ini adalah semacam semburan muntah ketika terlalu puyeng dalam suatu perjalanan. suatu ke-nothing-an yang ditorehkan menggunakan panangan kiwa (tangan kiri). sebagai bentuk penyeimbang dari keberadaannya yang selalu diartikan kurang sedap daripada sebagai pelengkap dari tangan kanan. maka dari itu, dengan segala kekiriannya, ini semua dimulai..
31 January 2009
kata
untuk direngkuh mentari, lalu bersanding.
katakata kutabur dilautan
bersama gelombang, hidup kian merona.
katakata kuludahkan ke api
biarlah, derajat kesekian
pasti menjadikannya kering.
25 January 2009
Doa keur kakasih
Abdi seja sujud payuneun Anjeun.
Nun Gusti nu Maha Asih, mugia nguping doa abdi.
Amin...yaa rabbal ‘alamiin..
(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)
05 March 2008
serpihan 15
menggapaimu
engkaulah butir debu pada langkah pertamaku,
menempel dalam paruparu setelah terhisap.
engkaulah riak kecil yang menjelma ombak,
menghantam terumbu karang tuaku telak.
engkaulah semilir angin dalam kepakan sayap
terbangkanku tinggitinggi tanpa arah pasti.
engkaulah satu tanggal dalam ribuan kalender.
engkau seperti abadi,
dan aku, masih terus mencoba menenum namamu
dalam kain hatiku.
perlahan.
diamdiam.
peringatan
"awas, jangan dekati daerah itu, karena akan membuatmu menderita jika kau kurang mengerti!". "aku tak apaapa. aku baikbaik saja. jangan khawatir..", katamu dengan isakan menahan rasa pedih.
nostalgia
hujan telah turun berkalikali disini,
membasahi tanah merah yang telah lama kering,
membasahi kaca jendela kamar yang buram,
dan kemarau dimataku yang luruh bersama kenanganmu...
serpihan 14
untukmu
bicaralah. jangan diam
lebih baik aku dengar serapah.
biarlah bersalah. lakukanlah.
melajulah malaikat kecilku
sampai laut mengering
sampai kantung mata memberat
bergadang sepanjang kabisat
masalalu sempit hilangkan.
adalah sekarang.
masadatang...
jangan banyak berharap!
saking nikmatnya
tanggal dan hari yang terlupa
bias pelangi menyelimuti
menyentuh sumsum imaji
lalu melepuh bersama awan
menangis....
kompromi
adakah arah kiblat kita sama
ketika cakrawala pemikiran terlampau luas
bilakah persepsi tentangnya berubah
marilah kita satukan pandangan
jika itu mungkin.
wasiat
jika tua memaksaku terbaring,
aku akan mulai bercerita;
tentang hidup dan kasih.
ada sadar tak perlu diisaki
hingga pintu terbuka dengan persilahan khidmat
tinggalkan namaku dalam tiap benak
tertulis dengan pahatan kata
sejelas hidup dan mati
sejelas kasih nan murni
pergiku 'kan tersenyum...
bukan yang dulu
kabut dan angin berbisik
;dari gunung; arungi malammu.
inspirasi bertubi, tapi bibir kita
kian kelu membisu
membuat mata kita menyalang
tak terhadang
juga kepala kita muali mengecil
menggigil nyaris pecah.
tapi asa tak kubiarkan meraja
ada batas yang bangunkanku 'tuk sadar; "kita bukan yang dulu"
serapah pagi
pagi adalah mati
dari segala keindahan sinar mentari
beserta nyanyian burung, serta sisa suara malam.
dari dimulainya kehidupan
penentu segala kejadian nanti
pagi yang dingin dan senyap.
pagi telah mati. disini. saat ini.
mungkin nanti.
demi pagi yang akan datang
demi pemilik pagi.
bangunlah.
serpihan 13
bahagia?
mimpi dan damba kami bangun dari tekanan
tahap demi tahap coba kami hitung
apa yang terdapat dari langkah
hanya menepi dan ditepi. terjepit
adakah basa yang mesti terucap,
sudikah harus merintih
bilakah merasa bahagia
kamar gelap diam
tanpa sekat tak berjendela
hanya luka sepi yang menganga
dingin. kusut. hancur
mestikah tetap bahagia?
haruskah bahagia?
hidupkah bahagia?
matikah bahagia?
ada. cinta.
adakah cinta selalu menawarkan gigil dan rawan? berbusana corak putus asa berkalung manikmanik luka.
jangan banyak omong tentang cinta, muak! tertalu banyak yang sok tahu tentangnya.
lebih baik jatuhkan diri pada cawan imaji, visualisasi terapi, atau menelurkan ide dahsyat yang melintas diatas kloset.
adalah wajar kalah-menang dalam hidup. judi, pilihan, kompromi, hidup. hiduplah dengan damai melalui kompromi.
adanya selalu membingungkan. itulah kehidupan.
adaku mungkin belum berarti. maaf.
adamu memang aku jadi dungu dan ragu. selalu.
ada, satu hal yang kian parah, tapi terserah....
adakah?
aku
aku
seperti berpikir dengan otak tak berisi memberangus kala letih pada mata yang mengabur intim dengan gelembung nanah menghitam bersama doadoa membusuk ketir_tertunduk pada nisan abu nan amis. kepakan diberanda menarik ditiduri oleh siang. hati tak lagi murni dan aku masih meraguj dalam syahdu_adakalanya nyanyian candu memberi apa yang kita tidak sangka, tak ada yang tahu ending masingmasing. aku terbangun karena gigitan kepinding_aku masih perlu menangis_aku butuh bahasa paling sedih_aku mencari tempat paling gelap_aku tak ingin tuhan cemberut_aku ingin tuhan tersenyum kala aku berkata.
pada
pada cangkir jingga ini aku pernah terlena. arungi segala asa yang mensyaratkan untuk bisa diakui. berpamrih! tanpa hijab, tanpa alaskaki, tanpa pandita, tanpa persembahan, tanpa dalil, tanpa aturan, tanpa pengorbanan, tanpa sakit, tanpamu....
pada tangga lapuk ini pernah kupijakkan satu langkah dalam ketidakpuasan. jiwa yang ragu. menyatu keringat yang menganak sungai. berderit, memerah, berlari, meredam lalu. lebih baik terjun dalam pesona kentut yang melaut. seperti laut penuh inspirasi. begitu juga kau.
pada malam ini kutitipkan cemas yang menggigil. sembunyi pada ketiak malam, lalu mengintip dengan rasa waswas dan cemas.
pada saat ini aku benarbenar merasa khawatir akan apapun. tak terkecuali kau.
selamat menjadi...
dongeng sebelum mati
aku butuh dukungan, doa dan serapah. aku perlu keajaiban yang menjelma dengan sayap dihiasi senyum getir tersembunyi. nyaris hilang.
jangan dendam dijadikan doa! tekan serapah membuncah. pilihan antara terus mencari dan berhenti sama sekali merupakan hal yang dilematis. tak ada ujung. tak pernah puas.
irama selalu menyertai dalam setiap langkah, dalam tiap detik. deg-deg, deg-deg, deg-deg... terus mengalun berirama. desah, terus mendesah. jangan resah jika tak ingin tambah parah.
tak selamanya ritual kedewasaan itu maha radikal. pertikaian juga kadang memberikan kontribusi kedewasaan. tak selalu radikal, hanya sedikit perih. tapi nikmat!
nikmatilah. matilah.
matilah dengan segala yang kau temui.
demi
demi darah dan airmata. jangan pernah mempermainkan kehidupan, tapi kita memainkan peran dalam kehidupan.
demi langit dan bumi. harus sebesar apa kita menjadi, kalau tanpa memaknai hidup. hidup bukan poleng atau yin-yang atau papan catur
demi anjing tanah. segala hal bisa dijadikan analogo, ilustrasi, cerminan, ibarat.... laut, sandal jepit, udara, matahari, karang bahkan tai. kita dapat, boleh dan mesti bercermin pada mereka.
demi dengki dan caci maki. banyak dari kita berperan layaknya kita pembenar, pembebas, idola, selebriti, kadal bau, musuh, bunglon, tuhan, patung, sambal, klip, nabi....
demi ibuku. tak bisakah kalian lebih peka terhadap hidup kalian?
demi kotoran. karena itu juga cerminan. tenang, terayun dan tak jarang hancur, tapi dengan tujuan pasti; samudera luas. ahkir segala akhir.
demi aku. jadilah kalian musuhku, sobat. buat aku menangis. lakukanlah. doa, haru dan syukurku tak akan lekang oleh masa.pelajaran hidup
siapa yang mau, coba, menanggung perasaan tanggung tak bertuan dan hati yang sedikit asing. ketika harapan hanya sebagai asa dan bayangan mimpi buruk terus bergelayut. terlambat lidah 'tuk berucap kepedihan; sesal.
dan kata itu memang percuma.
kupalingkan perhatian pada sebuah hati yang mulai membeku dimana segala yang ada didalamnya sudah mengeras. sakit, senang, marah, aneh, merah, biru, seribu, hitam, seratus, bernyanyi, masalalu... semua ada disana. menyatu dalam tanya.
hanya api cinta yang mampu mencairkannya dari benci dan cinta yang hanya dibatasi satu per sejuta rambut. tipis.
lagilagi sarapan pagiku tak jadi, karena kekenyangan oleh ocehan bebal sok tahu tentang kehidupan; pemimpi!
"harusnya kau bercemin pada sandal yang kau pakai, tak usah susah", katamu.
kutunggu saat penting lagi untuk bisa berbisik ditelingamu: "alaskaki memang asyik!"
serpihan 12
syair ulang tahun
gigil mengintip di celah tembok kamar
kuinjak detik hari ini
sadar akan saat hidup ini
menyingkap tabir kelam mendung
pada ayunan langkah
masih terperangah
tetap terengah
beranikah sanggah tatap matahari?
semulia apa kerjamu
sejauh mana mengertimu
pikirkan matimu
penuturan
kututrkan dirimu di pagi hari
panjang, lebar, meluas
seperti laut.
jawaban
singkirkan darah ditengah mata yang kian mengabur. memburu tiap ragu yang hinggap dalam pekat tak berujung. berruang tanpa oksigen. menebus harapan yang akan berbuah ketakutan dan kepedihan. menangislah. menarilah.
kasmaran
... hal ini selalu mengajakku rambahi pekat
dalam tanya pada malam. merekat.
mengawang.terbang.mengangkang.terjengkang
seperti menulis pada awan bulan
juga awan matahari
; jangan lelah bersamaku
tanya,
menangislah....
dan semua terjawab
serpihan 11
'ied
melaju kencang ba'da ritual harian
menyibak tikaman-tikaman kabut
menusuk poripori
pada musim hujan november
menyambut kemenangan.
perlukah keindahan dinamai?
takbir menggema,
tambur perhelatan akbar ditabuh
mengayun langkah masuki kesucian.
tiap rona bahagia
tiap rona berwarna
perlukah keindahan dinamai?
baiknya kita tanya tetes kabut dini hari...
memang noktah
jangankan kaligrafi kebahagiaan,
menatah alif cinta padamu tak kunjung lurus.
apakah mesti bermula dari noktah?
lalu noktah lagi
dan lagi
lagi
dan mungkin....
memang hanya noktah yang ada.
masih sebatas noktah.
matahariku
kuutarakan hasrat di dini hari
dimana tergambar wajah berbintang; matahariku.
kau
kau lengkungan senyum dibatas letihku
kau keajaiban dalam ketakberdayaanku
kau kesalahan kala terpanaku tergelar
damai dan tikai mampu kau cipta
pegang-putus kendaliku padamu
malam
malam ini aku rindu lantunan suaramu
persetan parau dan sumbang
malam ini kau misteri
tak peduli bingung mencari
malam kapan kita terpatri
serpihan 10
cinta
datang tak dipinta
pergi dengan terbata
; cinta
yang kurindu
kucipta dengan kejujuran berguguran
ketika pikiran gundah meludah
mungkin kapak mengepak
pisau memukau
pemantik menukik
api jadi jampi
hangus mendengus
lalu lantak serentak
menunggu kiamat mengkhidmat
kucinta kejujuran berguguran
ketika hati meludah sudah
akankah jiwaku-mu bertemu?
tak ada. tapi kau
tak ada yang membuatku menukik.
hanya yang elok dan memesona, lalu membat
nurani menjerit; kau.
bangun tidur
hati lantak
memulai pagi tanpa cinta, rumit
menendang siang
menikam malam
lalu sangsi akan hari.
esok,
entah apa 'kan menyusup pada hidup
serpihan 9
untuk kader
gantung lelahmu dileher partai
guntung malumu untuk presiden
buntung asamu pada masa depan
gantung lehermu di lelah zaman
untittled
padahal pernah terasa seperti kelam yang panjang
merontokkan setiap lubang dalam tubuh, menyumbat seluruh lubang poripori
pebruari
pebruarimu jatuh diatap hatiku
sebelumnya sempat beradu terik
selintas kenangan samar itu tak jua mengering
merah hitam perih serupa borok
rabaanmu sempat membuatnya nyaman
sebelum meremasnya hingga nanah membuncah
ceritaku; berita derita
beritaku; cerita derita
deritaku; ceritaku
pebruarimu terinjak di kakiku
entah seperti apa langkah bercerita
ulangtahunku
aku masih belum berani menatap
masih banyak yang perlu kumengerti lagi
jauh dari mulia kerjaku
jikakah ku mati saat ini?
aku tak mau mati lagi
aku akan hidup!
benarkah usia sebagai tolak ukur dari kedewasaan,
jika tiap detik hanya diisi dengan celoteh kabur
lalu menyembunyikan kepala di balik ketiak langit
setiap kali melontarkan perkataan?
...dan tiap ceracau adalah sampah
sapaan pagi
apa kabar bidadari. adakah pagi ini kau bangun dengan tersenyum, serta suguhan kasih sebelanga dengan khawatir sebagai cuci mulut?
pernikahan
-menikahlah dengan jiwamu bersama jiwamu-
segala rasa menyatu dalam hati
tanpa tawar menawar,
ritual paling radikal
upacara paling irrasional
kata paling dahsyat
dan terjadi
kelahiran
aku lihat lingkaran ritual terjilat lidah kuta
nyanyian pengusir leak menggema membahana
membelah cadas meniup rahim ibu
kau....
menangis darah menderu ombak
bakal decak seperti kecak
sebab mengabari cecak
kau....
wajahmu pagi mei
sanggup memanah mentari
hingga alam raya mati suri
aku lihat lingkaran ritual menari
nyanyian penghormatan menaburi
karena tahu kau, bidadari
serpihan 8
mu-mu
kepalamu-kakimu,
hidungmu-pantatmu,
otakmu-kotoranmu,
pintarmu-bodohmu,
masadepanmu-dosamu!
karenamu...,
marahku.
nikmati perjalanan nerakamu!!!serpihan 7
sudahlah...
lingkaran kesal terus tergantung
diatap hati. berlendir sudah.
terasa menetesi hitam mata
membuat lelap dalam kuru dan ragu
serupa gurun menunggu salju,
termangu dan lesu.
semua telah terlaku.
pasrah
dipuncak kegelisahan biasanya aku diam. pasrah.
karena aku sudah lelah mencaci maki.
kemanakah?
kemanakan kaki melangkah jika kepincangan kian akut?
kemanakan mata mesti memandang jika yang ada hanyalah hitam?
kemanakah hati dan jiwa tertambat jika kau masih labil dan terambing?
serpihan 6
perjalanan
menggema. masih ditelinga sebelah kiri
singgah di selaput, belok ke otak.
waktu dan umurku tercecer di kotakota katakata
memuai memesona diantara ketakaburan
aku datang bersama darah, keringat
airmata dan sperma yang terkucil
menuruni masalalu, berjamur sudah
terkekeh berderai terbahak berdahak
ternyata masih timur ini juga
dari barat yang dicari.....
kau pelangi
.....tak semua orang mampu jadi pelangi. pelangimu turun bersama titik embun pagi di ujung daun jambu belakang rumah nenek; indah....
kamu pelangi, apapun keadaannya.
terimakasih atas warnawarnimu
untuk ditertawakan
padaku; caci dan maki mendarah-menadi,
tapi bukan infeksi dan tidak menular.
caciku suci, makiku bukti!
karena semua kata adalah doa
telah biarkanlah lelah, akan pasti kumakan.
aku hanya punya tawa untuk parodi wibawa.
serpihan 5
untuk puisi
demi apapun; rindu dendam
'ied
kering bibir, lelah tubuh, penat pikir.
kaku senyum, pegal tangan, formalitas kata.
semua biasa. realita.
yang beda hanya makna dalam benak.
maaf
belajar melafalkan
geramku seram. tawaku nyawa. batinku liontin
lantas, kemanakah cinta jika kata mulai terbata?
dimana fortuna, jika hasilnya adalah tanya?
subuh
subuh sampaikan kepal diujung daun
lebam hati tertetes embun mu
pada kesekian kali hirupan nafas.
aku benci pada hati yang mampu
membuat orang sesak oleh kisah.
aku sesali punya lutut yang lemah
lalu tertekuk kala kau mengetuk.
aku kutuk katakata jadi buta
hanya padamu kutitipkan mata.
subuh jejalkan rindu ditebing lantun
dalam lamun; akh, penuntun santun.
cobacoba abaaba
mulamula malumalu maumau
tibatiba siapsiap raguragu
ujungujung buruburu!
engahengah, desahdesah, rabaraba
tataptatap, merahmerah, decakdecak....
cecakcecak marahmarah jingkrakjingkrak.
lamatlamat gonjangganjing desasdesus
kabarkabari; goronggorong megapmegap.
spermasperma jejaljejal ketawaketawa.
hahahahahahahaha,hihihihihihihihihhihi
dosadosa biasabiasa
doadoa busabusa
dewadewa diamdiam mesemmesem
lantaslantas larilari hatihati.
27 February 2008
serpihan 4
ibu i
multi pribadi dalam satu pribadi
ragam rona dalam satu wajah
aneka kasih dalam satu hati
......
satu jasad untuk ribuan sembah
satu isak untuk segala sesal
satu harap untuk segala khawatir
jangan pernah jauhkan tumitmu dariku
ibu ii
sekali setengah mati
dua kali -tambah setengah lagi-, mati
tiga kali -tambah lagi setengah-, mati setengah mati
empat kali, apalagi, tambah lagi. mati mati
lebih dari itu, makin mati-matian
..kau takkan pernah mati, bu...!
serpihan 3
aceh
... aku marah karena tuhan telah memulainya
putus
mendung ini menyesakkan.
aku tak mau jika hujan melelehkanku
aku rindu senja yang beberapa hari ini terampas
aku terhempas. setelah terkuras teremas
ukh...., aku hampir lupa bernafas!
sophia
getarmu riak gelombang yang sanggup menjelma badai.
percikmu tepiskan gelap harapan yang mgnungkung hati
degupmu kencangkan berjuta sel dalam saraf memburu degupku
selain sayap, punggungku menyisakan banyak sejarah
bersama jiwa, daksaku menoreh sejarah
bersamamu, semua mimpi jadi nyata
bersama, selalu itu dalam doa
aku tak mau sayatkan sembilu di sukmamu.
serpihan 2
perjalanan
aku berada di batas antara sukur dan kufur
mengunyah derita mencerna bencana
proses, proses, proses....
pada rahim menjelma produk sinis
pada anus hanya kentut sakit hati
aku bosan bersikap seolah-olah biasa-biasa
baik-baik. tenang-tenang. senang-senang.
nyata-nyata, endap-endap menyucuk kepala
pikiran mengakhiri hidup ada
bayangan dalam bui menghinggapi
memilih untuk gila kian menggila
aku hanya manusia
aku hanya bercerita
aku hanya tertawa.
bintang jatuh
kucabut pohon itu, seakar-akarnya,
yang masih menitikan embun dini hari
o, betapa ia telah membasahi bumi,
bau sedap dan lembab dimana-mana;
betapa titik hujan, betapa menyilaukan
bintang-bintang jatuh di wajahku,
dimataku!
ternyata cinta
...ternyata, cinta masih tetap bergadang.
mengawang. terbang. mengangkang.
sepertinya ia menulis pada awan bulan dan matahari;
jangan lelah bersamaku
pertemuan
sejak pertama, kau ikat aku dengan sorot
ada ikrar mistis pada tiap ucap
seperti bela pada bunda
seperti kesepakatan dalam rahim dengan tuhan
sejak awal, kau jaring aku dengan bayang
ada niat suci dalam harap
seperti tekad menangkan perang
seperti maksud persunting puteri
05 July 2007
serpihan 1
doa
kadangkala turbin macet
terengah mengayuh
bahkan berhenti sama sekali.
perlu seorang tukang
perlu onderdil tambahan
bahkan baru samasekali.
sewaktuwaktu matahari redup
siang hilang
hingga gelap.
tak banyak yang mempertanyakan
tak ada yang perlu diperbaiki
tak ada khawatir.
esok terbit, harapan.
suatuwaktu aku jatuh
tak bisa menangis
susah merasa
hilang peka.
lalu aku rindu luka
merasa butuh sakit
berharap bangun…
bangunku baru sampai duduk, ternyata.
gejolak
keramasku pada bulan seujung mata
berdebur mengaduh berbasah kata
serapah dan dusta raja senjata
dan senyumku masih terbata
nyatanya tanyanya tetap nya nya
haha hati juga terbata membata
Tentang hidup.
perjalanan adalah menemukan suatu pencarian
tak ada yang mulus dan searah dalam menapaki
kadang terjal dan licin, kadang kasar dan berdebu
kadang lelah dan berpeluh, kadang seperti itu…
sekali waktu mungkin kita merasakannya
berhenti sesaat,
berpikir antara meneruskan dan berhenti sama sekali,
selalu menjadi topic. berputar dalam dada
barangkali nafsu yang berbisik
tak sudi berkompromi dengan akal,
lalu membuat nurani membusuk
nurani?!
bukankah nurani telah mati gantung diri
karena malu telah diperkosa beramairamai?
makanya wajar jika kita selalu terlunta di hutan
idealisme dan
jangan bilang siapasiapa; kemaluanku telah lama
terpuruk di lautan limbah peradaban dan kemanusiaan.