatnya.

menyurati tulis

Hai.

Tak perlu lah mengucapkan apa kabar untuk memulai tulisan ini. Cukup sapaan ‘hai’ riang yang aku sajikan. Toh itu lebih kedengaran tulus dari pada ucapan ‘kamu apa kabar?’ yang terkesan formalitas dan basi. Karena aku pribadi lebih sering tak peduli dan kurang empati apabila mendengar jawaban dari ucapan itu. Mending kalo memang jawabannya jujur. Toh, kebanyakan munafik juga. Makanya, stop bikin orang tergiur untuk berbuat dosa yang tidak terasa demi sopan santun.

Ada yang lagi rame sekarang. Di sini. Banyak sekali malah. Dari mulai banner pembuah kotor kota, motor yang makin banyak dan murah, anak kecil yang makin pintar, teknologi yang kian canggih dan sekian banyak kehebohan lain yang dulu tak pernah diprediksi sebelumnya. Selain kemudahan yang didapat, efek yang ditimbulkannya juga tak sedikit; kemunduran moral, matang sebelum waktunya, eksistensi yang penting. Bukan esensi.

Tapi sudahlah, aku tak mau banyak membahas masalah itu. Aku hanya ingin menuangkan saja bebagai ki(e)sah padamu saat ini. Tentangku yang bisa jadi berkaitan juga dengan segala macam yang kusebutkan diatas.

Jika dihitung dengan ukuran waktu, mungkin telah ratusan hari aku kehilanganmu. Bertahun kita seperti terpisah. Jika pun bertemu hanya sebatas basa-basi, atau malah berekspektasi. Tanpa pernah bisa tahu kenapa itu terjadi. Dan memang cenderung tidak berusaha untuk mencari tahu.

Tapi sekarang, aku kembali lagi bersua denganmu. Menjejali telingamu dengan berupa suara.

Akan sangat sulit menceritakan secara spesifik satu persatu apa saja yang ingin aku sampaikan. Namun kalaupun harus ada perwakilan atas kejadian ini; aku merasa bangga dan haru bisa bertemu denganmu lagi. Saling menularkan hangat dalam dekap. Berbagi riang lewat tatap. Menumbuhkan bahagia dalam hening.

Ya. Aku menemuimu saat ini setelah sekian lama aku berlaga tak memubutuhkanmu dan merasa biasa-biasa saja.

Terimakasih untuk selalu menerimaku kembali, menulis..

tatasosial

salam..

ahem. ini mah hanya sebatas pola baru aja dari komunikasi antara kita. heu.. selain karena penasaran juga karena jarang aja ada balasan yang signifikan dari beberapa surat (aku lebih senang menyebutnya begitu daripada menyebutnya dengan 'e-mail') yang pernah kukirim.

selain alasan diatas, ada beberapa alasan yang kalo itu dibicarakan melalui oral, akan berakhir dengan obrolan selintas aja dan kurang bisa 'dipelajari' lagi setelahnya. atau, bisa juga sebagai penunjukkan sisi karakter lain yang kata sebagian orang bisa dilihat dari gaya cara penulisannya (da karakter di komunikasi oral, kebanyakannya cileupeung wae -baca: aku). jadi, siapa tahu saja kalo lewat tuisan mah bisa lebih efektif dan serius.

jadi mari kita coba aja.

dalam kacamata ‘berbatastipis’, antara banyak ide dan mentok, antara brilian atau tolol, semua seperti sama saja. di satu sisi sepertinya harus dilakukan, disisi lain ngapain juga dilakukan. pemikiran tentang itu selalu melendir dan mengental dalam pikiranku. hingga tak jarang malah membuatku jadi going no where and feel everythingnothing, nothingeverything. stuck, stagnan, statis.. got no gut; psuedofine!

memang, kalo pun harus ada (dan menganggap penting) track record dan portofolio, kebanyakan ‘prestasi’ (sengaja aku pake tanda petik di kata itu karena memang tidak terarsipkan) yang pernah aku jalani adalah berbau sosial. dalam bentuk organisasi [irm, sabar aja, labda, kasih], komunitas [>>retas, if, tuesday ceremony, after school show, peng(k)ajian ayat kauniah], atau pun pribadi [tangankiribodobodo, virusvipe, hhrrkknews]. tak ada yang wah dari sudut pandang kebanyakan. no profit, no famous and no future.. sekali lagi, itu dari kacamata kebanyakan yang sudah terninabobokan oleh pelukan kapital.

sebagian orang bilang, bekal bukan hanya kapital, kontribusi tidak selalu kompensasi. aku mengamininya. merasa yakin dengan apa yang sedang dilakukan dan bersyukur dengan apa yang telah dilakukan.

tapi aku tidak begitu saja yakin, ternyata. rayuan dari luar yang menuntut prestasi (yang ini tanpa kutip karena memang jelas) tidak bisa terelakkan. orang tua, keluarga, teman, dan bahkan sebagian jiwa (yang tak lepas dari peninaboboan) mampu membuatku tisuksuk tidungdung. pushing mind, body and soul becoming a highlander.

tak heran jika akhirnya seperti apa yang dipaparkan diatas. psuedofine. looking fine on unfine. bersembunyi dengan dalih; ingin biasa (yang) luar biasa.

entah ini suatu hal yang penting atau bukan, tepat atau melenceng juga benar atau salah.. tapi aku hanya mau coba 'mempertanyakan' kembali apa yang kemarin kamu 'ajakkan'; tentang acara bakti masyarakat atau proyek sosial. maaf sebelumnya kalo kemarin sempat 'mempertanyakan' hal yang kurang penting dan kacrut. barangkali hanya bentuk ketakjuban yang bermuka skeptik dan sinis. padahal, jauh didalam jiwa, aku seperti menemukan oase. seperti terbangunkan.
maafkan aku yang tertalu rindu dendam dengan hal seperti itu.

………

wah, jadi kamana-mana ieu teh. tapi ga bakalan lebih ngerti kalo ga ada prolog terlebih dahulu. intinya, aku sangat terbuka dengan ide apapun. apalagi yang berhubungan dengan sosial –yang katanya salah satu jalan dari dua jalan yang ada yang dikasih tuhan di bumi ini.

sok, hayu, kamu punya ide apa? barangkali aku bisa bantu dan ‘memperumitnya’. barangkali memang cocok dengan berapa ide yang sempat aku pikirkan. mari, kita saling membicarakan ide yang sangat jarang didekati oleh orang-orang kita.

sakitu heula.

wassalam..

04 February 2009

momen

Bandung, pertengahan januari 2009

Kuku. Lagu. Badminton. Gondok. Jalan kaki.

Kata diatas adalah beberapa kata yang menjadi pikiranku hari ini berdarsarkan urutan waktu. Influence aneh yang teralami. Hanya saja entah bagaimana mengalurkan cerita hari ini. Sebagai tameng, maka dalil yang selalu kugunakan adalah: “don’t think, just write!”

...

Lagu mamapu mengingatkan kita akan sesuatu. Nama, kejadian, tempat. Momen. Meski lagu itu dinyanyikan oleh pengamen, tak ayal pikiranku langsung mengingatkan momen tertentu dari lagu tertentu. Sebodoh apapun lagu itu, penggalan liriknya kukutip juga untuk dijadikan kuis kecil-kecilan untuk seseorang melalui sms:“-…. Penggalan lirik…- tahu judul dari penggalan tersebut?” Begitu kira-kira kuis itu.

Momen. Sebetulnya judul kali ini bisa diwakili dengan kata itu. Semua ‘keyword’ diatas mampu dan layak untuk dirangkul sang momen. Tapi tetap saja, aku hanya terus menulis.

Aku bukan pemerhati dan penyuka lagu fanatic. Apalagi dengan lagu dari band kebanyakan yang lagi sering ditampilkan televisi yang sering aku merasa aku bodoh sendiri *hey, bukankah itu berarti aku memperhatikan?!*.
Lirik yang jauh dari mendidik, irama yang nyaris sama dari band satu dengan yang lain, tema yang selalu itu-itu saja.

Temanku yang musisi marginal pernah berseloroh;
“itu karena mayoritas penduduk kita hampeir 80% kurang pendidikan jika tak mau dikatakan bodoh. Maka jangan heran apapun yang disajikan, meski memang obyektif dan demokratis, ga bakal jauh dari cerminan mayoritas. Yang penting pasar, med!”. Sekali lagi, aku biasanya tak peduli. Tapi untuk kasus ini, tak ayal aku mengernyitkah dahi juga. Memikirkan hubungan: obyektifitas dengan pendidikan, dengan demokrasi, dengan pasar, dengan musik.
Lalu diam-diam aku mengiyakan dalam kulum.

Tapi sefrontal apapun, tetap saja, selalu ada sisi kompromis dengan mayoritas.
Membenarkan sesuatu yang dianggap kurang benar sebelumnya. Maka sebutlah itu suatu kebijakan nan kompromis.

Ijinkan aku mengutip lirik dari sebuah lagu;

Baiknya kau melepas diriku

Yang tak pernah bisa mencintaimu
Seharusnya tak kusimpan iba ini
Yang membuatmu terluka
...
Maafkanlah diriku
Yang tak pernah bisa mencintaimu
Maafkanlah diriku
Semoga kau mengerti.

Lagu Naff. Judul aslinya aku tidak tahu. Sangat biasa. Begitu standar. Tema kebanyakan (dan membodohkan versi temanku!). Tapi momen yang dihadirkan oleh lagu itu tak dapat tergantikan oleh apapun. Kejadian sekali seumur hidup. Undeniable!
Jika bisa memilih, inginnya bukan lagu itu yang mengiringi momen tersebut. Bayangannya josh groban atau nat king cole atau norah jones atau malah musik orkestrasi-nya enigma. Tapi...

Ya, andai bisa memilih..


>> memperingati seorang dede hartati. aku tak akan pernah bisa menebus momen itu.

lanturan jari


Gatal. Jari ini selalu meminta ditekankan pada tuts-tuts papan ketik yang pasrah.
Dengan segala entah, bercecerlah..


Reuni.
Isu reuni angkatan yang udah sepuluh tahun resmi menjadi alumni mewacana.
Kumpulan (reuni) terakhir memang terjadi tahun 2003, dan itu berarti lima tahun yang lalu.
Entah seperti apa jika wacana ini bisa terwujud. Entah seperti apa acara yang akan diselenggarakan, diikuti berapa banyak alumni, seperti apa mereka, suami mereka, istri mereka, anak mereka... entah seperti apa memori masa lalu yang akan diperingati kembali nanti (di masa depan?).
Kebanyakan dari kami memang sudah menikah. Hampir 80%.

Menikah. Pernikahan.
Obrolan tentang hal ini juga jadi pengisi hari ini. Berbagai macam problema, harapan-hiruk-pikuk-semrawut-doa mengental dalam hari dan pikiran. Telak, itu kadang memposisikan aku seperti orang yang berpengalaman tapi tetap bodoh. Seperti orang bodoh yang belagu berpengalaman. Yuck!
Dua orang adik (yang berstatus menikah dan yang belum menikah) bercerita tentang “nikah” mereka. Seorang sahabat, seorang yang berposisi sebagai anak bungsu, seorang yang hanya perempuan satu-satunya, seorang yang hanya anak satu-satunya, seorang yang bingung memilih mana yang sekiranya cocok.
Lucu, unik, aneh dan (tentunya) absurd. Hanya secarik kertas dan cerita religius yang ditemurunkan, mampu menjadikan orang begitu kalang kabut dan kalut. Mampu menjadikan orang begitu terpesona dan bahagia.
Aku mengamininya dan bertepuk tangan kecut dalam dada; aku pun akan mengalaminya.

Hujan.
Lalu, tersadarlah aku badanku sudah sangat basah.
Aku lantas membayangkan ini hanyalah mimpi. Hujan tipis hari ini, dari pagi hari hingga sore, aku anggap sebagai salju yang lembut. Membuat nuansa yang sangat indah tapi juga menggigil. Suci tapi horror. Sedikit ada kehangatan, selebihnya gigil.

Sungguh ‘dangdut’ banget. Baju satu kering dibadan, iya. Cerita paradoks, iya.
Cinta, derita, sungkawa berjoget di hatiku. Di hariku.

Aku jadi rindu pabrik artis dangdut...

Bandung,
februari minggu pertama 2009

Inspirasi hari ini:
The panas dalam-lisa ono-wini-wita-muhdan-tata-faisal-ana-musyawarah burung-mas is-fahmi-allister-lagu india ga tau judul-ewit-ata-teteh-rectoverso-dani-dodi-gun-bedil-ilmi-ezod.

Equilibrium



Sebuah pengantar sentimentil seorang groupies lokal untuk
Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS)

Keyword:bermain, terjatuh, bangkit, senang, lucu, unik, pahit, seimbang.

Ehmmm..!
Sebutlah ini sebuah kesaksian subyektif dari seorang teman yang merasa terganggu untuk tidak menuangkan musik ini lewat tulisan, jika jauh dikatakan ini adalah (seperti) kuratorial.

Katakanlah ini semacam kekaguman penikmat seni (musik) yang tak pernah mampu bermain musik, apalagi mempunyai grup band, jika enggan mengomentari bahwa ini hanya tulisan ‘tak mau kalah’ untuk tetap eksis di dunia seni (musik) ketika UTBBYS perform.

Penting ga penting, perlu ga perlu, ngefek ga ngefek, itu urusan orang yang punya telinga. Karena meski dengan sumpah separah apapun mengatakan sebuah band/musik itu bagus, belum tentu si empu telinga yang lain mengamininya. Begitu pun dengan UTBBYS ini. Yang menurutku saja sulit untuk mengatakan ini bagus atau tidak. Enak atau rebek. Keren atau rungsing…

Penilaian diatas (yang dijadikan judul), hanyalah kelitanku untuk kurang bisanya mengomentari hasil karya (musik) temannya secara jujur -dan secara sembunyi sekaligus. Terlalu banyak keentahan yang harus kukomentari. Hanya saja, keyword dibawahnya bukan tanpa alasan dituliskan.

Mendengarkan UTBBYS adalah persis seperti gambaran keyword diatas. Ada nuansa bermain, terjatuh, bangkit, senang, lucu, unik, pahit dan bergairah yang terasa. Seimbang.

Galau yang kalut-depresif, tapi kadang menimbulkan sebuah harapan yang men-y-enangkan (maksudnya menyenangkan dan menenangkan) tersodorkan dengan ceria. Petikan dan cabikan gitar yang dihasilkan tak pelak membuat hati begitu waas dan hareneg. Begitu melankolik-nostalgik dan haru. Tapi begitu diiringi oleh tabuhan drum, aku berani mengatakan bahwa ini adalah sebuah sajian yang stabil dan seimbang.


Sungguh, aku samasekali tidak akan pernah berani membahas masalah skill musikalitas dari para personel. Aku hanya mencoba merasakan dan mengungkapkan saja. Dan ungkapan pertama dari apa yang kurasakan adalah sebuah kalimat pendek nan simple; “seperti snorkling di senja hari”.

Barangkali mungkin suatu saat nanti (tanpa tulisanku pun) UTBBYS mampu berbicara dan mendeskripsikan lebih rinci lewat karyanya kepada dunia. Menyebarkan efek “tengah” yang bukan “nanggung”.

Akhirul kolom, selamat menikmati optimisme yang berkelindan pesimis.



Temanmu,
ame aikooka

31 January 2009

nostalgic-romantic-traumatic



alam bawah sadar memang selalu menawarkan hal yang tak terduga. Mengesankan. Mampu membuat seseorang menjadi apa yang disebut dewasa, berkarakter dan berpendirian. Terlepas dari sudut pandang mana kedewasaan itu dilihat.

Adalah pengalaman yang selalu didengungkan sebagai guru yang paling berharga dan tak tergantikan. Sebagai ilmu absolute yang ditemukan oleh diri sendiri. Melahirkan teori, lalu mencoba melanggengkannya dengan pola pikir dan pola ajar yang (meski lebih diperhalus) memaksa. “ini pengalaman yang bicara. Kamu gak bakal pernah mengalaminya. Makanya menurutku ini yang terbaik yang mesti kamu lakukan” atau “pengalaman yang sudah-sudah aja mengajarkan kita harus begitu dan begini, ko”
Dan terjadilah apa yang disebut pembenaran pribadi, dijadikan tolak ukur kebenaran untuk siapa pun. Stereotype buta.

Hari ini aku memasukan beberapa yang teralami (pengalaman?) sebagai perwakilan contoh dari uraian cerita diatas. Tak perlu banyak, karena aku tak mau jika pengalamanku ini malah seperti pemaksaan pembenaran. (?)


Beberapa hari ini, teman-teman seangkatan di pesantren sering membicarakan secara 'dangkal' tentang rencana reunian. Berbagai macam alasan dikemukakan. Memperingati satu dekade sebagai alumni menjadi isu pertama. Kedua menyusul isu karena pertemuan reuni terakhir terjadi ketika tahun 2003. Itu berarti, sudah setengah dekade juga belum ada lagi pertemuan resmi yang bernama reuni.

Sinis-skeptisku muncul. Reuni lantas aku jadikan sebagai nostalgia aneh yang ingin terus menerus selalu diulangi. Membicarakan masa lalu dengan canda dan tak jarang cemooh. Tiap tahun seperti itu. Berulang dan terus. Minoritas yang bisa menganggap kejadian itu adalah ekstase tersendiri yang sarat manfaat. selebihnya merasa sia-sia.

Jauh di dalam hati, aku juga ingin mengadakan acara itu. Tapi kapan dan seperti apa, aku gak mau membayangkannya sekarang ini.

kata

katakata kukalungkan dileher embun
untuk direngkuh mentari, lalu bersanding.
katakata kutabur dilautan
bersama gelombang, hidup kian merona.
katakata kuludahkan ke api
biarlah, derajat kesekian
pasti menjadikannya kering.

berawal dari mata

Mata.
Mata. Berhubungn dengan lihat, buta, hati, pisau, hari, mata, rantai, air, pencaharin, pena dll.

Dll itu; Kompleks, urgen dan vital. Bagaimana tidak, jika salah satu indera kita ini lebih banyak dihubungkan dengan yang “lain” ketimbang indera yang lainnya(lidahidunkulitelinga). Dengan kata lain, disamping dampak baik, sangat dekat dan berbatas tipis dengan dampak buruknya juga. Setipis menyebutkan; melihat pahala dan dosa (chick with skinny leg, maybe?). Setipis buta dengan melihat, melihat dengan terpejam.

Terpejam mengingatkan peureum kadeuleu beunta karasa. Peribahasa nan oldskool,right? Jadi berasa pengen curhat masalah perasaan.halahhh! But, WHATEVER!!

Whatever juga dengan kejujuran (yang katanya) bisa diketahui hanya dengan kita melihat mata seseorang yang kita ajak bicara. Bahkan dalam proses interogasi juga, mata sangat berpengaruh besar. Bukankah interogasi adalah judul drama yang digarap oleh temanteman teater awal?

Awal tulisan ini sebetulnya sama sekali tidak ter-frame-kan dipikiran. Harus seperti apa menuliskannya dan bagaimana kerangkanya. Hayang nulis tentang mata weh…, kajeun nyambung atawa henteu.

Henteuhenteu acan mikir bisa ditulis dan jadi bacaan aheng. Tapi pengen aja…. Makanya, bisa aja this words inspiring you to think about “mata” lebih jauh dan segala yang berhubungan dengan mata itu sendiri.

Sendirian aja mikirnya ga perlu ngajak orang lain. Kecuali pikiran itu layak untuk didiskusikan dihadapan orang banyak.

Banyak sekali orang yang “buta” mengaku melihat, lantas merasa dia yang paling benar dan obyektif. Padahal secara fenomenologi, siapapun bisa jadi benar dan siapapun bisa jadi salah.

Salah sendiri jika mendeskripsikannya sangat minim. Makanya yang dibutuhkan itu bukan ahli debat karena kefanatikan tapi jago argumen dengan pemikiran terbuka dan dingin hati.

Hati siapa yang tak sakit jika mata juga disakiti tanpa alasan dengan ditancapkannya tusuk sate. Bukan karena tusuk satenya, tapi bekas dari mulutnya itu yang jadi masalah; jijik dan perih bekas sambal. Belum lagi si pelaku mempunyai penyakit mulut yang akut. Semriwing gitu,bo! Kalo hanya ditusuk aja sih, anggap aja terapi saraf.

Saraf?! Lu bilang papap saraf, garagara bilang tusuk sate bisa dipake sebagai pengganti cotton bud? Yang saraf tuh maraneh! Udah tau tulisan kayak gini tuh tulisn saraf, masih mau baca dan perhatikan. Ngasih komentar lagi. Parah! Yang lebih parah lagi yang bisa lihat (baca) tulisan ini tapi ga dibca sampai tuntas, tapi ikutan komentar kaya orang yang udah ketalar semua isi tulisnnya. Sebel!

Sebel juga sih, papap nulis kaya gini. Kaya yang ga ada pembahasan lain yang mesti ditulis. Bahas hibernasi kek, global warming kek ato masalah pulitik dan pulisi. Ato –kalo mo masih berhubungan dengan mata- ngebahas keren dan rumitnya retina, selaput, optik, cileuh, kornea dan yang lebih dekat dengan mata. Bukan masalah brehoh kaya begini.

Begini dulu tulisan dari papap, deh. Doakan suatu hari nanti papap bisa nulis tentang retina, selaput, optik, cileluh, kornea sampai ke uraturatnya dengan sangat detil dan jelas. Ginigini juga papap seneng biologi dan ilmu alam. Papap juga pengen bisa nulis tentang gobal warming dan hibernasi.

Hibernasi. Hi bernasi. Hiber nasi. Pasti gratisan dan kenyang. Tak perlu kado dan amplop berisi uang rebuan tiga lembar. Semua bisa didapat dengan harga senyum lebar tanpa dosa dan salaman. Cukup salam.

Salam, heueu….

tulisan ini pernah di muat offline di buletin tangankiribodobodo

dalil makan

"afdhalu dahrin bi faisin lailin. wa kucipa, wa ubina, wa kuripa. faman buhila, fatunjiqa unuquhu hatta utiha. tsalatsa marrotan"

atinya

"pang afdol2na dahar jeung pais lele. di kecapan, jeung di abonan, jeung di kurupukan. sing saha jalma nu kabuhulan, maka tonjok pundukna nepi ka utah. nepi ka utah"

bahasa indonesianya

"paling afdol makan adalah dengan pepes lele. pake kecap, dan pake abon, juga kerupuk. barangsiapa yang keselek, maka pukul punuknya nyampe muntah. tiga kali"

dalil lauk pauk

"assifaatu syiami urusuha tahta jamarootin"

artinya

"ari sepat siem teh rasana sahandapeun jambal roti"


bahasa indonesianya

"asin ikan sepat rasanya (masih) di bawah asin ikan jambal roti"

Subkultur*

*tulisan pendukung dalam materi presentasi subkultur dalam acara orientasi jurusan sosiologi agama

Ini adalah tema yang cukup sering didengar tapi sangat sedikit diperhatikan. Terutama dalam perbincangan di masyarakat kita. Entah memang karena terlalu malas untuk membahas atau justru terlalu banyak fenomena subkultur di masyarakt kita. Dan tulisan sekarang ini pun tak lebih hanya tepian pantai fenomena tersebut.


Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian/ sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan (aku lebih suka membahasakannya seperti itu daripada dengan menggunakan kata budaya). Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Secara kasar itu bisa diartikan juga sebagai 'budaya yang menyimpang'.

Kebanyakan kita menganggap dan mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Geng motor, musik underground, anak jalanan dan perilaku amoral lainnya. Padahal, kalaulah kita tahu dan sadar akan arti dan tujuan kata tersebut dialamatkan, maka kita akan sadar dengan sendirinya bahwa subkultur tidak selalu ditujukan untuk hal yang negatif. Pesantren barangkali salah satu subkultur yang nyata dan jelas juga berkesan positif. Pesantren yang dimaksud adalah pesantren yang kiai dan sistem pendidikannya tidak mengacu pada sistem pendidikan nasional. Contoh lain selain pesantren adalah klub pemerhati burung yang ada di sekitar jalan geneca bandung. Sesering mungkin anggota kelompok ini memperhatikan burung dengan tujuan untuk melestarikannya juga lebih jauh lagi demi keseimbangan ekosistem.

Selain anggapan kita pada umumnya sering keliru, kita juga sering lupa bahwa subkultur sangat erat kaitannya dengan kita (mahasiswa/remaja). Terbukti dengan sangat seringnya kita merasa ingin jauh dengan budaya orang tua kita (budaya kolot). Ini bisa dilihat dari cara kita berinteraksi dengan teman, gaya berpakaian, musik, yang semuanya itu merepresentasikan sebagai perlawanan terhadap kultur yang dominan dan 'kultur tua'. Tiap daerah, tiap tempat atau pun tiap komunitas hampir bisa dipastikan mempunyai gaya khas yang berbeda dari yang lainnya.
Jika pun ini dihubungkan dengan hidup, maka semakin kita mengerti dan kritis dengan suatu subkultur, maka semakin jelas pula apa yang sedang diperjuangkan. Bahwa bisa jadi ujung perjuangan subkultur adalah melawan kapitalisme. Ada yang pernah tahu tentang pergerakan (subkultur) flower generation yang marak di amerika ketika perang dunia kedua?hippies? Bikers? Semua adalah merupakan sebuah perlawanan.

Sosial politik juga sangat berpengaruh dengan munculnya beberapa subkultur di suatu negara. Mari kita tengok masa sebelum reformasi, dimana kita mendengar kata 'underground' dan 'indie' seperti kita sedang mendengarkan kisah kuno warisan para nabi yang jarang diceritakan. Terkesan agung dan sakral. Seperti penawar haus bagi mereka yang merasa terdampar di area mainstream dan pop. Seorang pelaku begitu serius menggelutinya sebagai ideologi. Punk-hardcore dengan ajaran do it yourself seperti agama.
Paska reformasi adalah masa dimana pembauran bergbagai macam ideologi subkultur bersatu. Subkultur mulai menjadi kultur, indie mewujud mainstream, underground adalah on the ground.

Banyak orang memakai kaos Che asyik ngobrol dengan temannya yang menggunakan aksesoris punk di kantin siap saji bernama Mc.D, penyanyi karbitan dan mellow rambut mohawk, artis sinetron memakai baju distro.
Jarang sekali film indonesia yang mengangkat tema masyarakat asli beserta subkultunya. Yang ada hanyalah demi uang dan popularitas. Mengesampingkan kreativitas dan orisinalitas. Yang kita tonton adalah ‘wajah’ orang lain dengan cerita yang sangat ‘ lain’. Wajar jika akhirnya kita sulit untuk mengenal diri kita sendiri.
Semua karena capital. Semua gara-gara ingin dianggap eksis. Menggelikan!

Ada yang salah dengan bangsa kita dan kita sendiri?

Tak ada yang salah. Sebagai negara post-kolonialis, negara ketiga, terima saja kita sebagai penampungan sampah budaya dari kebudayaan global negara maju. Terima saja kita masih berani merasa keren dan up to date padahal tidak. Konsumtif akan informasi terbaru tanpa bisa membendung dan mengimbangi dengan kekayaan budaya sendiri. Lebih tolol lagi, system yang kita anut samasekali tidak memikirkan bagaimana merumuskan strategi kebudayaan untuk bangsanya. Alih-alih mempopulerkan budaya bangsa, pemangkasan budaya dan penjarahan sesama yang ada. Homo homini lupus.

Oke. Kita lihat kenapa permasalahan ini berujung membicarakan negara. Subkultur sejatinya memiliki dialektika tersediri untuk tumbuh dan berkembang;hidup. Tugas negara (atau institusi) adalah memfasilitasi. Hanya saja, yang menyedihkan disini adalah ruang untuk bisa berkspresi seperti itu seperti tertutup dan dikesampingkan.
Dari dulu hingga sekarang, komunitas subkultur yang mencoba untuk menampung ide dan gagasan baru, berusaha menciptakan raung alternatif (alternative space) sedikit sekali mendapat dukungan dari institusi terkait. Jangan heran dan jangan tersinggung jika kita ternyata adalah pelaku konsumtif yang paling menyedihkan.

Subkultur, independent, underground, bukan hanya untuk musik dan dunia kratif saja. Itu merupakan cara atau metode alternative untuk ditawarkan kepada masyarakat. Subkultur pasti tak akan pernah bisa lepas dari kultur dan bukan tak mungkin akan menjadi kultur. Sebuah siklus kehidupan yang akan selalu ada.
Pertanyaan paling mendasar yang harus kita ulangi dalam tiap hela nafas kita adalah; “buat apa/siap semua ini dilakukan?”

Akhirul kolom, ‘mengkulturkan’ subkultur adalah sebuah langkah awal menuju kebaikan dari pada samasekali terseret kultur tanpa pertanyaan. Bukankah kultur adalah standar kebaikan dan cara hidup? Yang pasti, jauhi kultus!

Sekian








kolektor semester

ujung.

Dini hari. Kantuk kian jauh. Dan irama jantung pun kian berdegup kencang karena pengaruh kopi yang dikonsumsi dengan sangat durjana. Bagaimana tidak, jika sepagian tadi sampai sekarang *pagi lagi* sudah hampir tujuh gelas tandas. Itu yang murni aku konsumsi sendiri. Belum yang diminum secara berbarengan dengan teman ngobrol. Sehingga membuat adrenalin terpompa tanpa ampun, menyisakan kantung mata yang sungguh tak enak dipandang. Memberat seperti lemak yang bergelambir di sisi perut yang sering jadi pergunjingan para perempuan. Kebanyakan perempuan maksudnya.

Sempat kulayangkan sebuah pesan untuk sang bintang. Berisi katakata biasa namun realistis. Entah pesan itu langsung terbaca atau tidak aku tak ambil pusing. Entah dia mengerti apa yang kumaksudkan atau tidak, aku tak peduli *meski sebetulnya sangat peduli*.

Memang seperti ini kerjaan mahasiswa ujung banget. Sengaja tidak memakai istilah ujung tanduk karena takutnya dapat dilema. Sengaja juga tidak memakai istilah ujung jalan karena agnes monica takut minta royalti judul lagunya dipakai di tulisan ini. *Baydewey, ternyata Agnes itu seorang artis yang sangat tinggi libidonya dari semenjak kecil, loh. Masalahnya kita semua tahu dari semenjak kemunculannya di tv, beliau udah gembar-gembor pengen kawin. Terbukti dengan nama belakangnya; Agnes Monikah!

Tuh kan, barusan juga kerjaan mahasiswa ujung yang ga ada kerjaan banget. Terus, mana yang kerjaan dan mana yang bukan kerjaan?

Mahasiswa ujung kebanyakan adalah mahasiswa kri(t/s)is yang tak tahu umur dan tak tahu diri. Mereka *aku* bisa mengkritisi segala macam yang berlaku dikampus bahkan di negara dan dunia, tapi sudah sulit untuk memberikan aspirasi secara langsung. Bisa melihat apa yang kurang dan dibutuhkan oleh para mahasiswa, masyarakat dan keadaan tanpa bisa berbuat banyak. Apalagi yang ada hubungannya dengan kelas. Karena kelas dan suasananya adalah hal paling cawokah untuk diungkit bagi para ujungers!

Tapi diakui atau tidak, suasana kelas memang suatu hal yang sangat paling ingin sekali banget diulangi oleh para mahasiswa ujung. Minimalnya menurut aku. Rindu akan segala kegiatan yang tak sedikit menguras peluh dan keluh. Dari diskusi yang paling bohay atau bete sampai dengan dosen yang seenaknya mengubah jadwal kuliah. Dari peserta kuliah paling banyak sampai segelintir peserta yang mengikuti *peserta..?, emangnya ini idol-idolan?! damn, i don’t wanna be idol wanna be!*. Dan segala macam dan segala macam dan segala akhwatuha.

Aku pikir, siapapun orangnya, mahasiswa ujung itu, pasti akan setuju dengan pendapat aku ini. Tak perduli dia demonstran sekelas Hugo Chavez *Chavez mahasiswa kitu?*, seniman mirip Andy Warhol, atlet sehebat Icuk, enviromentalist layaknya Abah Iwan atau agamawan berat sekaliber Habib Riziq, niscaya akan punya pengalaman hebredz akan indahnya masa perkuliahan (atau sederajat. Masalahnya aku ga tau mereka semua kuliah atau tidak). Hanya saja, titel ujung itulah yang kadang membuat kita *aku* menjadi jumawa dan tak tahu diri juga tak tahu waktu dan tak tahu umur dan tak tahu semester dan tak tahu kajur dan tak tahu sekjur dan tak tahu spp dan tak tahu kenapa…(?)

Ujung berarti juga akhir atau sekarat atau koma atau kritis. Hal yang sangat erat kaitannya dengan yang namanya perpisahan. Meski sebetulnya hakikat BERPISAH UNTUK BERTEMU dan sebaliknya; UMETREB KUTNU HASIPREB. HIDUP UNTUK MATI dan sebaliknya juga; ITAM KUTNU PUDIH! Perpisahan yang mana kita *eh, aku* tahu adalah masa dimana pikiran akan terkuras habis dengan evaluasi diri yang memuncak dan apa yang kiranya akan terjadi di kemudian.

Maka dari itu aku sekarang hanya ingin, sebisa mungkin mengenang apa yang telah teralami sebagai evaluasi juga sekaligus harapan untuk masa yang akan datang. Aku akan selalu ingat bagaimana culunnya aku ketika memasuki awal kuliah. Berbekal segala kekerenan yang berbatas tipis dengan kekampringan yang aku bawa, akhirnya tertatap juga dunia kampus. Segondol doa orangtua, orang dekat dan orang tak terlalu dekat terselip dalam dompet langkah. Mengiringi segala desah yang tak selamanya lengang dan mulus.

Beberapa tahun dijalani, tak mungkin lupa mana matakuliah/dosen yang paling terfavorit pisan sampai yang paling muak bete bin nista. Teman seperjuangan yang dengan berbagai cara mereka berjuang, tapi tetap satu tujuan. Dari diskusi yang sangat ilmiah melebihi rumitnya memecahkan teori neuron prototipe anastasi kataton monolog dongue *aya kitu?*, sampai diskusi yang paling ATAH ADOL yang pernah terjadi di muka bumi demi menentukan panjang mana antara ekor tikus dan ekor kuda. Dari obrolan hubungan ayat dengan fenomena yang terjadi, sampai obrolan *maap* bokep lokal teraptudet. Dan sederet pengalaman lain yang tak mungkin bisa muat jika harus dituliskan disini satu persatu.

Maka dari itu…*eh, aku atawa kami,nya..?ah, aku we lah keur nu ieu mah*, aku mohon kepada siapapun yang pernah sama-sama mengalami (teman, dosen dan siapapun) untuk tetap bisa mengenangku dengan segala super keterbatasanku. Niatku sedikitpun tak terlintas untuk jadi tercela. Mohon kelapangannya untuk tetap mendukungku menjadi apa yang aku cita-citakan. Adapun yang jadi permasalahan adalah pencapaian. Tak semua orang sama. Jangan pernah jera untuk ingatkan aku bahwa proses untuk sebuah kedewasaan itu sangat perih dan radikal.

Aku mohon…


Dari highlander.
Thanxlovesorry.embrace…

masa kecil, oh masa kecil..

Awalnya karena diminta masukan untuk desain dinding sebuah toko buku ternama di kota bandung ini. Temanku bilang, aku punya daya imajinasi anak kecil dan harus menggunakan imanijasi itu untuk bisa membantu perkerjaan ini. Maka berapa ikon 'bodoh' mengalir begitu saja.

Rumah dalam sangkar yang pertama disebut. Karena dari kecil, aku sangat menyukai binatang -terutama burung. Aku ingin punya rumah, yang jika keluar dari pintu, sudah disambut oleh banyak sekali burung. Makanya bayangan bikin sangkar segede mungkin, dan ditengahnya adalah rumahku.
Lalu kemudian muncul rumah permen, payung awan, pohon aromanis, kuda terbang, mata bintang, perahu terbang, mesin waktu, mobil septictank, sepatu jet, hujan kelereng, manusia insang, dan banyak lagi.

Ada satu kepuasan tak terhingga. Kepuasan yang bisa jadi karena mengeluarkan ide yang tanpa rasa bersalah. Keputusan yang kalau dilakukan pake kacamata kedewasaan akan selalu dibarengi dengan berbagai macam pertimbangan dan balaga intelektual. Puas dan bahagia.


Seorang bijak bilang, semakin dewasa seseorang, semakin sempitlah dunianya.

Aku membenarkannya, karena aku mengalaminya. Mengalami bagaimana -sekarang ini- sulitnya berimajinasi; jadi profesor, bikin mesin waktu untuk kembali ke masa lalu hanya untuk bisa memborong tamiya yang saat itu terasa amat mahal. Berangan-angan kalo bisa hidup di gorong-gorong karena dianggap mutant dari kura-kura, lalu belajar ilmu ninja. Punya akses khusus ke tempat tertentu, punya sepeda yang bisa sekali kayuh nyampe ke singaparna (aku kecil di tasik kota dan membayangkan singaparna adalah negeri antah). Punya senjata biologis yang membuat orang selalu ketawa.Dulu dengan bangganya menjawab; "ingin menjadi kuda!", ketika guru TK menanyakan cita-cita muridnya dan banyak lagi.

Pulang dari suatu pekerjaan (kuliah/kerja), sekarang ini, bisa jadi dipenuhi dengan berbagai rencana strategis dan menekan. Berbagai analisis dan segala persiapan yang belum pasti tapi seperti udah jadi kepastian selalu membayangi. Entah kemana itu lari-lari seperti kijang, bernyanyi, dan kadang ngomong sendiri sambil memainkan tas sekolah atau pensil sebagai alat atau benda yang sangat imajiner. Kadang berteriak seperti memberi komando, kadang berhenti dengan tatapan seolah didepan ada Gorgom atau Sheider, atau mengaduh dan berteriak tertahan seperti sedang dalam perut Monster Mata Satu.

Realitas, brader. Realitas yang teralami sepertinya yang menumpuk dalam otak kita dan ditampung atas nama memori yang melahirkan trauma. Memunculkan berbagai teori dan diamini. "Jangan ini kalo mau itu." ""arus ini jika begitu." Dan yang lainnya. Takut untuk bermimpi. Lupa akan bebasnya masa kecil. Mengikuti berbagai macam batasan dengan mengatasnamakan keterbatasan yang belum pernah dicoba dengan maksimal. Dan aku tidak memungkiri dengan kenyataan itu karena aku termasuk didalamnya. Adakah yang bisa membantuku untuk bisa sesekali masuk ke dunia masa kecil?

Entah kemana hilangnya spirit untuk melindungi seorang 'hime hikaru hoshi' yang ditularkan Recca. Bermain bola tanpa perlu 10 orang kawan seperti Tsubasa Ozora atau Kubo Yosiharu. Merasa bangga punya topi dari jerami mirip Luffy. Jago tembak dan konyol tapi disenangi cewe seperti Ryo Saeba. Jago basket dan mencetak 4 pont (padahal paling tinggi hanya 3 point) seperti Naruse.
Apa kabar Deni yang sering bercengkrama denganku dalam laut. Para salamender api yang jahat yang akan aku buru bersama Paman Janggut. Berbicara sambil berkendara diatas punggung September. Manjat pohon bareng siti, umar, zaid di Aku Anak Shaleh..

Aku kanger mereka. Kuni, Tiger Wong, Chinmi, Pangeran Matahari, Candy, Voltus, Kamen Rider, Billy the Kid, Lion Man, Unyil&penjahatnya, Buck, Tonto, Voltron, Phoenix Api..

Sungguh, keceriaan dan kepolosanku saat itu masih terasa sampai sekarang. Masih kutunggu perasaan itu datang lagi. Perasaan yang dengan jernih terucap: "AKU INGIN JADI KUDA"

Aku ingin jadi (seperti) anak kecil dalam menghadapi kehidupan.
teach me how to dream

25 January 2009

sepatu

Jangan pernah bicarakan sepatu denganku didepan orang tuaku. Aku mohon. Jika itu terjadi, bersiaplah menerima “jutaan jarum rasa bersalah” menghujanimu melalui tatapnnya.

Tidak! Bukan karena orang tuaku akan bilang; ”lebih baik membeli pelindung kepala karena didalamnya ada otak yang mahal daripada membeli pelingdung kaki”. Bukan pula karena orang tuaku tak suka bersepatu. Tapi lebih karena sepatu adalah salah satu barang yang akan mengingatkannya pada rasa kasih yang (seperti) tidak komplit.

Seminggu kemarin aku membeli sepatu baru. Penting bagiku karena ini adalah pertama kalinya aku membeli sepatu dengan uang sendiri. Murni. Tanpa bantuan dari teman atau orang tuanya teman. Tapi dari gajiku dengan segala bangga.

Kebanggaan ini hanya akan aku bagikan kepada kalian saja. (sekali lagi) tidak pada orang tuaku.
Aku tidak mau jika kebanggaan ”hanya” sepasang sepatu ini mesti dihiasi titikan air mata. Jadi, cukup kalian saja.

Sepatuku memang tidak hanya satu. Semuanya ada empat pasang. Dua pasang warna merah (satu converse bahan kanvas, tinggi, pemberian dari boy tahun 2004 sekarang kondisinya lagi enak-enaknya dipake dan satu lagi, vans kulit oldskool, strip warna perak, bahan kulit dari kakang tahun 2006), satu warna hitam (yang ini model bestong/ semi talincang, pemberian dari adik iparku lebaran kemarin), terakhir adalah yang baru ini. Converse warna coklat muda, bahan corduroy dengan lapisan planel didalamnya.

Tiga pasang bertitel mantan; hasil dari kegemasan beberapa teman karena sepatu yang kupakai (sepatu yang menggemaskan itu sekarng entah kemana. Padahal itu juga pemberian dari bink) dan sepasang lagi tunggangan baru.

GOD****. AN****!!!!

Huehhhhhh…..!!! Aku ga kuat nerusin tulisan ini. Banyak rasa yang menggelayuti pikiran dan hati ini.

Sambil memperhatikan sepatu baruku, seketika satu bayangan muncul. Makin lama makin dekat. Gerakan mulutnya pun makin jelas dan bersuara. “Hampura mamah teu tiasa pang meserkeun sapatu-sapatu acan. Terakhir pang meserkeun teh basa aa rek ka DA we harita… eta oge butut-butut acan”.

Menyusul gambaran wajah coklat nan cabi mengkilatku sedang menginjak garut, berlatar cikuray, settingan pertengahan tahun 93, menuntut ilmu memakai sepatu dragon fly baru.

Lalu hanya air mata keentahan yang mengiringiku malam ini.

Sepatu itu rusak karena sering dipakai ke W.C oleh seorang teman berinisial H.Y dua tahun kemudian.

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.mutliply.com)

berpusing

Lingkaran setan: Pernyataan-pertanyaan

Kalau harus memilih satu kata dari dua kata yang nyaris mirip diatas, kira-kira mana yang akan dipilih? Bebaskan. Itu hak kalian. Hanya saja saat ini yang terakhirlah yang sering menggelayuti dan menghantui.

“jadi, udah ga ada usaha lagi, niy?!” Tuhan.., apa yang sebenarnya dia inginkan?! bukankah sebelumnya sudah dibicarakan panjang-lebar tentang nasib kita itu? Apapun yang akan terjadi, aku hanya ingin tak ada pihak yang akan dirugikan. Terutama antara aku dan kamu! Karena, kita memang prioritas!

Tak ada istilah menyesal dengan kejujuran. Segetir apapun yang dirasakan, asal itu merupakan konsekwensi dari sebuah kejujuran hati yang tak lepas dari segala niat baik dan berserah diri, pasti harus dan akan diterima dengan lapang dada. Tak ada paksaan. Apalagi rasa dendam.


Kembali lagi masalah ‘usaha’. Bukan aku ga mau dengan meneruskan ‘usaha’ itu. Hanya saja, sama saja pincang jika yang menghadapi tantangan itu hanya aku sendirian. Dan kamu sudah tak mau lagi meneruskan. Dengan alasan yang memang siapapun akan merengut karenanya. Tak terkecuali aku jika ada di posisi kamu. Tapi paling tidak, kamu telah memilih satu dari berbagai alternative. Proses untuk memilih itulah yang sangat aku hormati dan hargai.


“Kejujuran yang kurang beruntung”. Begitulah seorang teman bilang padaku. Dan memang kalimat itu pula yang terus dan terus merongrong hati yang kian gatal. Oh, terbayangkah bagaimana dilematisnya menghadapi kegatalan? Kaligata atau alergi, misalnya? Digaruk ga enak didiemin apalagi! Adakalanya ketika digaruk sangat nikmat dan tanpa sadar permukaan kulit udah melepuh; panas dan perih..!


Ya, seperti itulah aku. Diselimuti berbagai macam penasaran yang aku sendiri tak pernah berani mendefinisikannya. Apalagi menganggapnya sebagai wacana mentah belaka! Tidak. Tidak seperti itu. Terlalu gegabah jika begitu.


Disebut gegabah karena segalanya memang bukan untuk gegabah dan sembrono. Kalaulah semua kejadian ini adalah ke-gegabah-an dan ke-sembrono-an belaka, jangankan orang lain, aku sendiri pun pasti akan menyebut diriku adalah keledai buta yang idiot!! menghadapi ketakutan akan hal yang nampak dan berhubungan dengan sesama bisa jadi aku terjebak gegabah. Tapi jika urusannya dengan masa depan, dengan yang serba harap dan menyangkut dengan pencipta..? siapa pun pasti bisa menilai. Tenaga dan pikiran, jiwa dan raga, semua tertumpuk demi untuk sekedar mengucapkan ‘kalimat sotoloyo’ tersebut.


Jika pepatah cina mengatakan hidup itu seperti berjudi, selalu ada menang (beruntung) dan kalah (sial), maka aku adalah pemain yang selalu penasaran dengan kekalahan dan tak gampang puas dengan keberuntungan. Karena pada dasarnya, menang-kalah hanyalah sebutan. Menang-kalah, toh pada dasarnya uang taruhan pasti bakal dihabiskan dan lenyap samasekali. Itu menurut pepatah cina, yang aku sendiri kurang begitu setuju karena punya kata bijak lain yang lebih kena dengan keyakinanku; jika ada kemauan, disana ada jalan. Mahfudzat (kata mutiara) tersebut sudah sangat tidak asing. Bahkan Paulo Choelho pun mengatakannya dengan; “jika kita punya mimpi, maka seluruh alam akan ikut membantu mewujudkannya”. Kalimat tersebut terdapat dalam novelnya yang berjudul sang alkemis. Cerita seseorang yang berjuang untuk mencari legenda pribadinya.


Bukankah tiap orang pasti punya legenda pibadi yang harus ditemukan masing-masing? Bukankah pada dasarnya manusia itu egois? Dan bukankah manusia diciptakan juga untuk menemui segala masalah yang akan dihadapinya? Hidup adalah masalah. Jika bukan, kita pantas bunuh diri karena tak satu pun masalah yang terjadi. Jika bukan, kenapa dalam mendoakan orang tua saja, kita selalu egois dengan minta kita dilebihdulukan diampuni-Nya? Jika bukan, mengapa harus punya cita-cita dan garapan sebagai legenda pribadi?


Begitu pun aku…

Jatuh-bangun kehidupan dan perjalanan bukanlah satu akhir. Meski kadang merasa lelah dan tidak kuat dalam menghadapi cobaan yang ditimpakan. Hanya keyakinan dan niat awal yang harus selalu diperbaharui- yang bisa menajdi modal utama. Adapun hasil, (bagiku) akan terasa ‘ada hasil’ jika aku sudah samasekali tak kuat lagi untuk terus berproses; mati.

Adalah dengan mengingat mati, proses adalah hal yang paling mengesankan. Dan aku ingin mati dengan cara yang mengesankan. Bukan dengan mengenaskan.


Ngalamun, sabatae ngalaman. Bermimpilah, karena kehebatan selalu berawal dari mimpi. Lantas, yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah mimpiku ini terlalu muluk dan mustahil untuk bisa terwujud? Apakah ‘modal’ untuk memulai sebuah ‘usaha’ harus diukur hanya dengan modal dan usaha dari sudut pandang yang sempit? Yang materil? Adakah aku terlalu melantur?


Barangkali aku memang sudah melantur..


In tanshurullaha yanshurukum wa yutsabbit aqdaamakum..

KTP

Jika dalam kumpulan teman lama selalu ada pertanyaan pencapaian paling berpengaruh apa yang pernah didapat dan bagaimana kita lima tahun kedepan, maka untuk pertanyaan tersebut, jika suatu hari muncul lagi, aku akan menjawabnya dengan tegas dan singkat; ktp!

Umur 26 akhir, aku mendapatkan ktp pertama kalinya dengan perasaan senang dan bahagia. Sekali pernah sebelumnya ketika umurku menginjak 17 tahun. Tapi tidak dibarengi dengan sumringah. Juga tidak pernah dipakai untuk keprluan itu-ini.

Bukan karena aku adalah pelaku criminal. Bukan pula karena aku adalah orang yang tidak taat hukum. Tapi lebih karena pada saat itu merasa belum butuh alamat lengkap untuk diberitahukan kepada orang banyak. Cukup kartu tanda mahasiswa saja. Dan menganggap alamat yang paling abadi adalah dengan mempunyai alamat di dunia maya sebagai alamat nyata.
Bukan pula tidak terpikirkan andai suatu hari aku dapat rejeki undian, kena musibah atau berurusan dengan hukum yang pasti bakal membutuhkan identitas (ktp). Tapi lebih karena aku tidak merasa nyaman dan tenang saja mempergunakannya.

Ketidaknyamanan dan ketidaktenangan itu bernama kontrakan.
25 tahun keluargaku hidup dengan berpindah dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lain. Beberapa kali numpang di rumah nenek dari bapak. Meski tidak jauh tiap perpindahannya, tetap saja cukup menguras tenaga dan pikiran seluruh isi keluarga. Tak terkecuali aku.
(maaf jika aku lagi senang menggunakan kata “bukan”)
Bukan sebab orang tuaku pegawai pemerintah yang sering dipindah tugaskan. Bukan juga seorang peneliti, atau kontraktor atau buronan atau pembuat onar. Tapi lebih karena orang tuaku tidak cukup kuat menghadapi musuh yang selalu mengalahkannya; tagihan dan batas waktu.

Dalam kurun waktu 25 tahun itu, terhitung 10 kali aku mengalami atap yang berbeda. Rumah yang kesepuluh inilah yang (kemungkinannya sangat besar) akan menjadi rumah tetap keluargaku. Rumah yang dengan bangga hati aku cantumkan alamatnya di ktp-ku yang sekarang.
Teman-teman, sekarang aku telah menjadi warga Negara yang baik. Aku sekarang merasa berani mengakui dan diakui. Aku sekarang ada.

Maaf banget aku disini tidak bercerita tentang baik dan buruk lingkungan yang aku tinggali berkaitan dengan sering berpindah rumah itu. Atau efek dari itu semua terhadap perkembangan pola pikir dan kepribadian.
Barangkali lain waktu.

(tulisan ini diposting juga di www.umedism.multiply.com)

Amien

Sebuah permintaan pengabulan doa.

“Selamat hujan pagi.. semoga dirimu kekal menyejukkan hari ini.. ?”
Sms itu diterima tepat 6 jam lebih 4 menit dari detik menginjak hari jadi sang kejora. Bukan dari si Shahibul Hajat (kejora), memang. Dari seseorang yang bisa dibilang pernah sama-sama satu visi. Menghenyakkan pagiku, lantas serta merta mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur dengan apa yang telah dinikmatkan Si Maha Penyejuk.

Pagi itu barangkali hujan di tempatnya. Dan dia masih tahu kalau hujan adalah fenomena alam yang selalu membuatku takjub. Tak heran ‘utak-atik’ kata yang ia mainkan begitu indah dan mengharu. Bukan “selamat pagi, hujan..” yang ia sapakan. Tetapi, “selamat hujan pagi..”. Seolah-olah bukan untukku. Tapi sms untuk si pagi yang sengaja di salah alamatkan padaku.


Ame aikooka. Si pengagum/pecinta hujan. Aku.

Entah kapan dimulainya rasa itu ada. Hanya saja, tiap kali hujan turun, dulu waktu aku masih kecil, aku selalu meminta mamah supaya diijinkan hujan-hujanan. Menerobos jutaan rintik, merayakan kemenangan entah dari apa. Meneriakkan kebebasan entah dari apa. Berlari menyusuri berbagai gang, tak takut menuruni selokan yang meluap, bermain bola di lapangan jika kebetulan banyak teman yang hujan-hujanan (pernah suatu waktu gara-gara mengambil bola yang masuk sungai, aku terseret arus yang sangat besar cukup jauh dan membuatku shock berat selama 2 hari), atau tak jarang hanya main seluncur perut di teras rumah yang basah.
Jikapun tak diijinkan (ini lebih karena jika kondisi badanku kurang sehat atau terlalu keseringan bermain hujan-hujanan), maka aku akan diam mematung di tepi jendela dan memperhatikan tiap rintik yang turun. Membuat pikiranku menerawang ke negeri dimana hanya ada aku. Melakukan apapun yang ingin aku lakukan. Meski harus kuakui, lamunan ketika hujan tak pernah jauh dari lamunan yang romantis dan sendu tapi juga menaruh harapan. Bagaimana pun, semua itu adalah keindahan.

Astrologi, fleksibel, sensitive, wadah. Pembenaranku.

Tak ada yang tak terpengaruh dengan astrologi atau zodiak. Minimal untuk pembenaran yang dikesankan positif. Begitu pun aku yang aquarius. So’ berfilosofi air dan selalu bermimpi mampu menyejukkan apapun. Meminumi yang kehausan, menyegarkan yang kegerahan, mengaliri yang kekeringan dan menggapai kesejatian. Karena bagaimana pun air di tempa, ia tetaplah air dan akan selalu menjadi air.
Tak jarang ia rembes dan memaksa keluar dari celah sekecil apapun. Bukan untuk berlari, hanya sebagai upaya menyesuaikan dengan keadaan. Sesuai dengan yang menampungnya. Sekecil apapun perubahan, pasti terrasakan.
Berkelit, egois, konsisten = inkonsisten = konsisten. Kurangku.
Seperti percaya padahal tidak begitu. Seperti iya padahal tidak begitu. Penurut padahal rebel. Urakan padahal beretika. Bergemuruh padahal mellow. Biasa padahal sangat biasa (baca: biasa luar biasa)…

Doa. Inginku.

Semoga diriku kekal menyejukkan hari..

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)

kepingan

Keping #1
Hidup, Batas, Keputusan, pilihan, labil, seimbang, nothing.
Entah itu berupa judul atau sebagai keyword untuk tulisan ini, bukan sebuah hal yang penting buatku saat ini. Yang terpenting justru memuntahkan putaran kata itu dalam benak. Menjadikannya sebagai artefak dan penanda akan kekacaun pikiran yang pasti tak kalah kacau juga jika ditumpahkan dalam tulisan.
Kegelisahan yang mencoba terus dipertahankan dan selalu direkonstruksi dalam menghadapi segala problema dan dinamika. Kata-kata diatas sebutlah secara begitu saja keluar dari kepala lalu di utak-atik dan disusun sedemikian rupa. Direka supaya bisa saling berhubungan dan lalu mempertentangkannya. Gilalah!

Keping #2
Motivator handal, bijak-arif, depresan, kesah, menyerah.
Dalam keterbatasan, batas adalah kambing hitam yang sengaja kita buat sebagai keputusan. Dalam keterbatasan, kegagalan sering dianggap sebagai sinyal untuk berhenti mencari. Menyatakan berhenti atau meneruskan adalah pilihan.
Ternyata banyak sekali hal yg tidak kita ketahui, tidak kita mengerti, dan tidak tau kebenarannya…, ataupun bisa dibuktikan atau tidaknya..karena manusia penuh dengan keter-BATAS-an. Tapi satu hal yg tidak boleh pernah kita lupa kita harus selalu mencoba. ‘Jangan pernah menyesal karena kita tidak bisa, tetapi menyesalah ketika kita tidak pernah mencoba’. Terimakasihku untuk seorang yang pertamakali mengenalkan apa itu relativitas dan fenomenologi.
Seorang anak berhasil menunggangi sepeda pada percobaan keenam setelah lima kali jatuh. Percobaan keenamkah yang membuatnya bisa dan mahir. Tidak, bukan. Justru lima percobaan yang sebelumnyalah yang membuat anak itu mampu mengendarianya. Lima kali terjatuhlah yang menentukannya. Cobalah!

Keping #3
Curhat, keluh, berbagi, memberi, meminta, terima, sama.
Tak ada yang sempurna kecuali kesempurnaan itu sendiri. Basi, iya. Klise, memang. Hanya saja siapapun pernah mengalaminya. Disadari atau tidak. Keywords di awal kepingan ini adalah bukti nyata segala keterbatasan kita. Meski tipis, kenyataannya memang ada. Kita-lah batas itu. Penentu itu. Pemilih itu. Percayalah!

Keping #4
Gila, coba, percaya, waspada.
Perlahan, dengan percaya mencoba memahami ajakan gila ini, maka bersiaplah untuk mejadi benar-benar gila atau mengenali gejala gila. Bersiap untuk coba-coba atau merelakan diri menjadi percobaan. Bersiap untuk percaya dan dipercaya atau malah tidak percaya. Bersiap untuk coba percaya gila. Waspadalah!

Keping #5
Yakin.
Tak akan pernah ada yang meruntuhkan dan menggantikannya; keyakinan. Yakinlah!

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)

Doa keur kakasih

Gusti nu Maha asih, hatur nuhun Anjeun tos nyiptakeun manehna lajeng Anjeun panggihkeun ka abdi.
Hatur nuhun kamari nu kacida endah marengan kami.
Hatur nuhun kana sagala pamendak nu karandapan tur kalangkungan ku kami.
Hatur nuhun kana sagala nu parantos.

Abdi seja sujud payuneun Anjeun.
Sucikeun hate abdi, Nun nu Gaduh Sagala Suci, supados tiasa ngalaksanakeun kahoyong tur rencana Anjeun dina hirup abdi.
Nun Gusti.., upami abdi sanes sarangka iga-na, ulah antepkeun abdi sono ka jirimna.
Ulah ingkeun abdi muragkeun ieu hate di hatena.
Ipiskeun balebatna tina juru panon abdi jeung singkahkeun manehna tina jero hate abdi.
Gentos.., sono tur cinta nu ngageugeuh na ieu dada ku deudeuh ti Anjeun jeung keur Anjeun nu tulus tur murni.
Tulungan abdi supaya tiasa deudeuh ka manehna salaku umat sawajarna.
Mung saupami Anjeun nyiptakeun manehna kanggo abdi, Nun.. nu Maha Nyiptakeun.
Bantosan hijikeun kami.
Bantosan abdi keur mikacinta, ngarti tur narima manehna sagemblengna.
Pasihan abdi kasabaran, katekunan oge keyeng kanggo nenangkeun manehna.
Anginan manehna supados mikacinta, ngarti tur narima abdi kana sagala leuwih jeung kurangna abdi salaku jieunan Anjeun.
Yakinkeun manehna yen abdi nyaan mikacinta tur rela ngabagi pait-amis abdi ka manehna.

Nun Gusti nu Maha Asih, mugia nguping doa abdi.
Leupaskeun abdi tina sagala ragu numutkeun asih sareng qadar Anjeun.
Anjeun nu Maha Moal Leungit, abdi yakin Anjeun salawasna masihan nu pang saena keur abdi.
Kuciwa, bangga, ceurik, pon kitu waas nu aya hamo bisa di pungpang. Kanyeri, ragu, kabungah, oge hariwang nu karandapan tangtos aya hikmahna.
Padungdeng ieu ngajarkeun abdi supados langkung nyaketan Anjeun, supados langkung jentre kana sora Anejun nu bakal nunjukeun abdi newak caang Anjeun.
Ajarkeun abdi satia tur sabar ngantosan waktos nu tos Anjeun tangtoskeun.
Sing janten kahoyong Anjeun, sanes kahoyong abdi dina sagala bagean hirup abdi, Gusti.

Amin...yaa rabbal ‘alamiin..

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)