Showing posts with label word of nothing. Show all posts
Showing posts with label word of nothing. Show all posts

14 August 2018

kulari ke pantai



     :sebuah catatan sederhana. 
Nonton film anak besutan riri riza dan mira lesman. Alasan karena pengen tau bioskop baru dan keren di garut. Alasan mumpung liburan. Dan alasan lainnya dari dinginnya saya –si malas keramaian- yang agak kurang menanggapi, sambil mencoba mengajak diskusi ‘bagaimana-jika’ dan bermain imajinasi seolah kami sudah ada di bioskop baru – pertama kalinya – dengan issue segel – juga antrian semrawut – dan tempat duduk yang tak sesuai aturan. Belum lagi alasan kami masih punya anak kecil yang baru dua tahunan yang dimungkinkan bakal kaget dan rewel dan mengganggu dan dihujani pandangan tajam dan ngalahin sound yang ada.
 
Tapi itu semua terbantah. Bukan karena argumen. Tapi karena keukeuh.


 
suasana bioskop teryahud barometer kekerenan kekinian yang baru menclok di kota kecil ini gak usah diceritain. Rudet!

 
Harapan kerudetan untuk bisa tertebus adalah mengingat karya dua kreator ini. Dari mulai petualanga sherina, sokola rimba, surat untuk rena (?), laskar pelangi. Semoga yang ini bisa menyenangkan, enak dan bergizi.

 
Pintu teater 4 telah dibuka. Anggap saja sambil menonton film, saya memperhatikan juga anak yang kecil, dan memperhatikan juga puluhan anak kecil lain yang menonton, tak luput sesekali melirik eskpresi orang tua mereka. Skip aja sampa habis. Eh, btw, pas baca kalimat pertama praragraf ini ikutan dialek si ibu itu ga?

 
Nah, yang bikin gatalnya justru pas bubar. Lagu RAN terus aja nempel, wajah sam selalu aja saya mirip2in dengan entah siapa itu belum nemu. Marsha juga, happy juga, tak ketinggalan danny si bule yang ada di mana aja. Belum lagi akting mencuri perhatiannya si dodit. Asli, gatel. Yang tadinya merasa skip, toh ternyata banyak frame dan skena yang justru membayangi. Meneror bawah sadar.

 
Tentang pantai yang dijadikan judul. Ini sangat indonesia banget. Negara dengan pantai paling banyak. Jangan salah, hampir tiap pantai pasti bonus dengan pendukung alam lainnya. Hutan, sungai, ato minimal perkebunan di sekitarnya. Keren-keren. Daerah yang masih sangat banyak yang layak kita kunjungi untuk melepas sedikit gundah menghadapi pikuk pikir nyata dan maya. Keluar dari sekat kerja dan sudut pandang gawai. Bebaskanlah. Tapi ingat untuk menjaga kelestariannya.

 
Tentang samudra yang unik. Karakter anak kampung(an) bahkan aneh menurut pandangan happy, sepupunya yang kekinian. Sam yang hidup menyatu dengan alam, interaksi nyata dengan banyak orang, berbanding terbalik dengan happy yang apapun harus mengikuti trend media, gak lepas gawai, bicara keminggris. Pesan ini yang saya rasa sangat menohok. Mungkin untuk para orang tua kekinian pada umumnya. Soalnya menyelesaikan masalah anak dengan gawai adalah justru membuat masalah baru yang akan menjadi bom waktu.

 
Saya jadi teringat lirik lagu Arry Juliant yang berjudul Beribu Pada Televisi. Lirik dahsyat yang menampar saya yang hanyut dengan kenangan masa kanak yang sudah mulai hilang saat ini. Kegiatan sosial anak yand dulu begitu kental, sekarang nyaris hilang ditelan gawai. Sekalinya ada pertemuan bersosialisasi tak jauh hanya sebatas kopdar dari ‘masyarakat gawai’ itu sendiri. Anti social social club, lah, sekarang mah.Banyak seloroh yang bilang “jangan lupa piknik” ada benarnya juga. Tapi piknik dengan definisa yang benar. Bahwa apapun kegiatan di luar rumah yang dilakukan seraba kolektif (bersama keluarga), meski itu hanya di pekarangan ato di ruang terbuka di belakang rumah, itulah piknik. Jalan dan makan di sawah ato danau ato gunung ato taman di sekitaran rumah juga piknik. Intinya ada suasana bareng bersama keluarga. Tapi jangan juga niatnya piknik untuk refreshing ke daerah jauh, tapi pulang banyak mengeluh karena uang habis dan badan capek. Alih-alih segar pikiran, yang ada malah stress.
 
Eh, ko jadi ngelantur gini.
 
Udah, kulari ke pantai film keren untuk keluarga. Peran anak-anaknya emang anak-anak banget.Cus, ah.   

06 June 2009

...is






minoritas adalah terpilih dan mayoritas adalah pemenang.

ini tentang 'is'; yang beberapa hari ini begitu melekat. membuat frustasi bercampur syukur, senyum melarut sedih.

ini tentang 'is'; ketika hari hanya didominasi siang karena malam hanya menyediakan 20% untuk disinggahi. memaksa belalak menyalak sayu. menyisakan kepulan asap dan dedak kapal api.

ini tentang 'is'; ketika perbedaan berpendapat menjadi sebuah dinamika yang harus dinikmati. minoritas menyeruduk kepermukaan dan menguapi segalanya, lalu sedikit memburamkan.

ini tentang 'is'; rasa sayang menjurus khawatir, dukungan terasa ancaman, kejujuran yang memang pahit adanya.

ini tentang 'is'; ketika niat luhur terhadang realita, sulit, berat, pesim'is'. juga kilatan optim'is' yang sulit untuk tidak dikatakan nars'is'.

ini bukan tentang 'menjadi' yang masih didepan dan 'ada' yang sudah tertinggal. ini tentang 'proses' yang ada di tengahnya sebagai satu-satunya jembatan. yang tentunya butuh untuk selalu dikuatkan seburuk apapun materialnya, bukan untuk diruntuhkan.

ini tentang keyakinan yang selalu naik-turun. tentang keimanan yang ada kalanya bertambah-berkurang. ini tentang harga yang butuh penghargaan untuk dihargai, bukan dihakimi. ‘alaisallaahu bi ahkamil haakimiin (bukankah tuhan sebagai hakim yang paling adil?)

ya, ini semua tentang ‘is’ yang tak akan pernah selesai dibicarakan dan didebatkan; optim’is’, relist’is’, pesim’is’, dinam’is’, ritm’is’, parod’is’, trag’is’, iron’is’, masokh’is’, dilemat’is’, puit’is’, man’is’, bla.. bla.. bla.. ’is’.

23 May 2009

Keputusan: nekad(t)-tepat(d)






Merasa yakin, ternyata salah?!

Iseng, ujungnya serius?!
Ga pede, malah jadi?!
Amal, di anggap sombong?!
Baih hati, dituduh ada maunya?!
Suka anak kecil, tertuduh pedophil?!
Hemat, disangka kikir?!
Terbuka, dikesankan plin-plan?!
Keukeuh, katanya keras kepala?!
Mengaku dosa, siap di hukum, malah diampuni?!
Merasa benar, ternyata terjerat hukum?!

Pernah? Aku sedang.
Ya, kalian pasti pernah mengalaminya. Bahkan bisa jadi sering. Ya, aku juga.
Dalam kejadian apapun, dimanapun, kapanpun, ilustrasi diatas tak lepas dari yang namanya memutuskan. Sebagian orang akan ada yang menanggapi dengan positif, dan sebagiannya lagi (pasti) akan ada yang merespon negatif.

Dan biasanya keputusan ada ketika kita ‘akan mengalami’ dan bukan ‘sudah mengalami’. Artinya, keputusan selalu bersinggungan dengan hal yang sifatnya akan datang kemudian. Makanya tak heran, jika orang akan beranggapan macam-macam karena belum ada seorang pun yang pernah mengunjungi masa ‘akan’ itu. Yang ada hanyalah menilai berdasarkan dari pengalaman yang ‘sudah’. Adakah suatu ‘kesudahan’ seseorang bisa sama dengan yang lainnya? Berdasarkan ruang dan waktu, hanya sungging terkecut dan tersinis untuk orang yang berani menjawab “ada”.

Maka dari itu, hargai tiap keputusan yang siapapun ambil.
Maka dari itu, pikirkan keputusan yang akan diambil.
Maka dari itu, semoga kenekat(d)an yang terjadi bisa jadi ketepatan.
Maka dari itu, demi masa depan; putuskanlah. Karena nekat(d)-tepat(d) bisa jadi setipis shirathal mustaqim..

Wallahu ‘alam..

01 March 2009

mulailah

Apapun yang dapat dilakukan atau dimimpikan untuk melakukannya, mulailah! Keberanian mempunyai kecerdasan, kekuatan dan keajaiban didalamnya. (Goethe).

Mulailah. Karena terus menerus memelihara ketakutan adalah sebuah bencana yang terencana. Banyak belajarlah kepada anak kecil yang masih polos tentang menghilangkan rasa takut. Karena memori dan kedewasaan yang dialamilah yang menyebabkan suatu ketakutan akan yang belum pasti berdiam.

Melangkahlah. Semua orang tahu, langkah pertama adalah penentu dari seluruh langkah yang akan dihadapi. Sebagaimana bayi yang baru bisa melangkah, tak pernah ada yang langsung berjalan atau berlari. Kesiapanlah yang perlu kita tentukan kapan datangnya.

Berproseslah. Karena selama kita masih mengehembuskan nafas, maka tak akan pernah kita temui hasil. Proses dan hasil seperi barat dan timur. Sehebat apa mencari barat, selalu timur yang didapat.

Bersabarlah. Karena meski kepahitan yang didapat, akibatnya akan sangat indah dan mempesona. Metamorfosis (juga) merupakan keharusan bagi manusia demi mengalami keindahan.

Majulah. Karena segala hal yang dianggap gagal adalah cerminan semata. Dalam melaju, tak akan mungkin kita hanya melihat spion masa lalu saja. Jalan panjang masa depan lebih penting untuk kita jalani dan perhatikan.

Segeralah. Dan rasakan keajaiban yang terjadi!
Thanxlovesorry.embrace..

24 February 2009

tatasosial

salam..

ahem. ini mah hanya sebatas pola baru aja dari komunikasi antara kita. heu.. selain karena penasaran juga karena jarang aja ada balasan yang signifikan dari beberapa surat (aku lebih senang menyebutnya begitu daripada menyebutnya dengan 'e-mail') yang pernah kukirim.

selain alasan diatas, ada beberapa alasan yang kalo itu dibicarakan melalui oral, akan berakhir dengan obrolan selintas aja dan kurang bisa 'dipelajari' lagi setelahnya. atau, bisa juga sebagai penunjukkan sisi karakter lain yang kata sebagian orang bisa dilihat dari gaya cara penulisannya (da karakter di komunikasi oral, kebanyakannya cileupeung wae -baca: aku). jadi, siapa tahu saja kalo lewat tuisan mah bisa lebih efektif dan serius.

jadi mari kita coba aja.

dalam kacamata ‘berbatastipis’, antara banyak ide dan mentok, antara brilian atau tolol, semua seperti sama saja. di satu sisi sepertinya harus dilakukan, disisi lain ngapain juga dilakukan. pemikiran tentang itu selalu melendir dan mengental dalam pikiranku. hingga tak jarang malah membuatku jadi going no where and feel everythingnothing, nothingeverything. stuck, stagnan, statis.. got no gut; psuedofine!

memang, kalo pun harus ada (dan menganggap penting) track record dan portofolio, kebanyakan ‘prestasi’ (sengaja aku pake tanda petik di kata itu karena memang tidak terarsipkan) yang pernah aku jalani adalah berbau sosial. dalam bentuk organisasi [irm, sabar aja, labda, kasih], komunitas [>>retas, if, tuesday ceremony, after school show, peng(k)ajian ayat kauniah], atau pun pribadi [tangankiribodobodo, virusvipe, hhrrkknews]. tak ada yang wah dari sudut pandang kebanyakan. no profit, no famous and no future.. sekali lagi, itu dari kacamata kebanyakan yang sudah terninabobokan oleh pelukan kapital.

sebagian orang bilang, bekal bukan hanya kapital, kontribusi tidak selalu kompensasi. aku mengamininya. merasa yakin dengan apa yang sedang dilakukan dan bersyukur dengan apa yang telah dilakukan.

tapi aku tidak begitu saja yakin, ternyata. rayuan dari luar yang menuntut prestasi (yang ini tanpa kutip karena memang jelas) tidak bisa terelakkan. orang tua, keluarga, teman, dan bahkan sebagian jiwa (yang tak lepas dari peninaboboan) mampu membuatku tisuksuk tidungdung. pushing mind, body and soul becoming a highlander.

tak heran jika akhirnya seperti apa yang dipaparkan diatas. psuedofine. looking fine on unfine. bersembunyi dengan dalih; ingin biasa (yang) luar biasa.

entah ini suatu hal yang penting atau bukan, tepat atau melenceng juga benar atau salah.. tapi aku hanya mau coba 'mempertanyakan' kembali apa yang kemarin kamu 'ajakkan'; tentang acara bakti masyarakat atau proyek sosial. maaf sebelumnya kalo kemarin sempat 'mempertanyakan' hal yang kurang penting dan kacrut. barangkali hanya bentuk ketakjuban yang bermuka skeptik dan sinis. padahal, jauh didalam jiwa, aku seperti menemukan oase. seperti terbangunkan.
maafkan aku yang tertalu rindu dendam dengan hal seperti itu.

………

wah, jadi kamana-mana ieu teh. tapi ga bakalan lebih ngerti kalo ga ada prolog terlebih dahulu. intinya, aku sangat terbuka dengan ide apapun. apalagi yang berhubungan dengan sosial –yang katanya salah satu jalan dari dua jalan yang ada yang dikasih tuhan di bumi ini.

sok, hayu, kamu punya ide apa? barangkali aku bisa bantu dan ‘memperumitnya’. barangkali memang cocok dengan berapa ide yang sempat aku pikirkan. mari, kita saling membicarakan ide yang sangat jarang didekati oleh orang-orang kita.

sakitu heula.

wassalam..

04 February 2009

lanturan jari


Gatal. Jari ini selalu meminta ditekankan pada tuts-tuts papan ketik yang pasrah.
Dengan segala entah, bercecerlah..


Reuni.
Isu reuni angkatan yang udah sepuluh tahun resmi menjadi alumni mewacana.
Kumpulan (reuni) terakhir memang terjadi tahun 2003, dan itu berarti lima tahun yang lalu.
Entah seperti apa jika wacana ini bisa terwujud. Entah seperti apa acara yang akan diselenggarakan, diikuti berapa banyak alumni, seperti apa mereka, suami mereka, istri mereka, anak mereka... entah seperti apa memori masa lalu yang akan diperingati kembali nanti (di masa depan?).
Kebanyakan dari kami memang sudah menikah. Hampir 80%.

Menikah. Pernikahan.
Obrolan tentang hal ini juga jadi pengisi hari ini. Berbagai macam problema, harapan-hiruk-pikuk-semrawut-doa mengental dalam hari dan pikiran. Telak, itu kadang memposisikan aku seperti orang yang berpengalaman tapi tetap bodoh. Seperti orang bodoh yang belagu berpengalaman. Yuck!
Dua orang adik (yang berstatus menikah dan yang belum menikah) bercerita tentang “nikah” mereka. Seorang sahabat, seorang yang berposisi sebagai anak bungsu, seorang yang hanya perempuan satu-satunya, seorang yang hanya anak satu-satunya, seorang yang bingung memilih mana yang sekiranya cocok.
Lucu, unik, aneh dan (tentunya) absurd. Hanya secarik kertas dan cerita religius yang ditemurunkan, mampu menjadikan orang begitu kalang kabut dan kalut. Mampu menjadikan orang begitu terpesona dan bahagia.
Aku mengamininya dan bertepuk tangan kecut dalam dada; aku pun akan mengalaminya.

Hujan.
Lalu, tersadarlah aku badanku sudah sangat basah.
Aku lantas membayangkan ini hanyalah mimpi. Hujan tipis hari ini, dari pagi hari hingga sore, aku anggap sebagai salju yang lembut. Membuat nuansa yang sangat indah tapi juga menggigil. Suci tapi horror. Sedikit ada kehangatan, selebihnya gigil.

Sungguh ‘dangdut’ banget. Baju satu kering dibadan, iya. Cerita paradoks, iya.
Cinta, derita, sungkawa berjoget di hatiku. Di hariku.

Aku jadi rindu pabrik artis dangdut...

Bandung,
februari minggu pertama 2009

Inspirasi hari ini:
The panas dalam-lisa ono-wini-wita-muhdan-tata-faisal-ana-musyawarah burung-mas is-fahmi-allister-lagu india ga tau judul-ewit-ata-teteh-rectoverso-dani-dodi-gun-bedil-ilmi-ezod.

31 January 2009

nostalgic-romantic-traumatic



alam bawah sadar memang selalu menawarkan hal yang tak terduga. Mengesankan. Mampu membuat seseorang menjadi apa yang disebut dewasa, berkarakter dan berpendirian. Terlepas dari sudut pandang mana kedewasaan itu dilihat.

Adalah pengalaman yang selalu didengungkan sebagai guru yang paling berharga dan tak tergantikan. Sebagai ilmu absolute yang ditemukan oleh diri sendiri. Melahirkan teori, lalu mencoba melanggengkannya dengan pola pikir dan pola ajar yang (meski lebih diperhalus) memaksa. “ini pengalaman yang bicara. Kamu gak bakal pernah mengalaminya. Makanya menurutku ini yang terbaik yang mesti kamu lakukan” atau “pengalaman yang sudah-sudah aja mengajarkan kita harus begitu dan begini, ko”
Dan terjadilah apa yang disebut pembenaran pribadi, dijadikan tolak ukur kebenaran untuk siapa pun. Stereotype buta.

Hari ini aku memasukan beberapa yang teralami (pengalaman?) sebagai perwakilan contoh dari uraian cerita diatas. Tak perlu banyak, karena aku tak mau jika pengalamanku ini malah seperti pemaksaan pembenaran. (?)


Beberapa hari ini, teman-teman seangkatan di pesantren sering membicarakan secara 'dangkal' tentang rencana reunian. Berbagai macam alasan dikemukakan. Memperingati satu dekade sebagai alumni menjadi isu pertama. Kedua menyusul isu karena pertemuan reuni terakhir terjadi ketika tahun 2003. Itu berarti, sudah setengah dekade juga belum ada lagi pertemuan resmi yang bernama reuni.

Sinis-skeptisku muncul. Reuni lantas aku jadikan sebagai nostalgia aneh yang ingin terus menerus selalu diulangi. Membicarakan masa lalu dengan canda dan tak jarang cemooh. Tiap tahun seperti itu. Berulang dan terus. Minoritas yang bisa menganggap kejadian itu adalah ekstase tersendiri yang sarat manfaat. selebihnya merasa sia-sia.

Jauh di dalam hati, aku juga ingin mengadakan acara itu. Tapi kapan dan seperti apa, aku gak mau membayangkannya sekarang ini.

kata

katakata kukalungkan dileher embun
untuk direngkuh mentari, lalu bersanding.
katakata kutabur dilautan
bersama gelombang, hidup kian merona.
katakata kuludahkan ke api
biarlah, derajat kesekian
pasti menjadikannya kering.

berawal dari mata

Mata.
Mata. Berhubungn dengan lihat, buta, hati, pisau, hari, mata, rantai, air, pencaharin, pena dll.

Dll itu; Kompleks, urgen dan vital. Bagaimana tidak, jika salah satu indera kita ini lebih banyak dihubungkan dengan yang “lain” ketimbang indera yang lainnya(lidahidunkulitelinga). Dengan kata lain, disamping dampak baik, sangat dekat dan berbatas tipis dengan dampak buruknya juga. Setipis menyebutkan; melihat pahala dan dosa (chick with skinny leg, maybe?). Setipis buta dengan melihat, melihat dengan terpejam.

Terpejam mengingatkan peureum kadeuleu beunta karasa. Peribahasa nan oldskool,right? Jadi berasa pengen curhat masalah perasaan.halahhh! But, WHATEVER!!

Whatever juga dengan kejujuran (yang katanya) bisa diketahui hanya dengan kita melihat mata seseorang yang kita ajak bicara. Bahkan dalam proses interogasi juga, mata sangat berpengaruh besar. Bukankah interogasi adalah judul drama yang digarap oleh temanteman teater awal?

Awal tulisan ini sebetulnya sama sekali tidak ter-frame-kan dipikiran. Harus seperti apa menuliskannya dan bagaimana kerangkanya. Hayang nulis tentang mata weh…, kajeun nyambung atawa henteu.

Henteuhenteu acan mikir bisa ditulis dan jadi bacaan aheng. Tapi pengen aja…. Makanya, bisa aja this words inspiring you to think about “mata” lebih jauh dan segala yang berhubungan dengan mata itu sendiri.

Sendirian aja mikirnya ga perlu ngajak orang lain. Kecuali pikiran itu layak untuk didiskusikan dihadapan orang banyak.

Banyak sekali orang yang “buta” mengaku melihat, lantas merasa dia yang paling benar dan obyektif. Padahal secara fenomenologi, siapapun bisa jadi benar dan siapapun bisa jadi salah.

Salah sendiri jika mendeskripsikannya sangat minim. Makanya yang dibutuhkan itu bukan ahli debat karena kefanatikan tapi jago argumen dengan pemikiran terbuka dan dingin hati.

Hati siapa yang tak sakit jika mata juga disakiti tanpa alasan dengan ditancapkannya tusuk sate. Bukan karena tusuk satenya, tapi bekas dari mulutnya itu yang jadi masalah; jijik dan perih bekas sambal. Belum lagi si pelaku mempunyai penyakit mulut yang akut. Semriwing gitu,bo! Kalo hanya ditusuk aja sih, anggap aja terapi saraf.

Saraf?! Lu bilang papap saraf, garagara bilang tusuk sate bisa dipake sebagai pengganti cotton bud? Yang saraf tuh maraneh! Udah tau tulisan kayak gini tuh tulisn saraf, masih mau baca dan perhatikan. Ngasih komentar lagi. Parah! Yang lebih parah lagi yang bisa lihat (baca) tulisan ini tapi ga dibca sampai tuntas, tapi ikutan komentar kaya orang yang udah ketalar semua isi tulisnnya. Sebel!

Sebel juga sih, papap nulis kaya gini. Kaya yang ga ada pembahasan lain yang mesti ditulis. Bahas hibernasi kek, global warming kek ato masalah pulitik dan pulisi. Ato –kalo mo masih berhubungan dengan mata- ngebahas keren dan rumitnya retina, selaput, optik, cileuh, kornea dan yang lebih dekat dengan mata. Bukan masalah brehoh kaya begini.

Begini dulu tulisan dari papap, deh. Doakan suatu hari nanti papap bisa nulis tentang retina, selaput, optik, cileluh, kornea sampai ke uraturatnya dengan sangat detil dan jelas. Ginigini juga papap seneng biologi dan ilmu alam. Papap juga pengen bisa nulis tentang gobal warming dan hibernasi.

Hibernasi. Hi bernasi. Hiber nasi. Pasti gratisan dan kenyang. Tak perlu kado dan amplop berisi uang rebuan tiga lembar. Semua bisa didapat dengan harga senyum lebar tanpa dosa dan salaman. Cukup salam.

Salam, heueu….

tulisan ini pernah di muat offline di buletin tangankiribodobodo

dalil makan

"afdhalu dahrin bi faisin lailin. wa kucipa, wa ubina, wa kuripa. faman buhila, fatunjiqa unuquhu hatta utiha. tsalatsa marrotan"

atinya

"pang afdol2na dahar jeung pais lele. di kecapan, jeung di abonan, jeung di kurupukan. sing saha jalma nu kabuhulan, maka tonjok pundukna nepi ka utah. nepi ka utah"

bahasa indonesianya

"paling afdol makan adalah dengan pepes lele. pake kecap, dan pake abon, juga kerupuk. barangsiapa yang keselek, maka pukul punuknya nyampe muntah. tiga kali"

dalil lauk pauk

"assifaatu syiami urusuha tahta jamarootin"

artinya

"ari sepat siem teh rasana sahandapeun jambal roti"


bahasa indonesianya

"asin ikan sepat rasanya (masih) di bawah asin ikan jambal roti"

kolektor semester

ujung.

Dini hari. Kantuk kian jauh. Dan irama jantung pun kian berdegup kencang karena pengaruh kopi yang dikonsumsi dengan sangat durjana. Bagaimana tidak, jika sepagian tadi sampai sekarang *pagi lagi* sudah hampir tujuh gelas tandas. Itu yang murni aku konsumsi sendiri. Belum yang diminum secara berbarengan dengan teman ngobrol. Sehingga membuat adrenalin terpompa tanpa ampun, menyisakan kantung mata yang sungguh tak enak dipandang. Memberat seperti lemak yang bergelambir di sisi perut yang sering jadi pergunjingan para perempuan. Kebanyakan perempuan maksudnya.

Sempat kulayangkan sebuah pesan untuk sang bintang. Berisi katakata biasa namun realistis. Entah pesan itu langsung terbaca atau tidak aku tak ambil pusing. Entah dia mengerti apa yang kumaksudkan atau tidak, aku tak peduli *meski sebetulnya sangat peduli*.

Memang seperti ini kerjaan mahasiswa ujung banget. Sengaja tidak memakai istilah ujung tanduk karena takutnya dapat dilema. Sengaja juga tidak memakai istilah ujung jalan karena agnes monica takut minta royalti judul lagunya dipakai di tulisan ini. *Baydewey, ternyata Agnes itu seorang artis yang sangat tinggi libidonya dari semenjak kecil, loh. Masalahnya kita semua tahu dari semenjak kemunculannya di tv, beliau udah gembar-gembor pengen kawin. Terbukti dengan nama belakangnya; Agnes Monikah!

Tuh kan, barusan juga kerjaan mahasiswa ujung yang ga ada kerjaan banget. Terus, mana yang kerjaan dan mana yang bukan kerjaan?

Mahasiswa ujung kebanyakan adalah mahasiswa kri(t/s)is yang tak tahu umur dan tak tahu diri. Mereka *aku* bisa mengkritisi segala macam yang berlaku dikampus bahkan di negara dan dunia, tapi sudah sulit untuk memberikan aspirasi secara langsung. Bisa melihat apa yang kurang dan dibutuhkan oleh para mahasiswa, masyarakat dan keadaan tanpa bisa berbuat banyak. Apalagi yang ada hubungannya dengan kelas. Karena kelas dan suasananya adalah hal paling cawokah untuk diungkit bagi para ujungers!

Tapi diakui atau tidak, suasana kelas memang suatu hal yang sangat paling ingin sekali banget diulangi oleh para mahasiswa ujung. Minimalnya menurut aku. Rindu akan segala kegiatan yang tak sedikit menguras peluh dan keluh. Dari diskusi yang paling bohay atau bete sampai dengan dosen yang seenaknya mengubah jadwal kuliah. Dari peserta kuliah paling banyak sampai segelintir peserta yang mengikuti *peserta..?, emangnya ini idol-idolan?! damn, i don’t wanna be idol wanna be!*. Dan segala macam dan segala macam dan segala akhwatuha.

Aku pikir, siapapun orangnya, mahasiswa ujung itu, pasti akan setuju dengan pendapat aku ini. Tak perduli dia demonstran sekelas Hugo Chavez *Chavez mahasiswa kitu?*, seniman mirip Andy Warhol, atlet sehebat Icuk, enviromentalist layaknya Abah Iwan atau agamawan berat sekaliber Habib Riziq, niscaya akan punya pengalaman hebredz akan indahnya masa perkuliahan (atau sederajat. Masalahnya aku ga tau mereka semua kuliah atau tidak). Hanya saja, titel ujung itulah yang kadang membuat kita *aku* menjadi jumawa dan tak tahu diri juga tak tahu waktu dan tak tahu umur dan tak tahu semester dan tak tahu kajur dan tak tahu sekjur dan tak tahu spp dan tak tahu kenapa…(?)

Ujung berarti juga akhir atau sekarat atau koma atau kritis. Hal yang sangat erat kaitannya dengan yang namanya perpisahan. Meski sebetulnya hakikat BERPISAH UNTUK BERTEMU dan sebaliknya; UMETREB KUTNU HASIPREB. HIDUP UNTUK MATI dan sebaliknya juga; ITAM KUTNU PUDIH! Perpisahan yang mana kita *eh, aku* tahu adalah masa dimana pikiran akan terkuras habis dengan evaluasi diri yang memuncak dan apa yang kiranya akan terjadi di kemudian.

Maka dari itu aku sekarang hanya ingin, sebisa mungkin mengenang apa yang telah teralami sebagai evaluasi juga sekaligus harapan untuk masa yang akan datang. Aku akan selalu ingat bagaimana culunnya aku ketika memasuki awal kuliah. Berbekal segala kekerenan yang berbatas tipis dengan kekampringan yang aku bawa, akhirnya tertatap juga dunia kampus. Segondol doa orangtua, orang dekat dan orang tak terlalu dekat terselip dalam dompet langkah. Mengiringi segala desah yang tak selamanya lengang dan mulus.

Beberapa tahun dijalani, tak mungkin lupa mana matakuliah/dosen yang paling terfavorit pisan sampai yang paling muak bete bin nista. Teman seperjuangan yang dengan berbagai cara mereka berjuang, tapi tetap satu tujuan. Dari diskusi yang sangat ilmiah melebihi rumitnya memecahkan teori neuron prototipe anastasi kataton monolog dongue *aya kitu?*, sampai diskusi yang paling ATAH ADOL yang pernah terjadi di muka bumi demi menentukan panjang mana antara ekor tikus dan ekor kuda. Dari obrolan hubungan ayat dengan fenomena yang terjadi, sampai obrolan *maap* bokep lokal teraptudet. Dan sederet pengalaman lain yang tak mungkin bisa muat jika harus dituliskan disini satu persatu.

Maka dari itu…*eh, aku atawa kami,nya..?ah, aku we lah keur nu ieu mah*, aku mohon kepada siapapun yang pernah sama-sama mengalami (teman, dosen dan siapapun) untuk tetap bisa mengenangku dengan segala super keterbatasanku. Niatku sedikitpun tak terlintas untuk jadi tercela. Mohon kelapangannya untuk tetap mendukungku menjadi apa yang aku cita-citakan. Adapun yang jadi permasalahan adalah pencapaian. Tak semua orang sama. Jangan pernah jera untuk ingatkan aku bahwa proses untuk sebuah kedewasaan itu sangat perih dan radikal.

Aku mohon…


Dari highlander.
Thanxlovesorry.embrace…

masa kecil, oh masa kecil..

Awalnya karena diminta masukan untuk desain dinding sebuah toko buku ternama di kota bandung ini. Temanku bilang, aku punya daya imajinasi anak kecil dan harus menggunakan imanijasi itu untuk bisa membantu perkerjaan ini. Maka berapa ikon 'bodoh' mengalir begitu saja.

Rumah dalam sangkar yang pertama disebut. Karena dari kecil, aku sangat menyukai binatang -terutama burung. Aku ingin punya rumah, yang jika keluar dari pintu, sudah disambut oleh banyak sekali burung. Makanya bayangan bikin sangkar segede mungkin, dan ditengahnya adalah rumahku.
Lalu kemudian muncul rumah permen, payung awan, pohon aromanis, kuda terbang, mata bintang, perahu terbang, mesin waktu, mobil septictank, sepatu jet, hujan kelereng, manusia insang, dan banyak lagi.

Ada satu kepuasan tak terhingga. Kepuasan yang bisa jadi karena mengeluarkan ide yang tanpa rasa bersalah. Keputusan yang kalau dilakukan pake kacamata kedewasaan akan selalu dibarengi dengan berbagai macam pertimbangan dan balaga intelektual. Puas dan bahagia.


Seorang bijak bilang, semakin dewasa seseorang, semakin sempitlah dunianya.

Aku membenarkannya, karena aku mengalaminya. Mengalami bagaimana -sekarang ini- sulitnya berimajinasi; jadi profesor, bikin mesin waktu untuk kembali ke masa lalu hanya untuk bisa memborong tamiya yang saat itu terasa amat mahal. Berangan-angan kalo bisa hidup di gorong-gorong karena dianggap mutant dari kura-kura, lalu belajar ilmu ninja. Punya akses khusus ke tempat tertentu, punya sepeda yang bisa sekali kayuh nyampe ke singaparna (aku kecil di tasik kota dan membayangkan singaparna adalah negeri antah). Punya senjata biologis yang membuat orang selalu ketawa.Dulu dengan bangganya menjawab; "ingin menjadi kuda!", ketika guru TK menanyakan cita-cita muridnya dan banyak lagi.

Pulang dari suatu pekerjaan (kuliah/kerja), sekarang ini, bisa jadi dipenuhi dengan berbagai rencana strategis dan menekan. Berbagai analisis dan segala persiapan yang belum pasti tapi seperti udah jadi kepastian selalu membayangi. Entah kemana itu lari-lari seperti kijang, bernyanyi, dan kadang ngomong sendiri sambil memainkan tas sekolah atau pensil sebagai alat atau benda yang sangat imajiner. Kadang berteriak seperti memberi komando, kadang berhenti dengan tatapan seolah didepan ada Gorgom atau Sheider, atau mengaduh dan berteriak tertahan seperti sedang dalam perut Monster Mata Satu.

Realitas, brader. Realitas yang teralami sepertinya yang menumpuk dalam otak kita dan ditampung atas nama memori yang melahirkan trauma. Memunculkan berbagai teori dan diamini. "Jangan ini kalo mau itu." ""arus ini jika begitu." Dan yang lainnya. Takut untuk bermimpi. Lupa akan bebasnya masa kecil. Mengikuti berbagai macam batasan dengan mengatasnamakan keterbatasan yang belum pernah dicoba dengan maksimal. Dan aku tidak memungkiri dengan kenyataan itu karena aku termasuk didalamnya. Adakah yang bisa membantuku untuk bisa sesekali masuk ke dunia masa kecil?

Entah kemana hilangnya spirit untuk melindungi seorang 'hime hikaru hoshi' yang ditularkan Recca. Bermain bola tanpa perlu 10 orang kawan seperti Tsubasa Ozora atau Kubo Yosiharu. Merasa bangga punya topi dari jerami mirip Luffy. Jago tembak dan konyol tapi disenangi cewe seperti Ryo Saeba. Jago basket dan mencetak 4 pont (padahal paling tinggi hanya 3 point) seperti Naruse.
Apa kabar Deni yang sering bercengkrama denganku dalam laut. Para salamender api yang jahat yang akan aku buru bersama Paman Janggut. Berbicara sambil berkendara diatas punggung September. Manjat pohon bareng siti, umar, zaid di Aku Anak Shaleh..

Aku kanger mereka. Kuni, Tiger Wong, Chinmi, Pangeran Matahari, Candy, Voltus, Kamen Rider, Billy the Kid, Lion Man, Unyil&penjahatnya, Buck, Tonto, Voltron, Phoenix Api..

Sungguh, keceriaan dan kepolosanku saat itu masih terasa sampai sekarang. Masih kutunggu perasaan itu datang lagi. Perasaan yang dengan jernih terucap: "AKU INGIN JADI KUDA"

Aku ingin jadi (seperti) anak kecil dalam menghadapi kehidupan.
teach me how to dream

25 January 2009

sepatu

Jangan pernah bicarakan sepatu denganku didepan orang tuaku. Aku mohon. Jika itu terjadi, bersiaplah menerima “jutaan jarum rasa bersalah” menghujanimu melalui tatapnnya.

Tidak! Bukan karena orang tuaku akan bilang; ”lebih baik membeli pelindung kepala karena didalamnya ada otak yang mahal daripada membeli pelingdung kaki”. Bukan pula karena orang tuaku tak suka bersepatu. Tapi lebih karena sepatu adalah salah satu barang yang akan mengingatkannya pada rasa kasih yang (seperti) tidak komplit.

Seminggu kemarin aku membeli sepatu baru. Penting bagiku karena ini adalah pertama kalinya aku membeli sepatu dengan uang sendiri. Murni. Tanpa bantuan dari teman atau orang tuanya teman. Tapi dari gajiku dengan segala bangga.

Kebanggaan ini hanya akan aku bagikan kepada kalian saja. (sekali lagi) tidak pada orang tuaku.
Aku tidak mau jika kebanggaan ”hanya” sepasang sepatu ini mesti dihiasi titikan air mata. Jadi, cukup kalian saja.

Sepatuku memang tidak hanya satu. Semuanya ada empat pasang. Dua pasang warna merah (satu converse bahan kanvas, tinggi, pemberian dari boy tahun 2004 sekarang kondisinya lagi enak-enaknya dipake dan satu lagi, vans kulit oldskool, strip warna perak, bahan kulit dari kakang tahun 2006), satu warna hitam (yang ini model bestong/ semi talincang, pemberian dari adik iparku lebaran kemarin), terakhir adalah yang baru ini. Converse warna coklat muda, bahan corduroy dengan lapisan planel didalamnya.

Tiga pasang bertitel mantan; hasil dari kegemasan beberapa teman karena sepatu yang kupakai (sepatu yang menggemaskan itu sekarng entah kemana. Padahal itu juga pemberian dari bink) dan sepasang lagi tunggangan baru.

GOD****. AN****!!!!

Huehhhhhh…..!!! Aku ga kuat nerusin tulisan ini. Banyak rasa yang menggelayuti pikiran dan hati ini.

Sambil memperhatikan sepatu baruku, seketika satu bayangan muncul. Makin lama makin dekat. Gerakan mulutnya pun makin jelas dan bersuara. “Hampura mamah teu tiasa pang meserkeun sapatu-sapatu acan. Terakhir pang meserkeun teh basa aa rek ka DA we harita… eta oge butut-butut acan”.

Menyusul gambaran wajah coklat nan cabi mengkilatku sedang menginjak garut, berlatar cikuray, settingan pertengahan tahun 93, menuntut ilmu memakai sepatu dragon fly baru.

Lalu hanya air mata keentahan yang mengiringiku malam ini.

Sepatu itu rusak karena sering dipakai ke W.C oleh seorang teman berinisial H.Y dua tahun kemudian.

(tulisan ini di posting juga di www.umedism.mutliply.com)

berpusing

Lingkaran setan: Pernyataan-pertanyaan

Kalau harus memilih satu kata dari dua kata yang nyaris mirip diatas, kira-kira mana yang akan dipilih? Bebaskan. Itu hak kalian. Hanya saja saat ini yang terakhirlah yang sering menggelayuti dan menghantui.

“jadi, udah ga ada usaha lagi, niy?!” Tuhan.., apa yang sebenarnya dia inginkan?! bukankah sebelumnya sudah dibicarakan panjang-lebar tentang nasib kita itu? Apapun yang akan terjadi, aku hanya ingin tak ada pihak yang akan dirugikan. Terutama antara aku dan kamu! Karena, kita memang prioritas!

Tak ada istilah menyesal dengan kejujuran. Segetir apapun yang dirasakan, asal itu merupakan konsekwensi dari sebuah kejujuran hati yang tak lepas dari segala niat baik dan berserah diri, pasti harus dan akan diterima dengan lapang dada. Tak ada paksaan. Apalagi rasa dendam.


Kembali lagi masalah ‘usaha’. Bukan aku ga mau dengan meneruskan ‘usaha’ itu. Hanya saja, sama saja pincang jika yang menghadapi tantangan itu hanya aku sendirian. Dan kamu sudah tak mau lagi meneruskan. Dengan alasan yang memang siapapun akan merengut karenanya. Tak terkecuali aku jika ada di posisi kamu. Tapi paling tidak, kamu telah memilih satu dari berbagai alternative. Proses untuk memilih itulah yang sangat aku hormati dan hargai.


“Kejujuran yang kurang beruntung”. Begitulah seorang teman bilang padaku. Dan memang kalimat itu pula yang terus dan terus merongrong hati yang kian gatal. Oh, terbayangkah bagaimana dilematisnya menghadapi kegatalan? Kaligata atau alergi, misalnya? Digaruk ga enak didiemin apalagi! Adakalanya ketika digaruk sangat nikmat dan tanpa sadar permukaan kulit udah melepuh; panas dan perih..!


Ya, seperti itulah aku. Diselimuti berbagai macam penasaran yang aku sendiri tak pernah berani mendefinisikannya. Apalagi menganggapnya sebagai wacana mentah belaka! Tidak. Tidak seperti itu. Terlalu gegabah jika begitu.


Disebut gegabah karena segalanya memang bukan untuk gegabah dan sembrono. Kalaulah semua kejadian ini adalah ke-gegabah-an dan ke-sembrono-an belaka, jangankan orang lain, aku sendiri pun pasti akan menyebut diriku adalah keledai buta yang idiot!! menghadapi ketakutan akan hal yang nampak dan berhubungan dengan sesama bisa jadi aku terjebak gegabah. Tapi jika urusannya dengan masa depan, dengan yang serba harap dan menyangkut dengan pencipta..? siapa pun pasti bisa menilai. Tenaga dan pikiran, jiwa dan raga, semua tertumpuk demi untuk sekedar mengucapkan ‘kalimat sotoloyo’ tersebut.


Jika pepatah cina mengatakan hidup itu seperti berjudi, selalu ada menang (beruntung) dan kalah (sial), maka aku adalah pemain yang selalu penasaran dengan kekalahan dan tak gampang puas dengan keberuntungan. Karena pada dasarnya, menang-kalah hanyalah sebutan. Menang-kalah, toh pada dasarnya uang taruhan pasti bakal dihabiskan dan lenyap samasekali. Itu menurut pepatah cina, yang aku sendiri kurang begitu setuju karena punya kata bijak lain yang lebih kena dengan keyakinanku; jika ada kemauan, disana ada jalan. Mahfudzat (kata mutiara) tersebut sudah sangat tidak asing. Bahkan Paulo Choelho pun mengatakannya dengan; “jika kita punya mimpi, maka seluruh alam akan ikut membantu mewujudkannya”. Kalimat tersebut terdapat dalam novelnya yang berjudul sang alkemis. Cerita seseorang yang berjuang untuk mencari legenda pribadinya.


Bukankah tiap orang pasti punya legenda pibadi yang harus ditemukan masing-masing? Bukankah pada dasarnya manusia itu egois? Dan bukankah manusia diciptakan juga untuk menemui segala masalah yang akan dihadapinya? Hidup adalah masalah. Jika bukan, kita pantas bunuh diri karena tak satu pun masalah yang terjadi. Jika bukan, kenapa dalam mendoakan orang tua saja, kita selalu egois dengan minta kita dilebihdulukan diampuni-Nya? Jika bukan, mengapa harus punya cita-cita dan garapan sebagai legenda pribadi?


Begitu pun aku…

Jatuh-bangun kehidupan dan perjalanan bukanlah satu akhir. Meski kadang merasa lelah dan tidak kuat dalam menghadapi cobaan yang ditimpakan. Hanya keyakinan dan niat awal yang harus selalu diperbaharui- yang bisa menajdi modal utama. Adapun hasil, (bagiku) akan terasa ‘ada hasil’ jika aku sudah samasekali tak kuat lagi untuk terus berproses; mati.

Adalah dengan mengingat mati, proses adalah hal yang paling mengesankan. Dan aku ingin mati dengan cara yang mengesankan. Bukan dengan mengenaskan.


Ngalamun, sabatae ngalaman. Bermimpilah, karena kehebatan selalu berawal dari mimpi. Lantas, yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah mimpiku ini terlalu muluk dan mustahil untuk bisa terwujud? Apakah ‘modal’ untuk memulai sebuah ‘usaha’ harus diukur hanya dengan modal dan usaha dari sudut pandang yang sempit? Yang materil? Adakah aku terlalu melantur?


Barangkali aku memang sudah melantur..


In tanshurullaha yanshurukum wa yutsabbit aqdaamakum..