Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

14 August 2018

kulari ke pantai



     :sebuah catatan sederhana. 
Nonton film anak besutan riri riza dan mira lesman. Alasan karena pengen tau bioskop baru dan keren di garut. Alasan mumpung liburan. Dan alasan lainnya dari dinginnya saya –si malas keramaian- yang agak kurang menanggapi, sambil mencoba mengajak diskusi ‘bagaimana-jika’ dan bermain imajinasi seolah kami sudah ada di bioskop baru – pertama kalinya – dengan issue segel – juga antrian semrawut – dan tempat duduk yang tak sesuai aturan. Belum lagi alasan kami masih punya anak kecil yang baru dua tahunan yang dimungkinkan bakal kaget dan rewel dan mengganggu dan dihujani pandangan tajam dan ngalahin sound yang ada.
 
Tapi itu semua terbantah. Bukan karena argumen. Tapi karena keukeuh.


 
suasana bioskop teryahud barometer kekerenan kekinian yang baru menclok di kota kecil ini gak usah diceritain. Rudet!

 
Harapan kerudetan untuk bisa tertebus adalah mengingat karya dua kreator ini. Dari mulai petualanga sherina, sokola rimba, surat untuk rena (?), laskar pelangi. Semoga yang ini bisa menyenangkan, enak dan bergizi.

 
Pintu teater 4 telah dibuka. Anggap saja sambil menonton film, saya memperhatikan juga anak yang kecil, dan memperhatikan juga puluhan anak kecil lain yang menonton, tak luput sesekali melirik eskpresi orang tua mereka. Skip aja sampa habis. Eh, btw, pas baca kalimat pertama praragraf ini ikutan dialek si ibu itu ga?

 
Nah, yang bikin gatalnya justru pas bubar. Lagu RAN terus aja nempel, wajah sam selalu aja saya mirip2in dengan entah siapa itu belum nemu. Marsha juga, happy juga, tak ketinggalan danny si bule yang ada di mana aja. Belum lagi akting mencuri perhatiannya si dodit. Asli, gatel. Yang tadinya merasa skip, toh ternyata banyak frame dan skena yang justru membayangi. Meneror bawah sadar.

 
Tentang pantai yang dijadikan judul. Ini sangat indonesia banget. Negara dengan pantai paling banyak. Jangan salah, hampir tiap pantai pasti bonus dengan pendukung alam lainnya. Hutan, sungai, ato minimal perkebunan di sekitarnya. Keren-keren. Daerah yang masih sangat banyak yang layak kita kunjungi untuk melepas sedikit gundah menghadapi pikuk pikir nyata dan maya. Keluar dari sekat kerja dan sudut pandang gawai. Bebaskanlah. Tapi ingat untuk menjaga kelestariannya.

 
Tentang samudra yang unik. Karakter anak kampung(an) bahkan aneh menurut pandangan happy, sepupunya yang kekinian. Sam yang hidup menyatu dengan alam, interaksi nyata dengan banyak orang, berbanding terbalik dengan happy yang apapun harus mengikuti trend media, gak lepas gawai, bicara keminggris. Pesan ini yang saya rasa sangat menohok. Mungkin untuk para orang tua kekinian pada umumnya. Soalnya menyelesaikan masalah anak dengan gawai adalah justru membuat masalah baru yang akan menjadi bom waktu.

 
Saya jadi teringat lirik lagu Arry Juliant yang berjudul Beribu Pada Televisi. Lirik dahsyat yang menampar saya yang hanyut dengan kenangan masa kanak yang sudah mulai hilang saat ini. Kegiatan sosial anak yand dulu begitu kental, sekarang nyaris hilang ditelan gawai. Sekalinya ada pertemuan bersosialisasi tak jauh hanya sebatas kopdar dari ‘masyarakat gawai’ itu sendiri. Anti social social club, lah, sekarang mah.Banyak seloroh yang bilang “jangan lupa piknik” ada benarnya juga. Tapi piknik dengan definisa yang benar. Bahwa apapun kegiatan di luar rumah yang dilakukan seraba kolektif (bersama keluarga), meski itu hanya di pekarangan ato di ruang terbuka di belakang rumah, itulah piknik. Jalan dan makan di sawah ato danau ato gunung ato taman di sekitaran rumah juga piknik. Intinya ada suasana bareng bersama keluarga. Tapi jangan juga niatnya piknik untuk refreshing ke daerah jauh, tapi pulang banyak mengeluh karena uang habis dan badan capek. Alih-alih segar pikiran, yang ada malah stress.
 
Eh, ko jadi ngelantur gini.
 
Udah, kulari ke pantai film keren untuk keluarga. Peran anak-anaknya emang anak-anak banget.Cus, ah.   

06 June 2009

...is






minoritas adalah terpilih dan mayoritas adalah pemenang.

ini tentang 'is'; yang beberapa hari ini begitu melekat. membuat frustasi bercampur syukur, senyum melarut sedih.

ini tentang 'is'; ketika hari hanya didominasi siang karena malam hanya menyediakan 20% untuk disinggahi. memaksa belalak menyalak sayu. menyisakan kepulan asap dan dedak kapal api.

ini tentang 'is'; ketika perbedaan berpendapat menjadi sebuah dinamika yang harus dinikmati. minoritas menyeruduk kepermukaan dan menguapi segalanya, lalu sedikit memburamkan.

ini tentang 'is'; rasa sayang menjurus khawatir, dukungan terasa ancaman, kejujuran yang memang pahit adanya.

ini tentang 'is'; ketika niat luhur terhadang realita, sulit, berat, pesim'is'. juga kilatan optim'is' yang sulit untuk tidak dikatakan nars'is'.

ini bukan tentang 'menjadi' yang masih didepan dan 'ada' yang sudah tertinggal. ini tentang 'proses' yang ada di tengahnya sebagai satu-satunya jembatan. yang tentunya butuh untuk selalu dikuatkan seburuk apapun materialnya, bukan untuk diruntuhkan.

ini tentang keyakinan yang selalu naik-turun. tentang keimanan yang ada kalanya bertambah-berkurang. ini tentang harga yang butuh penghargaan untuk dihargai, bukan dihakimi. ‘alaisallaahu bi ahkamil haakimiin (bukankah tuhan sebagai hakim yang paling adil?)

ya, ini semua tentang ‘is’ yang tak akan pernah selesai dibicarakan dan didebatkan; optim’is’, relist’is’, pesim’is’, dinam’is’, ritm’is’, parod’is’, trag’is’, iron’is’, masokh’is’, dilemat’is’, puit’is’, man’is’, bla.. bla.. bla.. ’is’.

23 May 2009

Keputusan: nekad(t)-tepat(d)






Merasa yakin, ternyata salah?!

Iseng, ujungnya serius?!
Ga pede, malah jadi?!
Amal, di anggap sombong?!
Baih hati, dituduh ada maunya?!
Suka anak kecil, tertuduh pedophil?!
Hemat, disangka kikir?!
Terbuka, dikesankan plin-plan?!
Keukeuh, katanya keras kepala?!
Mengaku dosa, siap di hukum, malah diampuni?!
Merasa benar, ternyata terjerat hukum?!

Pernah? Aku sedang.
Ya, kalian pasti pernah mengalaminya. Bahkan bisa jadi sering. Ya, aku juga.
Dalam kejadian apapun, dimanapun, kapanpun, ilustrasi diatas tak lepas dari yang namanya memutuskan. Sebagian orang akan ada yang menanggapi dengan positif, dan sebagiannya lagi (pasti) akan ada yang merespon negatif.

Dan biasanya keputusan ada ketika kita ‘akan mengalami’ dan bukan ‘sudah mengalami’. Artinya, keputusan selalu bersinggungan dengan hal yang sifatnya akan datang kemudian. Makanya tak heran, jika orang akan beranggapan macam-macam karena belum ada seorang pun yang pernah mengunjungi masa ‘akan’ itu. Yang ada hanyalah menilai berdasarkan dari pengalaman yang ‘sudah’. Adakah suatu ‘kesudahan’ seseorang bisa sama dengan yang lainnya? Berdasarkan ruang dan waktu, hanya sungging terkecut dan tersinis untuk orang yang berani menjawab “ada”.

Maka dari itu, hargai tiap keputusan yang siapapun ambil.
Maka dari itu, pikirkan keputusan yang akan diambil.
Maka dari itu, semoga kenekat(d)an yang terjadi bisa jadi ketepatan.
Maka dari itu, demi masa depan; putuskanlah. Karena nekat(d)-tepat(d) bisa jadi setipis shirathal mustaqim..

Wallahu ‘alam..

13 May 2009

Need-want.





Selamat (apapun) untuk kalian yang sedang dilanda keselamatan (apapun) saat ini.
Marilah kita sejenak menundukkan kepala dan menafakuri suatu hal yang (angger!) sering dianggap nothing, tapi ternyata berefek everything. Suatu hal yang terkesan biasa namun ternyata berdampak luar biasa. *hey, lo jangan dulu berkomentar,’ya itu tergantung orang yang memandangnya dong, bo..’. Tunggu dulu. Komentar kayak gitu selalu bikin suatu harus berhenti dan haram diteruskan*. Biarkanlah dulu aku membuihkan mulut dan mengeringkan kerongkongan.

Sebelum aku membahas tentang judul di atas, ijinkan aku mengutip salah satu quote keren nan dahsyat yang datang dari sms seorang teman beberapa bulan lalu yang mengomentari nothing-everything menurut versinya yang masih aku inget;
“when I become nothing, I’m connected to everything”
Quote tersebut memang bukan apa yang ingin aku bagikan disini, tapi aku hanya ingin mengilas dan mengulas tentang sesuatu yang nothing itu bisa everything *plis, med. Jangan muter-muter deh!*.

Oke, mari sini. Aku ingin membagikan sesuatu yang berhubungan dengan judul diatas. Tapi stop dulu pikiran kalian tentang bahasan yang akan menyangkut ke arah kapitalisme dan ekonomi. Tentang konsumerisme. Tentang budaya kekinian. Tentang fenomena sosial… Ini semua tentang aku dan apa yang sedang aku rasakan; tentang curhatku. Meski memang tak bisa dipungkiri segala ‘tentang’ yang ada di pikiran kalian bisa disangkutpautkan juga. *piss ?*
Tentang aku yang merasa utuh hanya dengan membaca sms ‘aku BUTUH (need) kamu’ dan bukan ‘aku INGIN (want) kamu’. Sms dengan segudang makna luhur yang (selalu) akan bikin aku merinding membacanya. *guys, bulu kudukku mulai merinding nih. Sumpah!*

Sebut aku lebai jika kalian menganggap aku sedang dalam kepurapuraan. Anggap saja aku mendramatisir jika kalian pikir aku adalah pemimpi tanpa pondasi. Tapi perlu kalian tahu, aku menuliskan ini setelah aku mengalami dan merasakannya. Dan sekarang aku hanya sedang mencoba sedikit memaknai apa yang teralami. Memaknai tentang apa itu ‘cukup’ dan ‘kurang’, apa itu ‘proporsional’ dan ‘ketimpangan’. Aku hanya berusaha menjadi pribadi yang (b)utuh. No more no less.

Sungguh, ‘ada’nya tulisan ini hanyalah sebatas ‘proses’ku untuk ‘menjadi’ sebelum aku mati. Kalau pun harus ada yang aku inginkan saat ini, aku hanya ingin butuh. Semoga kebutuhan terbaik yang akan aku terima.

Akhirul kolom;
Puji tuhan yang telah menciptakan kata dan menghadirkan makna.
Terimakasih tuhan yang telah menciptakan si pengirim sms.
Maafkan aku tuhan, si (yang merasa) serpih yang selalu bermimpi utuh. Si (yang sebenarnya) utuh yang masih sebatas serpih.


can you feel the love tonight?






There's a calm surrender to the rush of day
When the heat of a rolling wind can be turned away
An enchanted moment, and it sees me through
It's enough for this restless warrior just to be with you

And can you feel the love tonight
It is where we are
It's enough for this wide-eyed wanderer
That we got this far
And can you feel the love tonight
How it's laid to rest
It's enough to make kings and vagabonds
Believe the very best

There's a time for everyone if they only learn
That the twisting kaleidoscope moves us all in turn
There's a rhyme and reason to the wild outdoors
When the heart of this star-crossed voyager beats in time with yours


Lirik itu begitu 'tak sopan' menjitak ujung pikiranku. bertingkah seperti bocah; haha tanpa prasangka, hikshiks minim licik. Jujur, tak kumengerti juga lirik itu secara keseluruhan. Tapi, ada semacam instrumen pendukung suci yang bercampur 'sedemikian rupa' dengan dosa lumrah. Sebelumnya beradu terik antara beda juga rasa. Bersama persepsi, idealitas dan kompromi, ternyata dia muncul juga.

“Aku bukan pencemburu. Aku hanya sedikit ketakutan aja dengan sifatmu yang ‘ga enakan’ itu”. Katamu di sela gelisah terbalut hening.

“Itu bisa jadi memang sifatku. Aku tidak bisa memungkirinya. Tapi tenang aja, selain sifat, aku juga punya sikap, ko. Dan sikap itu yang akan menjadi penyeimbang dari segala kealpaan dan kekurangan sifatku”. Balasku secepat mungkin. Berusaha mencari cara dari kepolosan bicara yang salah.

“Tapi kan kecenderunganmu itu sangat kuat. Apalagi kamu pernah punya pengalaman masa lalu yang lumayan berpengaruh. Belum lagi gossip, perlakuan dan kelakuanmu”. Katamu lagi.

Aku tertawa spontan. Yang dianggapkan sebagai ketakutannya samasekali tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Bahkan terkesan absurd dan kecil kemungkinannya meskipun mengacu pada sifat dasarku itu.

“Aku memang nyeplos dan spontan. Tapi minimalnya, mohon anggap itu sebuah kejujuran meskipun bisa jadi selebihnya adalah kepolosan dan ketololanku. Maaf kalo itu semua bisa bikin perasaan kamu terganggu”.

“Ga papa. Aku hanya sedikit ketakutan aja. Kamu bisa telpon aku lagi ga?”


Lalu dalam hitungan menit. Suasana sudah mulai mencair lagi. Sesekali ada hal yang cukup nyerempet dan curam. Tapi selebihnya, dinikmati aja. Karena ku yakin, cinta bukan ‘a free lunch for God’. Bukan gratisan. Dibutuhkan cara juga usaha disana.

Elthon John mengingatkanku akan kejadian itu. Entah kamu..

01 March 2009

mulailah

Apapun yang dapat dilakukan atau dimimpikan untuk melakukannya, mulailah! Keberanian mempunyai kecerdasan, kekuatan dan keajaiban didalamnya. (Goethe).

Mulailah. Karena terus menerus memelihara ketakutan adalah sebuah bencana yang terencana. Banyak belajarlah kepada anak kecil yang masih polos tentang menghilangkan rasa takut. Karena memori dan kedewasaan yang dialamilah yang menyebabkan suatu ketakutan akan yang belum pasti berdiam.

Melangkahlah. Semua orang tahu, langkah pertama adalah penentu dari seluruh langkah yang akan dihadapi. Sebagaimana bayi yang baru bisa melangkah, tak pernah ada yang langsung berjalan atau berlari. Kesiapanlah yang perlu kita tentukan kapan datangnya.

Berproseslah. Karena selama kita masih mengehembuskan nafas, maka tak akan pernah kita temui hasil. Proses dan hasil seperi barat dan timur. Sehebat apa mencari barat, selalu timur yang didapat.

Bersabarlah. Karena meski kepahitan yang didapat, akibatnya akan sangat indah dan mempesona. Metamorfosis (juga) merupakan keharusan bagi manusia demi mengalami keindahan.

Majulah. Karena segala hal yang dianggap gagal adalah cerminan semata. Dalam melaju, tak akan mungkin kita hanya melihat spion masa lalu saja. Jalan panjang masa depan lebih penting untuk kita jalani dan perhatikan.

Segeralah. Dan rasakan keajaiban yang terjadi!
Thanxlovesorry.embrace..

24 February 2009

berbagi

Kebahagiaan jika dibagi akan bertambah. Kesusahan jika dibagi akan berkurang. Berbagilah sebelum menyesal dan ketinggalan.
Ini sering terjadi dan sering aku lakukan. Efeknya sangat dahsyat dan mencengangkan! Sekali waktu anda mesti mencoba dan merasakan khasiatnya.

menyurati tulis

Hai.

Tak perlu lah mengucapkan apa kabar untuk memulai tulisan ini. Cukup sapaan ‘hai’ riang yang aku sajikan. Toh itu lebih kedengaran tulus dari pada ucapan ‘kamu apa kabar?’ yang terkesan formalitas dan basi. Karena aku pribadi lebih sering tak peduli dan kurang empati apabila mendengar jawaban dari ucapan itu. Mending kalo memang jawabannya jujur. Toh, kebanyakan munafik juga. Makanya, stop bikin orang tergiur untuk berbuat dosa yang tidak terasa demi sopan santun.

Ada yang lagi rame sekarang. Di sini. Banyak sekali malah. Dari mulai banner pembuah kotor kota, motor yang makin banyak dan murah, anak kecil yang makin pintar, teknologi yang kian canggih dan sekian banyak kehebohan lain yang dulu tak pernah diprediksi sebelumnya. Selain kemudahan yang didapat, efek yang ditimbulkannya juga tak sedikit; kemunduran moral, matang sebelum waktunya, eksistensi yang penting. Bukan esensi.

Tapi sudahlah, aku tak mau banyak membahas masalah itu. Aku hanya ingin menuangkan saja bebagai ki(e)sah padamu saat ini. Tentangku yang bisa jadi berkaitan juga dengan segala macam yang kusebutkan diatas.

Jika dihitung dengan ukuran waktu, mungkin telah ratusan hari aku kehilanganmu. Bertahun kita seperti terpisah. Jika pun bertemu hanya sebatas basa-basi, atau malah berekspektasi. Tanpa pernah bisa tahu kenapa itu terjadi. Dan memang cenderung tidak berusaha untuk mencari tahu.

Tapi sekarang, aku kembali lagi bersua denganmu. Menjejali telingamu dengan berupa suara.

Akan sangat sulit menceritakan secara spesifik satu persatu apa saja yang ingin aku sampaikan. Namun kalaupun harus ada perwakilan atas kejadian ini; aku merasa bangga dan haru bisa bertemu denganmu lagi. Saling menularkan hangat dalam dekap. Berbagi riang lewat tatap. Menumbuhkan bahagia dalam hening.

Ya. Aku menemuimu saat ini setelah sekian lama aku berlaga tak memubutuhkanmu dan merasa biasa-biasa saja.

Terimakasih untuk selalu menerimaku kembali, menulis..

04 February 2009

momen

Bandung, pertengahan januari 2009

Kuku. Lagu. Badminton. Gondok. Jalan kaki.

Kata diatas adalah beberapa kata yang menjadi pikiranku hari ini berdarsarkan urutan waktu. Influence aneh yang teralami. Hanya saja entah bagaimana mengalurkan cerita hari ini. Sebagai tameng, maka dalil yang selalu kugunakan adalah: “don’t think, just write!”

...

Lagu mamapu mengingatkan kita akan sesuatu. Nama, kejadian, tempat. Momen. Meski lagu itu dinyanyikan oleh pengamen, tak ayal pikiranku langsung mengingatkan momen tertentu dari lagu tertentu. Sebodoh apapun lagu itu, penggalan liriknya kukutip juga untuk dijadikan kuis kecil-kecilan untuk seseorang melalui sms:“-…. Penggalan lirik…- tahu judul dari penggalan tersebut?” Begitu kira-kira kuis itu.

Momen. Sebetulnya judul kali ini bisa diwakili dengan kata itu. Semua ‘keyword’ diatas mampu dan layak untuk dirangkul sang momen. Tapi tetap saja, aku hanya terus menulis.

Aku bukan pemerhati dan penyuka lagu fanatic. Apalagi dengan lagu dari band kebanyakan yang lagi sering ditampilkan televisi yang sering aku merasa aku bodoh sendiri *hey, bukankah itu berarti aku memperhatikan?!*.
Lirik yang jauh dari mendidik, irama yang nyaris sama dari band satu dengan yang lain, tema yang selalu itu-itu saja.

Temanku yang musisi marginal pernah berseloroh;
“itu karena mayoritas penduduk kita hampeir 80% kurang pendidikan jika tak mau dikatakan bodoh. Maka jangan heran apapun yang disajikan, meski memang obyektif dan demokratis, ga bakal jauh dari cerminan mayoritas. Yang penting pasar, med!”. Sekali lagi, aku biasanya tak peduli. Tapi untuk kasus ini, tak ayal aku mengernyitkah dahi juga. Memikirkan hubungan: obyektifitas dengan pendidikan, dengan demokrasi, dengan pasar, dengan musik.
Lalu diam-diam aku mengiyakan dalam kulum.

Tapi sefrontal apapun, tetap saja, selalu ada sisi kompromis dengan mayoritas.
Membenarkan sesuatu yang dianggap kurang benar sebelumnya. Maka sebutlah itu suatu kebijakan nan kompromis.

Ijinkan aku mengutip lirik dari sebuah lagu;

Baiknya kau melepas diriku

Yang tak pernah bisa mencintaimu
Seharusnya tak kusimpan iba ini
Yang membuatmu terluka
...
Maafkanlah diriku
Yang tak pernah bisa mencintaimu
Maafkanlah diriku
Semoga kau mengerti.

Lagu Naff. Judul aslinya aku tidak tahu. Sangat biasa. Begitu standar. Tema kebanyakan (dan membodohkan versi temanku!). Tapi momen yang dihadirkan oleh lagu itu tak dapat tergantikan oleh apapun. Kejadian sekali seumur hidup. Undeniable!
Jika bisa memilih, inginnya bukan lagu itu yang mengiringi momen tersebut. Bayangannya josh groban atau nat king cole atau norah jones atau malah musik orkestrasi-nya enigma. Tapi...

Ya, andai bisa memilih..


>> memperingati seorang dede hartati. aku tak akan pernah bisa menebus momen itu.

Equilibrium



Sebuah pengantar sentimentil seorang groupies lokal untuk
Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS)

Keyword:bermain, terjatuh, bangkit, senang, lucu, unik, pahit, seimbang.

Ehmmm..!
Sebutlah ini sebuah kesaksian subyektif dari seorang teman yang merasa terganggu untuk tidak menuangkan musik ini lewat tulisan, jika jauh dikatakan ini adalah (seperti) kuratorial.

Katakanlah ini semacam kekaguman penikmat seni (musik) yang tak pernah mampu bermain musik, apalagi mempunyai grup band, jika enggan mengomentari bahwa ini hanya tulisan ‘tak mau kalah’ untuk tetap eksis di dunia seni (musik) ketika UTBBYS perform.

Penting ga penting, perlu ga perlu, ngefek ga ngefek, itu urusan orang yang punya telinga. Karena meski dengan sumpah separah apapun mengatakan sebuah band/musik itu bagus, belum tentu si empu telinga yang lain mengamininya. Begitu pun dengan UTBBYS ini. Yang menurutku saja sulit untuk mengatakan ini bagus atau tidak. Enak atau rebek. Keren atau rungsing…

Penilaian diatas (yang dijadikan judul), hanyalah kelitanku untuk kurang bisanya mengomentari hasil karya (musik) temannya secara jujur -dan secara sembunyi sekaligus. Terlalu banyak keentahan yang harus kukomentari. Hanya saja, keyword dibawahnya bukan tanpa alasan dituliskan.

Mendengarkan UTBBYS adalah persis seperti gambaran keyword diatas. Ada nuansa bermain, terjatuh, bangkit, senang, lucu, unik, pahit dan bergairah yang terasa. Seimbang.

Galau yang kalut-depresif, tapi kadang menimbulkan sebuah harapan yang men-y-enangkan (maksudnya menyenangkan dan menenangkan) tersodorkan dengan ceria. Petikan dan cabikan gitar yang dihasilkan tak pelak membuat hati begitu waas dan hareneg. Begitu melankolik-nostalgik dan haru. Tapi begitu diiringi oleh tabuhan drum, aku berani mengatakan bahwa ini adalah sebuah sajian yang stabil dan seimbang.


Sungguh, aku samasekali tidak akan pernah berani membahas masalah skill musikalitas dari para personel. Aku hanya mencoba merasakan dan mengungkapkan saja. Dan ungkapan pertama dari apa yang kurasakan adalah sebuah kalimat pendek nan simple; “seperti snorkling di senja hari”.

Barangkali mungkin suatu saat nanti (tanpa tulisanku pun) UTBBYS mampu berbicara dan mendeskripsikan lebih rinci lewat karyanya kepada dunia. Menyebarkan efek “tengah” yang bukan “nanggung”.

Akhirul kolom, selamat menikmati optimisme yang berkelindan pesimis.



Temanmu,
ame aikooka

31 January 2009

nostalgic-romantic-traumatic



alam bawah sadar memang selalu menawarkan hal yang tak terduga. Mengesankan. Mampu membuat seseorang menjadi apa yang disebut dewasa, berkarakter dan berpendirian. Terlepas dari sudut pandang mana kedewasaan itu dilihat.

Adalah pengalaman yang selalu didengungkan sebagai guru yang paling berharga dan tak tergantikan. Sebagai ilmu absolute yang ditemukan oleh diri sendiri. Melahirkan teori, lalu mencoba melanggengkannya dengan pola pikir dan pola ajar yang (meski lebih diperhalus) memaksa. “ini pengalaman yang bicara. Kamu gak bakal pernah mengalaminya. Makanya menurutku ini yang terbaik yang mesti kamu lakukan” atau “pengalaman yang sudah-sudah aja mengajarkan kita harus begitu dan begini, ko”
Dan terjadilah apa yang disebut pembenaran pribadi, dijadikan tolak ukur kebenaran untuk siapa pun. Stereotype buta.

Hari ini aku memasukan beberapa yang teralami (pengalaman?) sebagai perwakilan contoh dari uraian cerita diatas. Tak perlu banyak, karena aku tak mau jika pengalamanku ini malah seperti pemaksaan pembenaran. (?)


Beberapa hari ini, teman-teman seangkatan di pesantren sering membicarakan secara 'dangkal' tentang rencana reunian. Berbagai macam alasan dikemukakan. Memperingati satu dekade sebagai alumni menjadi isu pertama. Kedua menyusul isu karena pertemuan reuni terakhir terjadi ketika tahun 2003. Itu berarti, sudah setengah dekade juga belum ada lagi pertemuan resmi yang bernama reuni.

Sinis-skeptisku muncul. Reuni lantas aku jadikan sebagai nostalgia aneh yang ingin terus menerus selalu diulangi. Membicarakan masa lalu dengan canda dan tak jarang cemooh. Tiap tahun seperti itu. Berulang dan terus. Minoritas yang bisa menganggap kejadian itu adalah ekstase tersendiri yang sarat manfaat. selebihnya merasa sia-sia.

Jauh di dalam hati, aku juga ingin mengadakan acara itu. Tapi kapan dan seperti apa, aku gak mau membayangkannya sekarang ini.

kolektor semester

ujung.

Dini hari. Kantuk kian jauh. Dan irama jantung pun kian berdegup kencang karena pengaruh kopi yang dikonsumsi dengan sangat durjana. Bagaimana tidak, jika sepagian tadi sampai sekarang *pagi lagi* sudah hampir tujuh gelas tandas. Itu yang murni aku konsumsi sendiri. Belum yang diminum secara berbarengan dengan teman ngobrol. Sehingga membuat adrenalin terpompa tanpa ampun, menyisakan kantung mata yang sungguh tak enak dipandang. Memberat seperti lemak yang bergelambir di sisi perut yang sering jadi pergunjingan para perempuan. Kebanyakan perempuan maksudnya.

Sempat kulayangkan sebuah pesan untuk sang bintang. Berisi katakata biasa namun realistis. Entah pesan itu langsung terbaca atau tidak aku tak ambil pusing. Entah dia mengerti apa yang kumaksudkan atau tidak, aku tak peduli *meski sebetulnya sangat peduli*.

Memang seperti ini kerjaan mahasiswa ujung banget. Sengaja tidak memakai istilah ujung tanduk karena takutnya dapat dilema. Sengaja juga tidak memakai istilah ujung jalan karena agnes monica takut minta royalti judul lagunya dipakai di tulisan ini. *Baydewey, ternyata Agnes itu seorang artis yang sangat tinggi libidonya dari semenjak kecil, loh. Masalahnya kita semua tahu dari semenjak kemunculannya di tv, beliau udah gembar-gembor pengen kawin. Terbukti dengan nama belakangnya; Agnes Monikah!

Tuh kan, barusan juga kerjaan mahasiswa ujung yang ga ada kerjaan banget. Terus, mana yang kerjaan dan mana yang bukan kerjaan?

Mahasiswa ujung kebanyakan adalah mahasiswa kri(t/s)is yang tak tahu umur dan tak tahu diri. Mereka *aku* bisa mengkritisi segala macam yang berlaku dikampus bahkan di negara dan dunia, tapi sudah sulit untuk memberikan aspirasi secara langsung. Bisa melihat apa yang kurang dan dibutuhkan oleh para mahasiswa, masyarakat dan keadaan tanpa bisa berbuat banyak. Apalagi yang ada hubungannya dengan kelas. Karena kelas dan suasananya adalah hal paling cawokah untuk diungkit bagi para ujungers!

Tapi diakui atau tidak, suasana kelas memang suatu hal yang sangat paling ingin sekali banget diulangi oleh para mahasiswa ujung. Minimalnya menurut aku. Rindu akan segala kegiatan yang tak sedikit menguras peluh dan keluh. Dari diskusi yang paling bohay atau bete sampai dengan dosen yang seenaknya mengubah jadwal kuliah. Dari peserta kuliah paling banyak sampai segelintir peserta yang mengikuti *peserta..?, emangnya ini idol-idolan?! damn, i don’t wanna be idol wanna be!*. Dan segala macam dan segala macam dan segala akhwatuha.

Aku pikir, siapapun orangnya, mahasiswa ujung itu, pasti akan setuju dengan pendapat aku ini. Tak perduli dia demonstran sekelas Hugo Chavez *Chavez mahasiswa kitu?*, seniman mirip Andy Warhol, atlet sehebat Icuk, enviromentalist layaknya Abah Iwan atau agamawan berat sekaliber Habib Riziq, niscaya akan punya pengalaman hebredz akan indahnya masa perkuliahan (atau sederajat. Masalahnya aku ga tau mereka semua kuliah atau tidak). Hanya saja, titel ujung itulah yang kadang membuat kita *aku* menjadi jumawa dan tak tahu diri juga tak tahu waktu dan tak tahu umur dan tak tahu semester dan tak tahu kajur dan tak tahu sekjur dan tak tahu spp dan tak tahu kenapa…(?)

Ujung berarti juga akhir atau sekarat atau koma atau kritis. Hal yang sangat erat kaitannya dengan yang namanya perpisahan. Meski sebetulnya hakikat BERPISAH UNTUK BERTEMU dan sebaliknya; UMETREB KUTNU HASIPREB. HIDUP UNTUK MATI dan sebaliknya juga; ITAM KUTNU PUDIH! Perpisahan yang mana kita *eh, aku* tahu adalah masa dimana pikiran akan terkuras habis dengan evaluasi diri yang memuncak dan apa yang kiranya akan terjadi di kemudian.

Maka dari itu aku sekarang hanya ingin, sebisa mungkin mengenang apa yang telah teralami sebagai evaluasi juga sekaligus harapan untuk masa yang akan datang. Aku akan selalu ingat bagaimana culunnya aku ketika memasuki awal kuliah. Berbekal segala kekerenan yang berbatas tipis dengan kekampringan yang aku bawa, akhirnya tertatap juga dunia kampus. Segondol doa orangtua, orang dekat dan orang tak terlalu dekat terselip dalam dompet langkah. Mengiringi segala desah yang tak selamanya lengang dan mulus.

Beberapa tahun dijalani, tak mungkin lupa mana matakuliah/dosen yang paling terfavorit pisan sampai yang paling muak bete bin nista. Teman seperjuangan yang dengan berbagai cara mereka berjuang, tapi tetap satu tujuan. Dari diskusi yang sangat ilmiah melebihi rumitnya memecahkan teori neuron prototipe anastasi kataton monolog dongue *aya kitu?*, sampai diskusi yang paling ATAH ADOL yang pernah terjadi di muka bumi demi menentukan panjang mana antara ekor tikus dan ekor kuda. Dari obrolan hubungan ayat dengan fenomena yang terjadi, sampai obrolan *maap* bokep lokal teraptudet. Dan sederet pengalaman lain yang tak mungkin bisa muat jika harus dituliskan disini satu persatu.

Maka dari itu…*eh, aku atawa kami,nya..?ah, aku we lah keur nu ieu mah*, aku mohon kepada siapapun yang pernah sama-sama mengalami (teman, dosen dan siapapun) untuk tetap bisa mengenangku dengan segala super keterbatasanku. Niatku sedikitpun tak terlintas untuk jadi tercela. Mohon kelapangannya untuk tetap mendukungku menjadi apa yang aku cita-citakan. Adapun yang jadi permasalahan adalah pencapaian. Tak semua orang sama. Jangan pernah jera untuk ingatkan aku bahwa proses untuk sebuah kedewasaan itu sangat perih dan radikal.

Aku mohon…


Dari highlander.
Thanxlovesorry.embrace…