Showing posts with label make hate. Show all posts
Showing posts with label make hate. Show all posts

02 February 2012

KANA STILL ON

#..karena hidup adalah untuk di tertawakan, kawan.

Beberapa hari ini Kana begitu telaten mengajari kami, orang tuanya. Banyak maunya dan tak luput di akhiri dengan nangis bombay yang bikin pedih hati siapapun yang mendengar dan melihatnya. Bagaimana tidak, ditanya apapun, selalu jawabannya adalah tangisan yang semakin mengeras. Sebuah bahasa yang memang aduhai kompleks nan mistis.
Dalam seminggu, barangkali ada 3 ato 4 hari, tiap hendak menuju tidur ia nangis seperti itu. Bisa nyampai 1 jam lebih. Setelah itu, ia hanya bisa nyusu di dada ibunya sambil sesekali sesenggukan. Suaranya parau.
Dan sekarang, ia sedang berdoa panjang sambil di dongengi ini-itu bersama ibunya.
....
Saya, untuk sementara waktu terpekur. Mengingat dengan segala daya ingatan tentang bagaimana saya ketika berumur seperti Kana. Membayangkan bagaimana orang tua saya juga mengalami perasaan mistis dan agung seperti yang saya dan istri saya alami sekarang. Perasaan tentang keentahan. Antara kasihan, sayang, jengkel, cinta, kalut, tagiwur, waas...
Ternyata hanya tawa kecil yang muncul. Tanpa suara. Bahkan tanpa sungging. Tertawa yang entah juga tentang ekspresi apa. Menertawakan saya yang lucu nan menggemasakan tapi juga menyulitkan orang tua, ato malah tertawa kecut karena mangalami juga hal seperti ini karena menjadi orang tua.
Percayalah, kejadian sepahit apapun, jika dikenang sekarang, hampir dipastikan kita mengenangnya dengan tawa.
....
Ada yang semena-mena nylonong dalam pikiran saya. Tentang teman-teman dulu semasa di pesantren. Masa dimana tak ada sedikit pun terpikirkan bagaimana kami sempat bayi dan imut. Ato membayangkan bagaimana kami akan menjadi orang tua. Masa itu adalah masa hebat. Masa dimana segala ekspresi bisa tumpah ruah. Segala berani yang mengesampingkan resiko, meski tak jarang juga menjadi masa kelam yang ‘cukup masa itu saja mengalami’.
Beberapa berkelebat dengan anak dan pasangannya. Sebagian lagi berekspresi seperti perpaduan antara tertawa dan terpekur; melajang. Si pintar yang kadang malas ato jorok, sekarang sudah 2 anak dengan pekerjaan yang sangat disayangkan kepintarannya. Si gaya yang sebetulnya penakut, masih asik dengan dunia gayanya. Si nakal yang kreatif, sudah beristri dan menjadi orang yang di pandang sangat arif di lingkungannya. Si bodoh yang dermawan, sudah mengendarai mobil mewah dan mempunyai keturunan yang cantik. Si ganteng yang ‘kolektor’, masih saja betah dengan status menyendirinya tapi tanpa hubungan khusus yang sudah cukup lama.
Dan lagi-lagi, saya menyungging untuk ekspresi entah. Ada rindu, tentang bagaimana suatu masa yang sedemikian menyita pikiran. Ada kecut juga sesal, tentang bagaimana suatu masa yang menyita pikiran tapi tidak begitu termaksimalkan.
Saya membayangkan berkumpul kembali. Membuat ‘sesuatu’ demi ikatan kami dan keturunan kami kelak. Berbagi tanpa perlu pretensi tentang bagaimana ketir hidup di lalui. Berbagi, berbagi dan berbagi. Bertekad supaya anak keturunan kami tak ada seorang pun yang gamang menghadapi hari depannya. Bertekad siapapun di antara kami yang kesusahan, kami ada (meski sebagai second line) untuk bisa membantu dan menghibur. Bukan melulu materi, tapi juga spirit.
Dan lagi-lagi, saya tersenyum untuk lamunan ini.
...
Kana sudah tidur. Ibunya juga. Keduanya tampak kelelahan. Kana masih sesenggukan meski matanya begitu rapat, sedangkan ibunya tergolek tanpa gerak dengan sedikit suara dengkur yang lirih. Indah dan haru.
Saya menutup pintu kamar, membuka sedikit pintu rumah, lalu menyalakan rokok. Berharap ada yang nylonong lagi. Tapi tiap hisap dan hembus yang aku lalui, semua hanya sungging kecil. Saya hanya bisa tersenyum di bibir dan tertawa di hati.

Bandung, desember 2011

13 May 2009

Need-want.





Selamat (apapun) untuk kalian yang sedang dilanda keselamatan (apapun) saat ini.
Marilah kita sejenak menundukkan kepala dan menafakuri suatu hal yang (angger!) sering dianggap nothing, tapi ternyata berefek everything. Suatu hal yang terkesan biasa namun ternyata berdampak luar biasa. *hey, lo jangan dulu berkomentar,’ya itu tergantung orang yang memandangnya dong, bo..’. Tunggu dulu. Komentar kayak gitu selalu bikin suatu harus berhenti dan haram diteruskan*. Biarkanlah dulu aku membuihkan mulut dan mengeringkan kerongkongan.

Sebelum aku membahas tentang judul di atas, ijinkan aku mengutip salah satu quote keren nan dahsyat yang datang dari sms seorang teman beberapa bulan lalu yang mengomentari nothing-everything menurut versinya yang masih aku inget;
“when I become nothing, I’m connected to everything”
Quote tersebut memang bukan apa yang ingin aku bagikan disini, tapi aku hanya ingin mengilas dan mengulas tentang sesuatu yang nothing itu bisa everything *plis, med. Jangan muter-muter deh!*.

Oke, mari sini. Aku ingin membagikan sesuatu yang berhubungan dengan judul diatas. Tapi stop dulu pikiran kalian tentang bahasan yang akan menyangkut ke arah kapitalisme dan ekonomi. Tentang konsumerisme. Tentang budaya kekinian. Tentang fenomena sosial… Ini semua tentang aku dan apa yang sedang aku rasakan; tentang curhatku. Meski memang tak bisa dipungkiri segala ‘tentang’ yang ada di pikiran kalian bisa disangkutpautkan juga. *piss ?*
Tentang aku yang merasa utuh hanya dengan membaca sms ‘aku BUTUH (need) kamu’ dan bukan ‘aku INGIN (want) kamu’. Sms dengan segudang makna luhur yang (selalu) akan bikin aku merinding membacanya. *guys, bulu kudukku mulai merinding nih. Sumpah!*

Sebut aku lebai jika kalian menganggap aku sedang dalam kepurapuraan. Anggap saja aku mendramatisir jika kalian pikir aku adalah pemimpi tanpa pondasi. Tapi perlu kalian tahu, aku menuliskan ini setelah aku mengalami dan merasakannya. Dan sekarang aku hanya sedang mencoba sedikit memaknai apa yang teralami. Memaknai tentang apa itu ‘cukup’ dan ‘kurang’, apa itu ‘proporsional’ dan ‘ketimpangan’. Aku hanya berusaha menjadi pribadi yang (b)utuh. No more no less.

Sungguh, ‘ada’nya tulisan ini hanyalah sebatas ‘proses’ku untuk ‘menjadi’ sebelum aku mati. Kalau pun harus ada yang aku inginkan saat ini, aku hanya ingin butuh. Semoga kebutuhan terbaik yang akan aku terima.

Akhirul kolom;
Puji tuhan yang telah menciptakan kata dan menghadirkan makna.
Terimakasih tuhan yang telah menciptakan si pengirim sms.
Maafkan aku tuhan, si (yang merasa) serpih yang selalu bermimpi utuh. Si (yang sebenarnya) utuh yang masih sebatas serpih.


can you feel the love tonight?






There's a calm surrender to the rush of day
When the heat of a rolling wind can be turned away
An enchanted moment, and it sees me through
It's enough for this restless warrior just to be with you

And can you feel the love tonight
It is where we are
It's enough for this wide-eyed wanderer
That we got this far
And can you feel the love tonight
How it's laid to rest
It's enough to make kings and vagabonds
Believe the very best

There's a time for everyone if they only learn
That the twisting kaleidoscope moves us all in turn
There's a rhyme and reason to the wild outdoors
When the heart of this star-crossed voyager beats in time with yours


Lirik itu begitu 'tak sopan' menjitak ujung pikiranku. bertingkah seperti bocah; haha tanpa prasangka, hikshiks minim licik. Jujur, tak kumengerti juga lirik itu secara keseluruhan. Tapi, ada semacam instrumen pendukung suci yang bercampur 'sedemikian rupa' dengan dosa lumrah. Sebelumnya beradu terik antara beda juga rasa. Bersama persepsi, idealitas dan kompromi, ternyata dia muncul juga.

“Aku bukan pencemburu. Aku hanya sedikit ketakutan aja dengan sifatmu yang ‘ga enakan’ itu”. Katamu di sela gelisah terbalut hening.

“Itu bisa jadi memang sifatku. Aku tidak bisa memungkirinya. Tapi tenang aja, selain sifat, aku juga punya sikap, ko. Dan sikap itu yang akan menjadi penyeimbang dari segala kealpaan dan kekurangan sifatku”. Balasku secepat mungkin. Berusaha mencari cara dari kepolosan bicara yang salah.

“Tapi kan kecenderunganmu itu sangat kuat. Apalagi kamu pernah punya pengalaman masa lalu yang lumayan berpengaruh. Belum lagi gossip, perlakuan dan kelakuanmu”. Katamu lagi.

Aku tertawa spontan. Yang dianggapkan sebagai ketakutannya samasekali tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Bahkan terkesan absurd dan kecil kemungkinannya meskipun mengacu pada sifat dasarku itu.

“Aku memang nyeplos dan spontan. Tapi minimalnya, mohon anggap itu sebuah kejujuran meskipun bisa jadi selebihnya adalah kepolosan dan ketololanku. Maaf kalo itu semua bisa bikin perasaan kamu terganggu”.

“Ga papa. Aku hanya sedikit ketakutan aja. Kamu bisa telpon aku lagi ga?”


Lalu dalam hitungan menit. Suasana sudah mulai mencair lagi. Sesekali ada hal yang cukup nyerempet dan curam. Tapi selebihnya, dinikmati aja. Karena ku yakin, cinta bukan ‘a free lunch for God’. Bukan gratisan. Dibutuhkan cara juga usaha disana.

Elthon John mengingatkanku akan kejadian itu. Entah kamu..

04 February 2009

momen

Bandung, pertengahan januari 2009

Kuku. Lagu. Badminton. Gondok. Jalan kaki.

Kata diatas adalah beberapa kata yang menjadi pikiranku hari ini berdarsarkan urutan waktu. Influence aneh yang teralami. Hanya saja entah bagaimana mengalurkan cerita hari ini. Sebagai tameng, maka dalil yang selalu kugunakan adalah: “don’t think, just write!”

...

Lagu mamapu mengingatkan kita akan sesuatu. Nama, kejadian, tempat. Momen. Meski lagu itu dinyanyikan oleh pengamen, tak ayal pikiranku langsung mengingatkan momen tertentu dari lagu tertentu. Sebodoh apapun lagu itu, penggalan liriknya kukutip juga untuk dijadikan kuis kecil-kecilan untuk seseorang melalui sms:“-…. Penggalan lirik…- tahu judul dari penggalan tersebut?” Begitu kira-kira kuis itu.

Momen. Sebetulnya judul kali ini bisa diwakili dengan kata itu. Semua ‘keyword’ diatas mampu dan layak untuk dirangkul sang momen. Tapi tetap saja, aku hanya terus menulis.

Aku bukan pemerhati dan penyuka lagu fanatic. Apalagi dengan lagu dari band kebanyakan yang lagi sering ditampilkan televisi yang sering aku merasa aku bodoh sendiri *hey, bukankah itu berarti aku memperhatikan?!*.
Lirik yang jauh dari mendidik, irama yang nyaris sama dari band satu dengan yang lain, tema yang selalu itu-itu saja.

Temanku yang musisi marginal pernah berseloroh;
“itu karena mayoritas penduduk kita hampeir 80% kurang pendidikan jika tak mau dikatakan bodoh. Maka jangan heran apapun yang disajikan, meski memang obyektif dan demokratis, ga bakal jauh dari cerminan mayoritas. Yang penting pasar, med!”. Sekali lagi, aku biasanya tak peduli. Tapi untuk kasus ini, tak ayal aku mengernyitkah dahi juga. Memikirkan hubungan: obyektifitas dengan pendidikan, dengan demokrasi, dengan pasar, dengan musik.
Lalu diam-diam aku mengiyakan dalam kulum.

Tapi sefrontal apapun, tetap saja, selalu ada sisi kompromis dengan mayoritas.
Membenarkan sesuatu yang dianggap kurang benar sebelumnya. Maka sebutlah itu suatu kebijakan nan kompromis.

Ijinkan aku mengutip lirik dari sebuah lagu;

Baiknya kau melepas diriku

Yang tak pernah bisa mencintaimu
Seharusnya tak kusimpan iba ini
Yang membuatmu terluka
...
Maafkanlah diriku
Yang tak pernah bisa mencintaimu
Maafkanlah diriku
Semoga kau mengerti.

Lagu Naff. Judul aslinya aku tidak tahu. Sangat biasa. Begitu standar. Tema kebanyakan (dan membodohkan versi temanku!). Tapi momen yang dihadirkan oleh lagu itu tak dapat tergantikan oleh apapun. Kejadian sekali seumur hidup. Undeniable!
Jika bisa memilih, inginnya bukan lagu itu yang mengiringi momen tersebut. Bayangannya josh groban atau nat king cole atau norah jones atau malah musik orkestrasi-nya enigma. Tapi...

Ya, andai bisa memilih..


>> memperingati seorang dede hartati. aku tak akan pernah bisa menebus momen itu.

31 January 2009

nostalgic-romantic-traumatic



alam bawah sadar memang selalu menawarkan hal yang tak terduga. Mengesankan. Mampu membuat seseorang menjadi apa yang disebut dewasa, berkarakter dan berpendirian. Terlepas dari sudut pandang mana kedewasaan itu dilihat.

Adalah pengalaman yang selalu didengungkan sebagai guru yang paling berharga dan tak tergantikan. Sebagai ilmu absolute yang ditemukan oleh diri sendiri. Melahirkan teori, lalu mencoba melanggengkannya dengan pola pikir dan pola ajar yang (meski lebih diperhalus) memaksa. “ini pengalaman yang bicara. Kamu gak bakal pernah mengalaminya. Makanya menurutku ini yang terbaik yang mesti kamu lakukan” atau “pengalaman yang sudah-sudah aja mengajarkan kita harus begitu dan begini, ko”
Dan terjadilah apa yang disebut pembenaran pribadi, dijadikan tolak ukur kebenaran untuk siapa pun. Stereotype buta.

Hari ini aku memasukan beberapa yang teralami (pengalaman?) sebagai perwakilan contoh dari uraian cerita diatas. Tak perlu banyak, karena aku tak mau jika pengalamanku ini malah seperti pemaksaan pembenaran. (?)


Beberapa hari ini, teman-teman seangkatan di pesantren sering membicarakan secara 'dangkal' tentang rencana reunian. Berbagai macam alasan dikemukakan. Memperingati satu dekade sebagai alumni menjadi isu pertama. Kedua menyusul isu karena pertemuan reuni terakhir terjadi ketika tahun 2003. Itu berarti, sudah setengah dekade juga belum ada lagi pertemuan resmi yang bernama reuni.

Sinis-skeptisku muncul. Reuni lantas aku jadikan sebagai nostalgia aneh yang ingin terus menerus selalu diulangi. Membicarakan masa lalu dengan canda dan tak jarang cemooh. Tiap tahun seperti itu. Berulang dan terus. Minoritas yang bisa menganggap kejadian itu adalah ekstase tersendiri yang sarat manfaat. selebihnya merasa sia-sia.

Jauh di dalam hati, aku juga ingin mengadakan acara itu. Tapi kapan dan seperti apa, aku gak mau membayangkannya sekarang ini.

25 January 2009

sepatu

Jangan pernah bicarakan sepatu denganku didepan orang tuaku. Aku mohon. Jika itu terjadi, bersiaplah menerima “jutaan jarum rasa bersalah” menghujanimu melalui tatapnnya.

Tidak! Bukan karena orang tuaku akan bilang; ”lebih baik membeli pelindung kepala karena didalamnya ada otak yang mahal daripada membeli pelingdung kaki”. Bukan pula karena orang tuaku tak suka bersepatu. Tapi lebih karena sepatu adalah salah satu barang yang akan mengingatkannya pada rasa kasih yang (seperti) tidak komplit.

Seminggu kemarin aku membeli sepatu baru. Penting bagiku karena ini adalah pertama kalinya aku membeli sepatu dengan uang sendiri. Murni. Tanpa bantuan dari teman atau orang tuanya teman. Tapi dari gajiku dengan segala bangga.

Kebanggaan ini hanya akan aku bagikan kepada kalian saja. (sekali lagi) tidak pada orang tuaku.
Aku tidak mau jika kebanggaan ”hanya” sepasang sepatu ini mesti dihiasi titikan air mata. Jadi, cukup kalian saja.

Sepatuku memang tidak hanya satu. Semuanya ada empat pasang. Dua pasang warna merah (satu converse bahan kanvas, tinggi, pemberian dari boy tahun 2004 sekarang kondisinya lagi enak-enaknya dipake dan satu lagi, vans kulit oldskool, strip warna perak, bahan kulit dari kakang tahun 2006), satu warna hitam (yang ini model bestong/ semi talincang, pemberian dari adik iparku lebaran kemarin), terakhir adalah yang baru ini. Converse warna coklat muda, bahan corduroy dengan lapisan planel didalamnya.

Tiga pasang bertitel mantan; hasil dari kegemasan beberapa teman karena sepatu yang kupakai (sepatu yang menggemaskan itu sekarng entah kemana. Padahal itu juga pemberian dari bink) dan sepasang lagi tunggangan baru.

GOD****. AN****!!!!

Huehhhhhh…..!!! Aku ga kuat nerusin tulisan ini. Banyak rasa yang menggelayuti pikiran dan hati ini.

Sambil memperhatikan sepatu baruku, seketika satu bayangan muncul. Makin lama makin dekat. Gerakan mulutnya pun makin jelas dan bersuara. “Hampura mamah teu tiasa pang meserkeun sapatu-sapatu acan. Terakhir pang meserkeun teh basa aa rek ka DA we harita… eta oge butut-butut acan”.

Menyusul gambaran wajah coklat nan cabi mengkilatku sedang menginjak garut, berlatar cikuray, settingan pertengahan tahun 93, menuntut ilmu memakai sepatu dragon fly baru.

Lalu hanya air mata keentahan yang mengiringiku malam ini.

Sepatu itu rusak karena sering dipakai ke W.C oleh seorang teman berinisial H.Y dua tahun kemudian.

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.mutliply.com)

berpusing

Lingkaran setan: Pernyataan-pertanyaan

Kalau harus memilih satu kata dari dua kata yang nyaris mirip diatas, kira-kira mana yang akan dipilih? Bebaskan. Itu hak kalian. Hanya saja saat ini yang terakhirlah yang sering menggelayuti dan menghantui.

“jadi, udah ga ada usaha lagi, niy?!” Tuhan.., apa yang sebenarnya dia inginkan?! bukankah sebelumnya sudah dibicarakan panjang-lebar tentang nasib kita itu? Apapun yang akan terjadi, aku hanya ingin tak ada pihak yang akan dirugikan. Terutama antara aku dan kamu! Karena, kita memang prioritas!

Tak ada istilah menyesal dengan kejujuran. Segetir apapun yang dirasakan, asal itu merupakan konsekwensi dari sebuah kejujuran hati yang tak lepas dari segala niat baik dan berserah diri, pasti harus dan akan diterima dengan lapang dada. Tak ada paksaan. Apalagi rasa dendam.


Kembali lagi masalah ‘usaha’. Bukan aku ga mau dengan meneruskan ‘usaha’ itu. Hanya saja, sama saja pincang jika yang menghadapi tantangan itu hanya aku sendirian. Dan kamu sudah tak mau lagi meneruskan. Dengan alasan yang memang siapapun akan merengut karenanya. Tak terkecuali aku jika ada di posisi kamu. Tapi paling tidak, kamu telah memilih satu dari berbagai alternative. Proses untuk memilih itulah yang sangat aku hormati dan hargai.


“Kejujuran yang kurang beruntung”. Begitulah seorang teman bilang padaku. Dan memang kalimat itu pula yang terus dan terus merongrong hati yang kian gatal. Oh, terbayangkah bagaimana dilematisnya menghadapi kegatalan? Kaligata atau alergi, misalnya? Digaruk ga enak didiemin apalagi! Adakalanya ketika digaruk sangat nikmat dan tanpa sadar permukaan kulit udah melepuh; panas dan perih..!


Ya, seperti itulah aku. Diselimuti berbagai macam penasaran yang aku sendiri tak pernah berani mendefinisikannya. Apalagi menganggapnya sebagai wacana mentah belaka! Tidak. Tidak seperti itu. Terlalu gegabah jika begitu.


Disebut gegabah karena segalanya memang bukan untuk gegabah dan sembrono. Kalaulah semua kejadian ini adalah ke-gegabah-an dan ke-sembrono-an belaka, jangankan orang lain, aku sendiri pun pasti akan menyebut diriku adalah keledai buta yang idiot!! menghadapi ketakutan akan hal yang nampak dan berhubungan dengan sesama bisa jadi aku terjebak gegabah. Tapi jika urusannya dengan masa depan, dengan yang serba harap dan menyangkut dengan pencipta..? siapa pun pasti bisa menilai. Tenaga dan pikiran, jiwa dan raga, semua tertumpuk demi untuk sekedar mengucapkan ‘kalimat sotoloyo’ tersebut.


Jika pepatah cina mengatakan hidup itu seperti berjudi, selalu ada menang (beruntung) dan kalah (sial), maka aku adalah pemain yang selalu penasaran dengan kekalahan dan tak gampang puas dengan keberuntungan. Karena pada dasarnya, menang-kalah hanyalah sebutan. Menang-kalah, toh pada dasarnya uang taruhan pasti bakal dihabiskan dan lenyap samasekali. Itu menurut pepatah cina, yang aku sendiri kurang begitu setuju karena punya kata bijak lain yang lebih kena dengan keyakinanku; jika ada kemauan, disana ada jalan. Mahfudzat (kata mutiara) tersebut sudah sangat tidak asing. Bahkan Paulo Choelho pun mengatakannya dengan; “jika kita punya mimpi, maka seluruh alam akan ikut membantu mewujudkannya”. Kalimat tersebut terdapat dalam novelnya yang berjudul sang alkemis. Cerita seseorang yang berjuang untuk mencari legenda pribadinya.


Bukankah tiap orang pasti punya legenda pibadi yang harus ditemukan masing-masing? Bukankah pada dasarnya manusia itu egois? Dan bukankah manusia diciptakan juga untuk menemui segala masalah yang akan dihadapinya? Hidup adalah masalah. Jika bukan, kita pantas bunuh diri karena tak satu pun masalah yang terjadi. Jika bukan, kenapa dalam mendoakan orang tua saja, kita selalu egois dengan minta kita dilebihdulukan diampuni-Nya? Jika bukan, mengapa harus punya cita-cita dan garapan sebagai legenda pribadi?


Begitu pun aku…

Jatuh-bangun kehidupan dan perjalanan bukanlah satu akhir. Meski kadang merasa lelah dan tidak kuat dalam menghadapi cobaan yang ditimpakan. Hanya keyakinan dan niat awal yang harus selalu diperbaharui- yang bisa menajdi modal utama. Adapun hasil, (bagiku) akan terasa ‘ada hasil’ jika aku sudah samasekali tak kuat lagi untuk terus berproses; mati.

Adalah dengan mengingat mati, proses adalah hal yang paling mengesankan. Dan aku ingin mati dengan cara yang mengesankan. Bukan dengan mengenaskan.


Ngalamun, sabatae ngalaman. Bermimpilah, karena kehebatan selalu berawal dari mimpi. Lantas, yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah mimpiku ini terlalu muluk dan mustahil untuk bisa terwujud? Apakah ‘modal’ untuk memulai sebuah ‘usaha’ harus diukur hanya dengan modal dan usaha dari sudut pandang yang sempit? Yang materil? Adakah aku terlalu melantur?


Barangkali aku memang sudah melantur..


In tanshurullaha yanshurukum wa yutsabbit aqdaamakum..

KTP

Jika dalam kumpulan teman lama selalu ada pertanyaan pencapaian paling berpengaruh apa yang pernah didapat dan bagaimana kita lima tahun kedepan, maka untuk pertanyaan tersebut, jika suatu hari muncul lagi, aku akan menjawabnya dengan tegas dan singkat; ktp!

Umur 26 akhir, aku mendapatkan ktp pertama kalinya dengan perasaan senang dan bahagia. Sekali pernah sebelumnya ketika umurku menginjak 17 tahun. Tapi tidak dibarengi dengan sumringah. Juga tidak pernah dipakai untuk keprluan itu-ini.

Bukan karena aku adalah pelaku criminal. Bukan pula karena aku adalah orang yang tidak taat hukum. Tapi lebih karena pada saat itu merasa belum butuh alamat lengkap untuk diberitahukan kepada orang banyak. Cukup kartu tanda mahasiswa saja. Dan menganggap alamat yang paling abadi adalah dengan mempunyai alamat di dunia maya sebagai alamat nyata.
Bukan pula tidak terpikirkan andai suatu hari aku dapat rejeki undian, kena musibah atau berurusan dengan hukum yang pasti bakal membutuhkan identitas (ktp). Tapi lebih karena aku tidak merasa nyaman dan tenang saja mempergunakannya.

Ketidaknyamanan dan ketidaktenangan itu bernama kontrakan.
25 tahun keluargaku hidup dengan berpindah dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lain. Beberapa kali numpang di rumah nenek dari bapak. Meski tidak jauh tiap perpindahannya, tetap saja cukup menguras tenaga dan pikiran seluruh isi keluarga. Tak terkecuali aku.
(maaf jika aku lagi senang menggunakan kata “bukan”)
Bukan sebab orang tuaku pegawai pemerintah yang sering dipindah tugaskan. Bukan juga seorang peneliti, atau kontraktor atau buronan atau pembuat onar. Tapi lebih karena orang tuaku tidak cukup kuat menghadapi musuh yang selalu mengalahkannya; tagihan dan batas waktu.

Dalam kurun waktu 25 tahun itu, terhitung 10 kali aku mengalami atap yang berbeda. Rumah yang kesepuluh inilah yang (kemungkinannya sangat besar) akan menjadi rumah tetap keluargaku. Rumah yang dengan bangga hati aku cantumkan alamatnya di ktp-ku yang sekarang.
Teman-teman, sekarang aku telah menjadi warga Negara yang baik. Aku sekarang merasa berani mengakui dan diakui. Aku sekarang ada.

Maaf banget aku disini tidak bercerita tentang baik dan buruk lingkungan yang aku tinggali berkaitan dengan sering berpindah rumah itu. Atau efek dari itu semua terhadap perkembangan pola pikir dan kepribadian.
Barangkali lain waktu.

(tulisan ini diposting juga di www.umedism.multiply.com)

Amien

Sebuah permintaan pengabulan doa.

“Selamat hujan pagi.. semoga dirimu kekal menyejukkan hari ini.. ?”
Sms itu diterima tepat 6 jam lebih 4 menit dari detik menginjak hari jadi sang kejora. Bukan dari si Shahibul Hajat (kejora), memang. Dari seseorang yang bisa dibilang pernah sama-sama satu visi. Menghenyakkan pagiku, lantas serta merta mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur dengan apa yang telah dinikmatkan Si Maha Penyejuk.

Pagi itu barangkali hujan di tempatnya. Dan dia masih tahu kalau hujan adalah fenomena alam yang selalu membuatku takjub. Tak heran ‘utak-atik’ kata yang ia mainkan begitu indah dan mengharu. Bukan “selamat pagi, hujan..” yang ia sapakan. Tetapi, “selamat hujan pagi..”. Seolah-olah bukan untukku. Tapi sms untuk si pagi yang sengaja di salah alamatkan padaku.


Ame aikooka. Si pengagum/pecinta hujan. Aku.

Entah kapan dimulainya rasa itu ada. Hanya saja, tiap kali hujan turun, dulu waktu aku masih kecil, aku selalu meminta mamah supaya diijinkan hujan-hujanan. Menerobos jutaan rintik, merayakan kemenangan entah dari apa. Meneriakkan kebebasan entah dari apa. Berlari menyusuri berbagai gang, tak takut menuruni selokan yang meluap, bermain bola di lapangan jika kebetulan banyak teman yang hujan-hujanan (pernah suatu waktu gara-gara mengambil bola yang masuk sungai, aku terseret arus yang sangat besar cukup jauh dan membuatku shock berat selama 2 hari), atau tak jarang hanya main seluncur perut di teras rumah yang basah.
Jikapun tak diijinkan (ini lebih karena jika kondisi badanku kurang sehat atau terlalu keseringan bermain hujan-hujanan), maka aku akan diam mematung di tepi jendela dan memperhatikan tiap rintik yang turun. Membuat pikiranku menerawang ke negeri dimana hanya ada aku. Melakukan apapun yang ingin aku lakukan. Meski harus kuakui, lamunan ketika hujan tak pernah jauh dari lamunan yang romantis dan sendu tapi juga menaruh harapan. Bagaimana pun, semua itu adalah keindahan.

Astrologi, fleksibel, sensitive, wadah. Pembenaranku.

Tak ada yang tak terpengaruh dengan astrologi atau zodiak. Minimal untuk pembenaran yang dikesankan positif. Begitu pun aku yang aquarius. So’ berfilosofi air dan selalu bermimpi mampu menyejukkan apapun. Meminumi yang kehausan, menyegarkan yang kegerahan, mengaliri yang kekeringan dan menggapai kesejatian. Karena bagaimana pun air di tempa, ia tetaplah air dan akan selalu menjadi air.
Tak jarang ia rembes dan memaksa keluar dari celah sekecil apapun. Bukan untuk berlari, hanya sebagai upaya menyesuaikan dengan keadaan. Sesuai dengan yang menampungnya. Sekecil apapun perubahan, pasti terrasakan.
Berkelit, egois, konsisten = inkonsisten = konsisten. Kurangku.
Seperti percaya padahal tidak begitu. Seperti iya padahal tidak begitu. Penurut padahal rebel. Urakan padahal beretika. Bergemuruh padahal mellow. Biasa padahal sangat biasa (baca: biasa luar biasa)…

Doa. Inginku.

Semoga diriku kekal menyejukkan hari..

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)

kepingan

Keping #1
Hidup, Batas, Keputusan, pilihan, labil, seimbang, nothing.
Entah itu berupa judul atau sebagai keyword untuk tulisan ini, bukan sebuah hal yang penting buatku saat ini. Yang terpenting justru memuntahkan putaran kata itu dalam benak. Menjadikannya sebagai artefak dan penanda akan kekacaun pikiran yang pasti tak kalah kacau juga jika ditumpahkan dalam tulisan.
Kegelisahan yang mencoba terus dipertahankan dan selalu direkonstruksi dalam menghadapi segala problema dan dinamika. Kata-kata diatas sebutlah secara begitu saja keluar dari kepala lalu di utak-atik dan disusun sedemikian rupa. Direka supaya bisa saling berhubungan dan lalu mempertentangkannya. Gilalah!

Keping #2
Motivator handal, bijak-arif, depresan, kesah, menyerah.
Dalam keterbatasan, batas adalah kambing hitam yang sengaja kita buat sebagai keputusan. Dalam keterbatasan, kegagalan sering dianggap sebagai sinyal untuk berhenti mencari. Menyatakan berhenti atau meneruskan adalah pilihan.
Ternyata banyak sekali hal yg tidak kita ketahui, tidak kita mengerti, dan tidak tau kebenarannya…, ataupun bisa dibuktikan atau tidaknya..karena manusia penuh dengan keter-BATAS-an. Tapi satu hal yg tidak boleh pernah kita lupa kita harus selalu mencoba. ‘Jangan pernah menyesal karena kita tidak bisa, tetapi menyesalah ketika kita tidak pernah mencoba’. Terimakasihku untuk seorang yang pertamakali mengenalkan apa itu relativitas dan fenomenologi.
Seorang anak berhasil menunggangi sepeda pada percobaan keenam setelah lima kali jatuh. Percobaan keenamkah yang membuatnya bisa dan mahir. Tidak, bukan. Justru lima percobaan yang sebelumnyalah yang membuat anak itu mampu mengendarianya. Lima kali terjatuhlah yang menentukannya. Cobalah!

Keping #3
Curhat, keluh, berbagi, memberi, meminta, terima, sama.
Tak ada yang sempurna kecuali kesempurnaan itu sendiri. Basi, iya. Klise, memang. Hanya saja siapapun pernah mengalaminya. Disadari atau tidak. Keywords di awal kepingan ini adalah bukti nyata segala keterbatasan kita. Meski tipis, kenyataannya memang ada. Kita-lah batas itu. Penentu itu. Pemilih itu. Percayalah!

Keping #4
Gila, coba, percaya, waspada.
Perlahan, dengan percaya mencoba memahami ajakan gila ini, maka bersiaplah untuk mejadi benar-benar gila atau mengenali gejala gila. Bersiap untuk coba-coba atau merelakan diri menjadi percobaan. Bersiap untuk percaya dan dipercaya atau malah tidak percaya. Bersiap untuk coba percaya gila. Waspadalah!

Keping #5
Yakin.
Tak akan pernah ada yang meruntuhkan dan menggantikannya; keyakinan. Yakinlah!

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)

Doa keur kakasih

Gusti nu Maha asih, hatur nuhun Anjeun tos nyiptakeun manehna lajeng Anjeun panggihkeun ka abdi.
Hatur nuhun kamari nu kacida endah marengan kami.
Hatur nuhun kana sagala pamendak nu karandapan tur kalangkungan ku kami.
Hatur nuhun kana sagala nu parantos.

Abdi seja sujud payuneun Anjeun.
Sucikeun hate abdi, Nun nu Gaduh Sagala Suci, supados tiasa ngalaksanakeun kahoyong tur rencana Anjeun dina hirup abdi.
Nun Gusti.., upami abdi sanes sarangka iga-na, ulah antepkeun abdi sono ka jirimna.
Ulah ingkeun abdi muragkeun ieu hate di hatena.
Ipiskeun balebatna tina juru panon abdi jeung singkahkeun manehna tina jero hate abdi.
Gentos.., sono tur cinta nu ngageugeuh na ieu dada ku deudeuh ti Anjeun jeung keur Anjeun nu tulus tur murni.
Tulungan abdi supaya tiasa deudeuh ka manehna salaku umat sawajarna.
Mung saupami Anjeun nyiptakeun manehna kanggo abdi, Nun.. nu Maha Nyiptakeun.
Bantosan hijikeun kami.
Bantosan abdi keur mikacinta, ngarti tur narima manehna sagemblengna.
Pasihan abdi kasabaran, katekunan oge keyeng kanggo nenangkeun manehna.
Anginan manehna supados mikacinta, ngarti tur narima abdi kana sagala leuwih jeung kurangna abdi salaku jieunan Anjeun.
Yakinkeun manehna yen abdi nyaan mikacinta tur rela ngabagi pait-amis abdi ka manehna.

Nun Gusti nu Maha Asih, mugia nguping doa abdi.
Leupaskeun abdi tina sagala ragu numutkeun asih sareng qadar Anjeun.
Anjeun nu Maha Moal Leungit, abdi yakin Anjeun salawasna masihan nu pang saena keur abdi.
Kuciwa, bangga, ceurik, pon kitu waas nu aya hamo bisa di pungpang. Kanyeri, ragu, kabungah, oge hariwang nu karandapan tangtos aya hikmahna.
Padungdeng ieu ngajarkeun abdi supados langkung nyaketan Anjeun, supados langkung jentre kana sora Anejun nu bakal nunjukeun abdi newak caang Anjeun.
Ajarkeun abdi satia tur sabar ngantosan waktos nu tos Anjeun tangtoskeun.
Sing janten kahoyong Anjeun, sanes kahoyong abdi dina sagala bagean hirup abdi, Gusti.

Amin...yaa rabbal ‘alamiin..

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.multiply.com)